Banyak orang yang
mengatakan “Syukur” terhadap apa yang telah ada dan apa yang telah terjadi.
Namun, disisi lain, kita juga sering mendengar bahwa mereka mengatakan “aku
ingin
mobil baru” atau “aku ingin rumah mewah” atau “aku ingin menjadi artis terkenal”, dan sebagainya. Sungguh, sebenarnya mereka membohongi diri mereka sendiri. Bila mereka benar- benar bersyukur, seharus nya mereka tidak mengatakan hal tersebut. seharus nya mereka tidak menginginkan hal tersebut. Banyak orang yang rajin berdoa, namun sedikit dari mereka yang rajin berusaha. Apakah setelah anda berdoa, lalu tiba- tiba anda kejatuhan uang tunai dari langit?. Banyak orang yang beribadah, namun banyak pula di antara mereka yang bertingkah laku tidak baik.
mobil baru” atau “aku ingin rumah mewah” atau “aku ingin menjadi artis terkenal”, dan sebagainya. Sungguh, sebenarnya mereka membohongi diri mereka sendiri. Bila mereka benar- benar bersyukur, seharus nya mereka tidak mengatakan hal tersebut. seharus nya mereka tidak menginginkan hal tersebut. Banyak orang yang rajin berdoa, namun sedikit dari mereka yang rajin berusaha. Apakah setelah anda berdoa, lalu tiba- tiba anda kejatuhan uang tunai dari langit?. Banyak orang yang beribadah, namun banyak pula di antara mereka yang bertingkah laku tidak baik.
Kebodohan adalah
sumber musibah. Kebodohan terjadi karena ketidak tahuan. Ketidak tahuan
disebabkan karena tidak berminatnya seseorang untuk menambah ilmu pengetahuan
nya. Mereka tidak suka belajar sesuatu hal yang baru, karena mereka selalu
mensyukuri apa yang ada, apa yang telah terjadi. Karena perasaan syukur yang
sempit itulah mereka selalu terjerat dalam kebodohan. Semakin lama, ilmu
pengetahuan dan teknologi semakin berkembang pesat. Orang- orang berusaha,
berjuang dan berlomba- lomba untuk menemukan sesuatu hal yang baru, yang lebih
berguna untuk kepentingan manusia di muka bumi ini. Sesungguhnya, mereka yang
berusaha adalah orang- orang yang telah menyadari, bahwa rasa syukur –yang
sempit- itulah yang menyebabkan manusia jatuh dalam kemiskinan dan penderitaan.
Mereka tahu, setiap manusia di anugrahi cita- cita. Bila tidak, seorang ibu
tidak akan menyusui anaknya, dan manusia tidak akan mau menanam pohon untuk
melestarikan kehidupan bumi ini.
Orang- orang yang
berfikiran sempit mengatakan, bahwa orang yang mengejar harta duniawi adalah
orang yang tamak dan rakus. Mereka menyebut nya sebagai “ketamakan”. Tapi,
orang- orang yang fikiran nya terbuka, mengatakan bahwa itu adalah sebuah
keinginan yang wajar. Setiap orang menginginkan sesuatu hal yang lebih baik
dari sebelumnya. Orang- orang yang berfikiran sempit selalu hidup dalam
kemiskinan dan penderitaan. Karena mereka tidak mau membuka fikiran mereka
untuk memperoleh wawasan yang baru. Karena mereka meyakini bahwa bersyukur –dalam
arti sempit- adalah sesuatu hal yang harus di lakukan seorang manusia. Mereka
malas belajar, karena mensyukuri apa yang telah terjadi. Dalam derita dan
kemiskinan, kita melihat orang- orang yang kekurangan gizi, sering terjadi
tawuran, perkelahian, dan banyak orang menjadi gila karena alasan ekonomi.
Budaya syukur
sebenarnya adalah racun yang di tanamkan oleh penjajah belanda, yang karena
terlalu kuat nya, masih bisa bertahan sampai sekarang. Belanda ingin menguasai,
dan memonopoli semua yang ada di indonesia. Meraup sebanyak- banyak nya untuk
mereka, dan meberikan sedikit- dikit nya (bahkan sampai tidak ada yang tersisa)
untuk masyarakat pribumi. Agar rakyat pribumi (masyarakat indonesia dulu) tidak
bergejolak dan memberontak karena Belanda mengambil kekayaan alam negara kita,
maka mereka menyuntikan apa yang kita sebut sebagai sebuah dokrin buruk, yaitu
syukur –dalam arti yang sempit. Para ulama, para pastur dan tokoh masyarakat di
suap oleh pemerintahan kolonial Belanda, kemudian mereka –tokoh ulama tadi-
mengatakan, “Apapun yang di lakukan oleh Belanda terhadap kita, kita harus
bersyukur. Walaupun Belanda mengambil harta kita, walaupun mereka memperkosa
anak gadis kita, walaupun mereka membunuh orang tua kita, kita harus tetap
bersyukur. Tidak perlu melawan mereka, karena Tuhan akan membalas mereka kelak,
dan kita akan mendapat penggantinya yang lebih indah di akhirat nanti”. Ya,
karena kata- kata itulah Belanda berhasil menjajah kita selama 3,5 Abad. Karena
itulah masyarakat Indonesia masih terbelakang, bodoh dan sengsara.
Apakah dengan hal
ini, masihkah kita bersikap syukur?. Sungguh, tidak mudah mengubah pandangan
kita terhadap hal ini. Tidak bersyukur?. Pasti semua orang akan memusuhi kita
karena kita mengatakan hal itu. Karena masyarakat kita masih teracuni oleh
ajaran buruk Belanda. Karena racun itu masih tersisa. Mereka –orang yang
mungkin menganggap kita aneh karena tidak melakukan syukur, saya pastikan tidak
akan mengalami kemajuan yang berarti dalam hidup nya. Bilapun mereka berhasil
sukses dengan bersyukur, mereka pasti bisa sukses karena keberuntungan saja.
Ini hanya sebuah logika sederhana saja, “siapa saja yang melakukan sesuatu
dengan tidak serius, tidak akan mendapatkan apa yang di inginkan nya”. Coba
anda menabung, tapi tidak serius melakukan nya, pasti tabungan anda tidak akan
penuh karena anda selalu mengambil tabungan anda. Itu karena anda tidak serius
(tidak berkomitmen) terhadap apa yang anda lakukan. Kita hanya perlu tabah, dan
benar- benar menggenggam erat idealisme mutlak kita, terhadap apa yang kita
yakini, dan terhadap apa yang memang akan membawa kita kepada sesuatu hal yang
lebih baik. Dan tentu saja, memberi jalan keluar dan harapan baru bagi semua
orang di negri ini. Bersyukur namun tidak melangkah maju adalah awal bencana.
Bersyukur dalam arti sempit adalah sesuatu yang buruk.


0 comments:
Posting Komentar