Tampilkan postingan dengan label Artikel Pertengahan Tahun 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pertengahan Tahun 2013. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2013

Kegagalan Perusahaan Pertama Saya

KISAH PENGALAMAN NYATA DARI SAYA KETIKA SAYA MENDIRIKAN PERUSAHAAN DAN ANALISA PENYEBAB KEGAGALAN NYA.

Artikel ini Membahas Tentang:
Tujuan saya mendirikan perusahaan. Saya memandang bahwa pendidikan formal di Indonesia tidak terlalu bagus. Memulai sebuah riset bisnis kecil. Rekomendasi dari ayah adik angkat saya untuk tidak perlu keluar dari pekerjaan rutin, untuk memulai sebuah bisnis organisasi. Alasan lebih baik tetap bekerja di dalam sebuah perusahaan. Mulai belajar dari buku yang saya beli. Menjadi anggota forum di berbagai situs startup bisnis. Riset pembuatan prototype produk yang sangat sulit. Bergabung ke organisasi pemasaran software Amerika. Melakukan riset marketing, untuk mempersiapkan peluncuran produk. Mendapatkan investor hanya denan 3 X demonstrasi. Nasib sial karena di pindah ke departemen yang sangat kacau. Keadaan perusahaan rintisan menjadi tidak terkendali. Kesalahan fatal dalam membuat produk yang buruk. Kematian startup karena kehabisan uang.

KEGAGALAN PERUSAHAAN PERTAMA SAYA.
Pencapaian tujuan besar membutuhkan ambisi yang besar juga. Itulah yang dikatakan oleh Herakles. Entah kenapa, saya sangat menyukai tantangan dan ilmu pengetahuan. Mungkin ini disebabkan oleh faktor Gen. Kakek dari Ayah saya dulu memang seorang pengusaha yang sangat sukses di masa nya. Seseorang yang penuh dengan semangat dan jiwa pantang menyerah. Tapi, karena beberapa kesalahan strategi bisnis, usaha yang dimiliki nya tumbang. Bagi saya, tujuan mendirikan sebuah bisnis/ perusahaan bukan agar saya  menjadi pemimpin puncak dan bertindak apapun tanpa di perintah. Saya siap di beri perintah dan melaksanakan perintah dari orang lain bila hal itu perlu. Bagi saya, dunia bisnis adalah tempat yang sangat menyenangkan karena selalu terdapat masalah yang harus bisa di pecahkan.

Saya kurang menyukai pendidikan formal, karena setelah saya di perkenalkan dengan Ilmu Pengetahuan Dialektika Materialism, oleh ayah dari Alexander (Adik angkat saya), dan sebuah paham filsafat Sains dasar; “Imagination is More Importan Than Knowledge”, saya merasa hanya akan membuang waktu dan tenaga saja apabila menempuh pendidikan di Indonesia. Karena, kebanyakan –meskipun tidak semua- pendidikan di negara kita, lebih bersifat teoritis dan jauh dari keadaan sesungguh nya. Meskipun saya sudah melakukan dan belajar bisnis semenjak SMP, tapi menurut saya pribadi, perjalanan bisnis besar yang saya lakukan dimulai ketika akhir tahun 2010. Ketika saya memulai riset bisnis kecil dari gaji bulanan saya bekerja dan ketika saya bergabung dengan sebuah kelompok kecil bernama Unirised, oranisasi marketing software yang berbasis di Chicago- Amerika Serikat. Ayah adik angkat saya, yang bernama Akindo, sangat menyarankan agar tidak perlu keluar dari pekerjaan tetap saya terlebih dahulu untuk memulai sebuah bisnis. Alasan nya: [1]. Gaji yang di dapatkan dari pekerjaan tetap saya, bisa di gunakan untuk melakukan riset kecil. Bisnis yang berbentuk organisasi, tidak hanya bisa di bangun dengan tekad dan modal uang yang besar. Perlu sebuah riset dan waktu untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan yang cukup, sebelum memulai perusahaan startup. [2]. Jika ingin mendirikan sebuah perusahaan (bukan bisnis “One Man One Show”) dalam jangka waktu dekat, lebih baik memulai nya dengan membangun organisasi. Bukan melakukan semua tindakan sendiri. Melakukan hal sendirian, akan membuat seseorang terpaku dengan sikap perfeksionis. Sikap perfeksionis yang di biarkan lama tumbuh, akan sangat menyulitkan perkembangan pembangunan sebuah organisasi. Dengan alasan tersebut, saya memulai sebuah riset bisnis di akhir tahun 2010.

Saya kemudian mulai mempelajari binis berbentuk organisasi dari berbagai macam buku yang saya beli di Gramedia. Setelah itu, saya merasa perlu meningkatkan pengetahuan saya dengan bergabung di berbagai macam forum Startup bisnis. Riset kecil saya yang pertama, saya mulai dengan membuat sebuah produk yang bagus. Ya, sebuah produk yang bagus sungguh tidak semudah kedengaran nya. Devinisi dari sebuah produk yang bagus, bagi saya sangat kompleks. Tidak hanya produk yang di butuhkan oleh orang, tapi saya juga harus bisa membuat prototype nya dengan prediksi keakuratan: Harga, biaya pembuatan produk, suplier komponen produk, suplier komponen alat, metode dan kesediaan SDM yang memadahi untuk bisa membuat produk tersebut, dll. Jadi maksud saya, dalam membuat sebuah produk, tidak hanya asal BISA DIBUAT. Tapi, saya juga harus menjawab pertanyaan “apakah ada suplier komponen bahan yang bisa di andalkan apabila saya membuat produk tersebut”. Jika saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, maka sudah pasti saya tidak boleh membuat produk tersebut –meskipun saya berhasil membuat sample produk nya. Karena, apabila memaksakan diri melakukan hal itu, maka saya akan menemui masalah di masa depan. Jadi, produk tersebut tidak bisa di buat dalam skala masal atau dalam jangka waktu panjang kedepan karena ketiadaan suplier bahan produk tersebut. Itu hanya sebuah contoh kecil saja dari komplikasi masalah di sisi pembuatan produk. Saya memerlukan waktu lebih dari 5 bulan untuk mempersiapkan prototype produk yang benar- benar akurat.

Dalam melakukan riset produk pun, saya juga di bantu oleh beberapa orang. Yap, orang- orang yang saya bayar dengan gaji saya bekerja, untuk membantu saya membuat prototype produk. Masalah barupun datang lagi. Mengatur dan memimpin orang- orang dalam melakukan sebuah riset, ternyata tidak bisa disamakan dengan memimpin orang- orang di tempat saja bekerja. RISET, melakukan sesuatu yang belum pasti ada hasilnya. Jika saya tidak membangun visi yang jelas dan menyuntikan dokrin tersebut kepada mereka, tindakan orang- orang yang saya gaji tidak akan bisa berhasil dengan sukses. Belum lagi saya menemui masalah perekrutan, pembuatan S.O.P, penyediaan tempat, dll. Proyek pembuatan prototype produk ini sempat terhenti selama 1 bulan. Karena beragam masalah kompleks yang muncul, yang tidak pernah saya temui, saya kemudian menghubungi ayah adik angkat saya untuk meminta saran. Saya telah membuat janji-temu dengan beliau dan saya akan ke Jakarta untuk bertemu dia 2 minggu lagi.

“Imagination is More Importan Than Science”, begitulah kalimat pembukaan ketika saya bertemu dengan ayah Alexander di rumah nya di sekitar Cibubur Juction. Beliau kemudian mengajak saya berkeliling kota bersama Alexander sambil menerangkan betapa penting nya arti kalimat tersebut –secara lebih dalam. Beliau memberikan saya essay karya Paul Graham, dan beberapa alamat situs yang membahas mengenai startup bisnis, dimana saya bisa saling bertanya jawab mengenai masalah startup kepada banyak pengusaha yang baru maupun yang berpengalaman. “Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan terlahir dari imajinasi”. Pembelajaran yang di berikan oleh ayah Alexander sangat dalam sekali. Beliau memberikan contoh pengetahuan baru, seperti; Cara bagi para ilmuan ketika mendefinisikan materi gelap luar angkasa. Proses awal keinginan manusia yang ingin ke bulan, dan banyak hal lain nya. Setelah dari pertemuan itu, saya kembali ke kota Kudus untuk mencoba menerapkan nya. Inti pokok nya; Saya tidak boleh terpaku dengan apa yang banyak orang percaya. Bahkan dari kata- kata orang besar sekalipun. Karena, keadaan yang sedang saya alami mungkin berbeda, dan karena perbedaan itulah ada beberapa hal yang butuh penyesuaian –baik itu yang harus di ubah, di tambahi ataupun di hilangkan.

Setelah 5 bulan, saya berhasil membuat prototype produk dengan bantuan 5 orang yang saya pekerjakan. Semua data tentang produk tersebut lengkap sudah. Dan tidak hanya itu, dokumentasi mengenai trail dan eror, dan filosofis pembuatan produk barupun telah berhasil saya buat. Tapi, di sesi ini, saya memang belum benar- benar menerjunkan produk ini ke pasar.

Dari salah satu forum startup bisnis yang biasa menjadi langganan saya, ada sekelompok orang dengan visi yang sama, untuk membuat sebuah perusahaan ecomerce kelas dunia. Kelompok itu sedang membutuhkan tenaga pemasaran software untuk Malaysia, Indonesia dan Filiphina. Ya, organisasi tersebut bernama Unirised, yang memiliki kantor pusat di Chicago. Menjual beragam aplikasi mobile dari para programer di Silicon Valley. Ketika melihat lowongan tersebut, saya merasa ini adalah sebuah peluang untuk belajar internet marketing secara global dan membaurkan sudut pandang saya dengan pebisnis di Amerika Serikat. Walaupun bahasa Ingris saya kurang begitu bagus, tapi sudah cukup untuk bisa mengerti apa yang Leader kami inginkan bila dia menjelaskan sesuatu melalui video, email, chat maupun panggilang telp langsung dalam bahasa Inggris. Bagusnya lagi, pekerjaan internet marketing ini bisa saya lakukan di depan laptop dalam kamar saya. Pada waktu penerimaan anggota baru, saya di undang ke Changi- Singapore untuk melakukan pendaftaran diri dan pemberian beberapa pengarahan spesifik tentang visi dan misi organisasi itu. Kami sering berkomunikasi melalui video chat, email dan forum tertutup, untuk membahas permasalahan pemasaran yang sedang terjadi. Kadang pula salah satu anggota kami membagikan pengalaman barunya dengan tujuan menambah ilmu pengetahuan semua anggota. Kami juga sering bertukar bingkisan. Saya pernah mengirimkan buah Srikaya kepada teman- teman saya di Chicago. Lebih dari 1 tahun saya melakukan kerja membangun sistem internet marketing untuk organisasi Unirised cabang Indonesia. Jadi, jadwal saya sangat padat sekali sepanjang hari. Bahkan, untuk menonton film di televisi pun, mungkin hanya 1 bulan sekali. Malangnya, organisasi Unirised ini juga melakukan penjualan sofware peretasan (Hacked Software). Saya baru mengetahui hal ini setelah 6 bulan bekerja disana. Tapi, tidak masalah juga bagi saya mengenai apa yang mereka jual, karena saya mendapatkan bagian untuk melakukan penjualan software yang legal. Bagian penjualan software peretasan dilakukan oleh Tim lain yang lebih ahli.

Masuknya saya ke organisasi Unirised, ternyata membawa saya lebih jauh lagi ke jalur bisnis ecomerce dunia. Terutama, ketika saya di beri penawaran kerja di perusahaan ecomerce bernama VK.com. Sebuah perusahaan berbasis social network terbesar di Eropa. Disana, saya bersama dengan beberapa orang dari Indonesia mendefinisikan pola aktivitas masyarakat indonesia. Hal ini berfungsi untuk mengambil strategi promosi yang bagus untuk persiapan peluncuran situs VK.com  di Indonesia. Saya juga membantu dalam proyek penterjemahan bahasa.

Suatu pagi, saya mendapatkan email mengejutkan. Pemerintah Amerika melalui departemen Customer Protection, sedang melakukan pengadilan terhadap aktivitas yang organisasi kami lakukan. Tuduhan yang di lontarkan adalah “Penjualan Barang Ilegal (Software Peretasan)”. Aktivitas kami terhenti saat itu juga. Seminggu kemudian, organisasi kami dilarang melakukan aktivitas lagi. Seluruh jaringan yang telah saya dan anggota kami bangun, di bekukan semua. Ancaman pemerintah Amerika di lontarkan kepada semua anggota; jika ada yang masih melakukan aktivitas yang berhubungan dengan Unirised, akan di jatuhi hukuman pidana. Pada tanggal 9 Mei 2012, Unirised resmi bubar.

Saya melanjutkan aktivitas saya di kota kecil ini, dan masih bekerja di perusahaan pembuat rokok PT. Djarum. Saya sama sekali tidak berkata apapun kepada rekan- rekan kerja saya tentang aktivitas saya di luar. Saya mencoba melakukan hal yang baik dan menjadi orang yang melakukan semua tugas perusahaan dengan baik. Hanya itu. Tapi, diluar saya mencoba untuk membuat perubahan besar dan melawan status quo. Sekarang, di benak saya ada dua basic bisnis. Perusahaan manufacture dan ecomerce. Karena merasa memiliki pengetahuan yang cukup banyak mengenai internet marketing, saya kemudian melakukan beberapa riset dan melakukan pembangunan jaringan awal internet marketing. Di satu sisi yang lain, saya pula melakukan riset pemasaran produk manufaktur. Hari- hari saya selalu dipenuhi dengan aktivitas yang padat. Mulai melakukan pekerjaan rutin di perusahaan saya, melakukan riset dan pembangunan jaringan di basic ecomerce dan juga di basic manufaktur. Saya sempat mengalami tekanan yang besar waktu itu. Untung saja ayah Alexander selalu memberi saya banyak ilmu engetahuan guna melakukan pengendalian diri yang baik, sehingga saya bisa terhindar dari penyakit GILA.

Sungguh, semua nya tidak seperti banyak kisah yang saya sering baca dari buku maupun media elektronik tentang orang- orang sukses, yang bekerja keras memperjuangkan sesuatu, kemudian berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keadaan menjadi sangat sulit ketika saya sering dihadapkan dengan jalan yang benar- benar buntu. Untung saja saya tergabung dengan banyak komunitas di berbagai forum, yang dimana anggota- anggota nya saling mensuport satu sama lain. Saya benar- benar membuka fikiran saya terhadap sesuatu yang baru. Forum di Rusia, China dan Amerika lah yang banyak memberikan saya masukan yang begitu besar, terlebih mengenai filsafat, filosofi ilmu pengetahuan dan bisnis ecomerce. Dari itu semua, barulah saya menyadari bahwa dunia ini sungguh sangat luas dan beragam. Masa- masa sulit bagi saya adalah menelaah tentang perbedaan besar, antara latar belakang saya dari keluarga biasa di sebuah negara berkembang (Indonesia), dengan sudut pandang para pebisnis di Amerika dan Filosofi ilmu pengetahuan dari Rusia dan China. Ayah adik angkat saya memberikan banyak akses untuk menuju ke dunia luar yang begitu luas. Beliau memperkenalkan saya kepada teman- teman nya yang memiliki pengalaman yang banyak.

Singkat cerita, saya akhirnya berhasil membuat prototype produk lengkap dengan model bisnis nya. Saya merasa telah memiliki kemampuan pengendalian diri yang cukup, pengetahuan pengelolaan terhadap bisnis manufaktur dan banyak rekan di luar negri yang siap menjadi penasehat untuk saya. Prototype produk saya kali ini adalah sebuah produk pisau, yang akan saya pasarkan ke berbagai toko di profinsi Jawa Barat. Dengan membawa prototype produk tersebut, saya kemudian memberikan demo kepada para investor di Jakarta. Tidak sulit bagi saya untuk melakukan penggalangan dana. Saya berhasil mendapatkan dana sebesar 200 juta, hanya dengan 3 X demo di hadapan calon investor. Mungkin nilai 200 juta tidak begitu besar jika di bandingkan dengan modal awal pendirian Perseroan Terbatas (PT). Tapi, tujuan saya adalah membuat pijakan sistem bisnis yang kuat untuk menggalang dana lebih besar lagi. Tentu saja tujuan saya yang utama adalah mendirikan perusahaan yang bernilai 1 juta dollar.

Menjalankan perusahaan di tahap awal (startup)... Saya sungguh sangat berhati- hati sekali. Banyak meta-kenyataan (halusinasi keadaan) yang kerap muncul. Hal itu sangat berbahaya bagi perkembangan sebuah janin perusahaan rintisan. Saya tidak boleh gegabah dalam menentukan manuver perusahaan startup ini. Meskipun saya baru memiliki karyawan berjumlah 10 orang –dan lebih banyak lagi orang- orang yang saya pekerjakan dengan sistem kontrak, situasinya tidak semudah seperti mengelola orang- orang di tempat saya bekerja. Saya harus menanamkan visi dan misi, dan juga kebersamaan yang sangat kuat dalam lingkungan perusahaan rintisan ini. Sayapun harus benar- benar bertindak tegas, apabila terdapat orang yang tidak mampu berjalan sesuai dengan visi perusahaan rintisan saya. Saya benar- benar menuntut keberhasilan dari semua anggota. Terlebih, dari para anggota yang memegang peranan kunci. Di tempat saya bekerja (PT. Djarum), mengkoordinasi orang- orang dengan baik sudah cukup membuat semuanya beres. Visi dan misi tidak perlu di tanamkan sekuat di perusahaan rintisan.

Awal pembangunan organisasi, saya mulai memasang spanduk lowongan kerja di jalan untuk melakukan perekrutan, memilih orang- orang yang bisa di andalkan, mengajari cara mereka bertindak, memberikan deskripsi tugas yang jelas, dan lain lain. Tidak ada masalah yang cukup berarti sampai di langkah ini. Hingga, semua sistem dan organisasi telah siap di gerakan, tibalah saatnya melakukan aksi PELUNCURAN PRODUK ke pasar. Di masa itu, saya masih tetap bekerja di perusahaan saya dan juga masih melakukan riset di jalur bisnis ecomerce. Saya telah memprediksi semua hal ini; meskipun saya melakukan banyak tindakan yang berbeda, tapi saya merasa masih merasa mampu untuk mengendalikan semua hal ini. Tapi, SIAL-nya, tiba- tiba pihak perusahaan saya memindah tugaskan saya ke departemen lain. Sebuah departemen yang menurut saya sangat primitif dan anarkis. Atasan saya memindahkan saya agar saya bisa memberikan contoh yang baik kepada orang- orang disana tentang BAGAIMANA BUDAYA KERJA YANG BENAR. Saya sudah merasa ini adalah hal yang buruk. Tapi, bukan sifat saya untuk menolak perintah atasan. Dengan setengah hati, saya menyetujui permintaan tersebut.

NASIB BURUK kembali menimpa saya. Setelah saya masuk ke departemen itu, orang- orang disana memiliki sifat yang lebih buruk dari yang saya duga. Sebuah sifat anarkhis. Ancaman fisik sering sekali di tujukan kepada saya. dan lebih buruk lagi; kepala bagian (atasan saya) di departemen yang baru ini, memiliki sikap acuh dan kolot. Dia memang menginginkan perubahan kondisi di departemen nya, tapi tidak mau melakukan tindakan nyata. Dia memang mensuport saya, tapi itu hanya sebatas UCAPAN. Tidak ada perubahan tindakan yang dia lakukan, dan dia juga enggan melakukan perubahan. Banyak orang menentang tindakan saya. Orang- orang di departemen tersebut, ingin bekerja dengan santai, dengan metode yang serampangan, dan tidak mau terkekang oleh sebuah aturan yang baku. Sedangkan saya pribadi, membenci sebuah tindakan yang tidak terkoordinasi.

Saya seakan- akan merasa mundur ke sebuah peradaban yang lama. Sebuah keadaan di pertengahan tahun 90-an, dimana sebuah organisasi melakukan semua tindakan dengan serampangan. Hal yang paling membuat saya penuh tekanan adalah; banyaknya ancaman fisik dan terlalu besar sudah kerusakan yang terjadi di departemen itu. Untuk memperbaikinya, diperlukan sebuah kekuatan ekstra besar. Disisi lain, saya harus mengurus perusahaan rintisan saya. Karena tekanan di departemen yang primitif itu, saya sering jatuh sakit. Berat badan saya turun 10 Kg. Riset yang saya lakukan di basic ecomerce dan manajemen di perusahaan rintisan menjadi tidak terkendali. Fikiran menjadi tidak jernih dalam memutuskan banyak hal. Dalam keadaan yang kacau itu, ternyata hasil penjualan tidak sebagus yang saya prediksi. Uang budget yang tersisa, saya alihkan untuk melakukan riset pembuatan produk baru dengan terburu- buru, guna mendongkrak penjualan. Ya, banyak keputusan yang tidak jernih saya lakukan dalam keadaan yang sangat kacau itu. Meskipun saya telah berhasil membuat produk saya yang kedua, ternyata setelah saya melakukan peluncuran produk tersebut, hasil penjualan nya sangat buruk. Semua budget telah habis saya gunakan untuk pembuatan produk kedua. Tidak ada lagi aliran dana untuk menggerakan organisasi. Akhirnya, dalam kurun waktu hanya 2 bulan, dana investor sebesar 200 juta telah HABIS. Yang artinya, itu menandakan kematian perusahaan startup saya. Semua produk yang telah kami buat, tidak laku di jual dengan harga di bawah harga pasar. Terpaksa kami menjualnya dengan harga yang sangat murah. Semua aset perusahaan rintisan kami jual, dan semuanya hanya menghasilkan uang 68 juta, yang kemudian saya kembalikan lagi kepada investor.

Banyaknya uang yang habis dikarenakan pembuatan riset dan pengembangan produk baru yang kedua. Faktor yang lain nya, produk yang kedua bukanlah sebuah produk yang bagus, sehingga sangat sulit melakukan penjualan meskipun kami jual dengan harga di bawah standart pasar. Well, fikiran itu seperti parasut. Dia tidak akan bekerja jika tidak terbuka. Pembuatan produk baru di bawah tekanan fikiran, akan menghasilkan banyak halusinasi yang berbahaya. Karena, produk adalah kekuatan utama yang membuat perusahaan bisa survived. Membuat produk yang jelek, sudah pasti itu sebuah tanda kematian perusahaan.

Sekiranya cukup sekian, review yang saya lakukan jika saya memandang ke belakang untuk mencoba belajar dari kesalahan. Tapi, semua itu menurut saya bukan kesalahan telak saya. Kegagalan itu, terutama lebih disebabkan karena saya SIAL. Sekarang, saya sedang menikmati kehidupan ini dengan membeli berbagai makanan yang saya suka dan pergi ke cafe favorit saya. Mencoba melupakan masa lalu, dan menentukan langkah kedepan apa yang ingin saya ambil. 2 tahun lebih perjalanan saya tanpa henti membangun perusahaan rintisan yang sangat berliku. Dengan semangat pantang menyerah yang saya miliki, tapi ternyata nasib tidak mengijinkan saya menjadi seperti Thomas Alva Edison.

Minggu, 12 Mei 2013

Kisah Saya Bertemu Kebahagiaan di Sebuah Keluarga Baru.

MEET WITH ALEXANDER FRANSESCA.

Artikel ini membahas tentang:
Rencana awal ketika berlibur ke Cububur Juction. Kecelakaan parah di depan mata. Orang- orang yang sangat acuh dengan anak kecil yang terluka parah. Membawa anak kecil yang kecelakaan tersebut ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur. Setelah dia siuman, dia mengatakan “Nama Saiya Alexa”. Tidak jadi berkunjung ke rumah teman saya karena harus merawat Alexander. Mencari alamat orang tua Alexa dengan GPS. Sang ibu yang histeris melihat anaknya masih ada. Perkenalan saya dengan keluarga Alexa. Alexa meminta saya menjadi kakak nya. Pulang ke Kudus dengan pesawat terbang karena waktu cuti sudah hampir habis. Keluarga baru saya di Jakarta.

KISAH SAYA BERTEMU KEBAHAGIAAN DI SEBUAH KELUARGA BARU.

Pada bulan Juni 2010, saya sedang berencana untuk jalan- jalan ke rumah teman akrab saya sewaktu SMK di kota Jakarta yang bernama Randy Estava. Saya sudah mengambil cuti 4 hari untuk melakukan liburan ini. Setelah sampai di Cibubur Juction, saya sedang duduk- duduk di sebuah halte, tiba- tiba saja terjadi kecelakaan tepat di depan mata saya. Salah seorang anak
kecil tertabrak sepeda motor yang melaju dengan kencang. Dan orang yang menabrak nya langsung lari. Banyak orang yang berkerumun menyaksikan kecelakaan itu. Saya juga ikut menyaksikan nya. Ternyata seorang anak SMP sedang bersimbah darah dan hampir tak sadarkan diri terkapar di pinggir jalan. Tapi anehnya, orang- orang yang menyaksikan kejadian itu tidak melakukan tindakan apapun. Mereka seakan- akan menunggu polisi datang untuk membereskan kecelakaan lalu lintas itu. Tidak ada satupun orang di tempat itu yang mengetahui identitas anak yang tertabrak itu. Tidak ada idenstitas sama sekali yang di temukan (baik nomor handphone maupun identitas lain di dompet). Saya melihat anak itu sedang hampir sekarat, dan sungguh saya tidak tega dengan kondisinya. Saya coba mendekati anak itu, memegang tubuhnya dan melihat kondisinya lebih jauh lagi. Dia masih bernafas. Tapi dia bersimbah darah banyak sekali. Saya berteriak kepada orang- orang sekitar, “Pak, ada yang kenal anak ini?”, “Ada keluarga yang bisa di hubungi dari anak ini?”. Tapi orang- orang disekitar kejadian itupun sama sekali tidak ada yang merespon dengan serius. Malah beberapa orang mengatakan “Udaah, nunggu polisi datang aja buat beresin hal ini”. Melihat tidak ada sama sekali orang yang simpati, saya langsung mengangkat tubuh anak kecil itu, dan dengan nekat saya memberhentikan mobil. Mobil pertama yang saya coba berhentikan, malah hampir menabrak saya. Untunglah mobil kedua mau berhenti dan mengantar saya dan anak itu ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur.

Setelah sampai di rumah sakit, saya langsung mengantar anak itu ke UGD. Ketika di tanya oleh resepsionis, saya mengatakan saja bahwa “ini adalah adik saya”. Setelah menunggu dengan was- was kondisi anak itu, satu jam kemudian seorang suster melaporkan bahwa “Pak, adik Anda bisa diselamatkan, tapi kondisinya masih belum sadar penuh. Bapak bisa melihatnya sekarang”. “Oh, ya mbak. Makasih ya. Di kamar mana dia di rawat sekarang?”, tanya ku kepada suster tersebut. “Di Kamar Bonanza, nomor 16. Mohon juga tandatangai terlebih dahulu rincian nota biaya awal rawat inap ini dan silakan melakukan pembayaran awal nya di kasir”, jawab suster tersebut. Ketika saya lihat total biaya awal nya, Saya sangat kaget. Tertera biaya Rp. 15 juta lebih. Saya saat itu memang memiliki tabungan sebesar itu, tapi bila saya gunakan, saya sudah tidak memiliki tabungan lagi. Saya masih ragu untuk melakukan pembayaran biaya di muka tersebut. Karena saya juga takut, jika biaya dimuka nya saja sebesar itu, bagaimana biaya total nya nanti ketika rawat inap nya selesai. Dengan penuh kebingungan, saya tandatangani saja nota biaya awal tersebut dan melangkah menuju ATM Mandiri terdekat untuk mengambil uang.

Uang telah saya ambil. Saya melihat saldo uang saya di ATM sekarang kurang dari 1 juta. Dengan perasaan yang tidak tahu bagaimana, saya berikan semua uang tabungan saya kepada petugas kasir. Setelah itu, saya ke ruangan tempat dimana anak tersebut dirawat. Saya lihat anak itu sedang memakai selang oksigen bantuan. Kepalanya di perban. Ada darah yang menembus perban tersebut. Saya lihat wajah nya, ‘Oooh dia sangat manis sekali. Kulitnya putih. Pasti dia keturunan tionghoa’. Pada waktu itu, dia belum bisa bicara. Tapi, dia masih bisa melihat. Saya pegang tangan nya, dan mengatakan “Semoga cepat sembuh ya, hati- hati lagi kalau di jalan”. Saya lihat dia tersenyum tipis, dan membalas meremas tangan ku, walau balasan remasan tangan nya masih lemas.

Saya kemudian menghubungi teman saya yang di Jakarta, dan mengatakan kalao saya tidak jadi berkunjung. Tapi saya tidak mengatakan alasan sebenarnya bahwa saya harus menemani anak kecil ini sehari penuh. Dengan terpaksa rencana liburan saya kubatalkan. Tapi, tidak apa, karena saya merasa melakukan sebuah kebaikan dan saya lebih menyukai nya. Ketika sarapan pagi datang, saya suapin anak itu. Ketika ke toilet, saya antar dia. Ketika butuh sesuatu, saya mengambilkan dan mencarikan nya untuknya. Malam haripun, saya tidur di samping dia, agar kalau ada apa- apa, saya bisa mengambilkan/ melakukan nya untuk nya. Pada hari kedua, dia sudah bisa berbicara. Pertama kali dia berbicara, dia mengatakan “Terimakasih ya kak, nama saiya Alexander. Nama kakak siapa?”. Kita kemudian banyak mengobrol. Lalu, saya tanya alamat rumah anak itu. Karena tidak ada nomor telp keluarga atau saudara atau teman yang dia ingat, saya pun lalu mencari alamat yang di berikan oleh Alexander tersebut. Ternyata, jarak rumah nya cukup jauh dari lokasi rumah sakit. Sekitar 10 Km. Tapi, karena hari hampir larut malam, saya berencana melakukan pencarian esok pagi saja.

Keseokan harinya, pada hari ketiga, saya mulai mencari alamat rumah yang di berikan oleh Alexander. Saya dengan cukup mudah menemukan alamatnya berkat bantuan Google Maps di smartphone yang saya bawa. Untung saja saya melakukan pencarian di waktu pagi hari. Jadi, suasananya tidak terlalu panas. Setelah tanya beberapa orang, saya kemudian sampai di rumah Alexander. Rumah nya sangat besar, tapi tampak dari luar bukan rumah yang mewah. Lebih tepatnya, rumah itu terlihat seperti model rumah tertutup. Saya tekan bel rumah itu beberapa kali. Setelah menunggu cukup lama (hampir 10 menit), tiba- tiba terdengar suara dari speaker intercom yang di pasang di luar rumah. “Cari Siapa?”. Saya lalu menjawab “Apakah benar ini rumah orang tua Alexander Fransesca yang berumur 10 tahun?”. “Anda siapa?, ada perlu apa anda kesini?, Anda dari pihak mana?”, begitulah suara jawaban dari intercom tersebut yang seakan- akan akan dipenuhi dengan kecurigaan. “Nama saya Willy. Saya bukan dari pihak manapun. Tapi, saya kemarin membawa Alexander ke rumah sakit karena terjadi kecelakaan lalu lintas kepada nya”. Tiba- tiba terdengar suara yang sangat histeris dari speaker intercom tersebut. “Tunggu... Saya akan keluar menemui Anda”. Lalu, seorang wanita keluar membuka pintu utama rumah itu. lalu, dengan sangat penasaran, wanita itu bertanya banyak hal kepada saya. Ternyata, wanita itu adalah ibu Alexander. Namanya Syaharani. Ibu alexander pun langsung mengeluarkan mobil dan menuju ke rumah sakit bersama saya.

Ketika meilihat kondisi Alexander, ibunya langsung menjerit dan menangis. Dia mengucapkan puji syukur berkali- kali kepada Tuhan karena anaknya ternyata masih ada dan selamat. Lalu, saya dan ibu Alexander pun mengobrol banyak hal. Pada waktu itu, Alexander sudah bisa bicara dengan lancar. Dan ternyata, Alexander adalah tipe anak yang suka banyak berbicara. Di depan ibunya, dia menceritakan kisah saya ketika menolong nya “Mah, kak Willy ini mah yang telah menyelamatkan ku. Kakak membawa ku ke rumah sakit ketika gak ada orang lain mau menolong. Kak Willy menghentikan mobil dan hampir tertabrak hanya karena agar aku bisa cepat di rawat di rumah sakit”. Dan... Bla... bla... bla.... Begitulah sekiranya Alexander kalau cerita. Mamah nya tersenyum sangat senang melihat cerita Alexander. Sedangkan diriku, agak malu seakan- akan di promosikan karena hal yang telah ku lakukan. Kemudian, dengan alasan ingin mencari makan, saya keluar dari ruangan itu agar mamah Alexander bisa mengobrol banyak dengan anak tercinta nya.

Setelah selesai makan sore dan jalan- jalan sendirian ke sekeliling rumah sakit, saya kemudian kembali ke ruangan Alexander. Tiba- tiba terlihat sosok lelaki yang sedang ada di samping Alexander. “Pah, ini kak Willy pah yang udah menyelamatkan aku dan merawat ku”. Dengan segera laki- laki itu menjabat tangan ku dan berterimakasih sedalam- dalam nya karena tindakan yang telah ku lakukan. Saya dan keluarga Alexander pun kemudian mengobrol banyak hal. Dari mulai pekerjaan saya, umur saya, tempat tinggal saya, dll. Papah Alexander pun kemudian berkata “Terimakasih atas kebaikan yang Anda lakukan kepada Anak kami. Dia adalah satu- satunya buah hati yang kami miliki di dunia ini. Berapa nomor rekening Anda, biar saya ganti biaya awal rumah sakit yang kamu keluarkan?”. Saya kemudian memberikan nomor rekening saya, dan seketika papah Alexander mentransfer sebuah saldo ke rekening saya. Ternyata papah Alexander baru saja pulang dari Beijing karena mendengar kabar tentang Alexander. Papah nya adalah seorang Manajer di Bank of China.  Dia bertanggung jawab terhadap seluruh operasional jaringan Bank tersebut di kawasan Asia Tenggara.

Kami sempat makan malam bersama di ruangan tempat Alexander di rawat. Tiba- tiba saja, Alexander berbisik- bisik kepada mamahnya. Saya tidak tahu apa yang dia katakan, tapi kemudian mamahnya mengatakan sesuatu kepada saya. “Willy, Alexander tuh dari dulu pengen banget punya kakak. Tapi kan tidak mungkin ya !?, karena dia kan anak pertama. Nah, Willy berkenan gak kalau jadi kakak nya Alexander?”. Saya lalu tersenyum mendengar nya. Tiba- tiba saja, Alexander bilang “Ya kak ya, Jadi kakak Alexa ya. Pleese, kak Willy ya”. Sambil meminta berkali- kali, saya pun menjawab nya dengan tersenyum senang “Tentu Alexander. Kakak pun tidak punya saudara kecil di rumah. Karena kakak pun anak terakhir”. “Yees !, makasih kakak ya”, Alexander langsung memeluk ku walau tangan nya masih tertancap selang infus. Dia terlihat sangat senang sekali dengan hal itu. Setelah makan malam selesai, dan ngobrol beberapa waktu, sayapun berpamitan pulang kepada keluarga Alexander. Sebab, sayapun harus segera pulang karena cuti yang saya ambil hanya 4 hari saja.

Ketika saya mau pulang ke Kudus, papah Alexander pun membelikan tiket pesawat terbang untuk saya secara online. Aneh juga rasanya, berangkat ke Jakarta naik Bus, tapi pulang nya naik pesawat. Setelah sampai di Bandara Ahmad Yani- Semarang, saya kemudian mampir ke rumah kakak saya yang ada di kawasan Menoreh Utara- Semarang. Di pagi harinya, saya iseng untuk mengecek saldo rekening saya. Ternyata, soldo yang di transfer oleh papah Alexander sebesar 20 juta. Padahal saya hanya mengeluarkan biaya pengobatan awal untuk Alexander hanya 15 juta saja. Terjadi kelebihan 5 juta. Saya coba untuk menghubungi ayah Alexander, dan mencoba untuk mengembalikan kelebihan uang tersebut. Tapi, papah Alexander tidak mau. Saya coba untuk melakukan transfer kembali, ternyata nomor rekening Ayah Alexander tidak telah di seting agar tidak menerima saldo dari rekening saya. “Saldo 5 juta itu tidak berarti sama sekali bila saya kehilangan anak saya. Terima saja, kami bersyukur telah bertemu orang seperti Anda”. Begitulah yang di katakan oleh Ayah Alexander.

Semenjak kejadian itu, keluarga Alexander telah menganggap saya sebagai Saudara. Sebagai kakak Alexander. Setiap papah Alexander pulang dari Beijing, dia selalu menelfon saya dan membelikan tiket pesawat terbang untuk saya. Saya selalu mengambil cuti liburan jika ayah Alexander pulang. Seperti halnya waktu tanggal 15 November 2012, saya di undang papah Alexander untuk ke Jakarta. Lalu, pada bulan 11 Desember 2012 juga, saya ke rumah Alexander untuk merayakan ultah Alexander. Karena, pada waktu itu, papah dan mamah Alexander sedang pergi ke Taiwan karena suatu urusan. Bulan 1 April 2013 juga saya ke rumah Alexander, disamping saya ada pertemuan organisasi di Jakarta. Kebahagiaan yang saya rasakan, benar- benar menakjubkan. Karena, saya baru merasakan betapa menyenangkan nya memiliki seorang saudara kecil. Seorang adik cowok yang sangat suka sekali berbicara dan bermain. Jika bersama Alexander, seakan- akan semua beban yang saya miliki hilang semua. Larut di dalam sebuah kebahagiaan ketika bersama dia. Pertemuan dengan keluarga baru Alexander inilah nanti yang akan membawa saya pada sebuah dunia yang baru, dan akses ke beberapa organisasi luar negri yang sebelumnya tidap pernah saya jumpai di dalam kehidupan saya. dan yang paling mengagumkan ...!, Keluarga baru saya ini memberikan pengetahuan terhadap sebuah sudut pandang yang baru, yang akhirnya nanti membuat saya memiliki semangat tak terpatahkan (positivisme) dalam menjalani hidup di dunia ini. Kehidupan yang sebelumnya saya pandang sebagai kesalahan, kini menjadi penuh warna dan pantas untuk di perjuangkan. “Live is Like Reading Bike, to Keep Our Balance, We Must Move On !”. Itulah pelajaran kehidupan utama, yang saya dapatkan dari keluarga Alexa !.

Rabu, 08 Mei 2013

Tidak Perlu Menunggu Tua untuk Menjadi Pemimpin.

KELEBIHAN ORANG MUDA MENJADI PEMIMPIN.

Artikel ini berisi:
Tokoh muda yang menjadi pemimpin organisasi besar. Contoh budaya lama yang di gantikan budaya baru (yang menurut orang tua lama di anggap buruk namun di anggap baik oleh orang masa sekarang). Contoh keadaan sekarang dimana budaya lama tidak perlu dipakai. Contoh faktor “X” yang mempengaruhi kebudayaan lama tidak perlu di gunakan. Hal yang sebelumnya buruk bisa menjadi benar apabila ada faktor “X” yang mempengaruhinya. Filosofi pencapaian kemenangan adalah dengan melakukan hal yang berbeda. Einstein- devinisi gila adalah melakukan hal yang sama dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda. 

TIDAK PERLU MENUNGGU TUA UNTUK MENJADI PEMIMPIN.
Jerry Yang dan David Pillow menjadi President Director Yahoo Inc pada usia 22 dan 26 tahun. Sergey Brin dan Larry Page mendirikan Google Inc yang beromset Milyaran Dollar ketika masih berusia 21 dan 25 tahun. Dahulu memang, orang yang cukup tua selalu menjadi kepala sebuah organisasi, kelompok ataupun partai, karena mereka memang lebih bijak daripada yang muda, lebih banyak memakan asam garam daripada yang muda, dan lebih bersabar dari orang muda. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Yang Tua selalu memakai pakaian yang sopan dan rapi
ketika bertemu dengan tamu- tamunya. Tapi lihatlah Mark Zuckeber, dia hanya memakai Kaos ketika mempresentasikan rencana pembangunan Facebook nya kepada para Investor. lihatlah Bill Gates, dia memakai jaket tidur ketika memperkenalkan produk Window Vista pada dunia. Apakah itu salah?. Apakah itu tidak bijak?. Saya menjadi ingat motto perusahaan Google yang cukup unik, yang selalu saya ingat; “kamu tidak perlu memakai seragam ketika berangkat kerja”. Ya, semakin seseorang menetapkan banyak peraturan bagi orang lain, semakin banyak yang akan di langgar. Semakin seseorang menetapkan tujuan yang mendetail dalam cita- citanya, semakin kecil kesempatan yang dia dapatkan untuk mewujudkan nya.

Saya memerlukan waktu cukup banyak untuk mencoba menelaah alasan “mengapa hal yang sudah ada malah tidak terpakai ketika zaman telah berubah. Padahal, hal yang sudah ada tersebut, adalah hal yang benar”. Contoh kasusnya; mengapa Google tidak memberlakukan aturan kepada karyawannya untuk memakai seragam/ jass kerja. Padahal, jika para karyawannya memakai seragam/ jass, orang- orang (khususnya para calon pembeli saham) akan lebih melihat perusahaan google sebagai perusahaan dengan disiplin tinggi”. Up’s... mari kita melihat lebih jauh ke dalam Google Inc. Bukan hanya tidak memakai seragam, para karyawan disana malah menggunakan jaket olah raga ketika bekerja. Bahkan presiden direkturnya (Larry page) pernah hanya memakai sandal jepit ketika menghadiri launching produk “google analys” di Denmark. Tapi, mengapa bisa perusahaan tersebut bertahan dan malah memiliki keuntungan milyaran dollar pertahun nya?. mengapa perusahaan yang termasuk dalam katagori baru berdiri tersebut malah bisa lebih banyak meraih keuntungan daripada perusahaan yang sudah tua seperti Ford Motor, Bridgestone, dll?. saya akan menjelaskan alasannya dengan sebuah contoh kasus agar Anda sekalian lebih mudah memahaminya.

Orang- orang –pada umumnya- yang naik mobil, menggunakan sabuk pengaman agar keselamatannya terjaga. Sabuk pengaman tersebut menjaga agar kepala si pengemudi tidak terbentur ke stir mobil apabila terjadi pengereman yang mendadak atau mobil menabrak sesuatu di depannya. Tapi, ada seorang yang sedang naik mobil Ford keluaran tahun 2012 tanpa menggunakan sabuk pengaman di jalanan yang macet. Jalanan macet rawan dengan kendaraan yang bergerak dan berhenti mendadak. Menurut banyak orang, hal itu sangat berbahaya. Kemudian, ada seorang polisi yang memberhentikan pengemudi tersebut dan menyarankan agar si pengemudi memakai sabuk pengamannya. Tapi, mobil tersebut tidak memiliki sabuk pengaman. Polisi yang memberhentikannya kemudian berencana memberikan surat tilang dengan alasan mobil tidak aman untuk dikendarai. Pengemudi tersebut lalu menjelaskan, mengapa mobilnya tidak memerlukan sabuk pengaman. Ternyata, mobil Ford keluaran tahun 2012 itu dilengkapi dengan “automatic brake sistem” –yang belum pernah ada sebelumnya. Apabila mobil sedang akan bersinggungan dengan benda/ kendaraan di depannya dengan jarak tertentu, mobil itu bisa melakukan pengereman otomatis yang nyaman. Itulah sebabnya, mobil tersebut tidak memerlukan sabuk pengaman. Begitu pula dengan perusahaan Google. Mereka tidak menetapkan peraturan “kewajiban memakai seragam” untuk seluruh karyawannya, disebabkan karena perusahaan tersebut ingin menciptakan pola kerja yang santai. Apabila para karyawannya dalam keadaan santai, mereka bisa lebih mudah berfikir kreatif dan menciptakan inovasi yang baru. inovasi dan kreatifitas digunakan oleh perusahaan untuk memunculkan produk baru yang akhirnya produk baru yang inovatif itu bisa meningkatkan laba perusahaan.

Asumsi orang umum mungkin benar. Pola kerja yang santai bisa mengakibatkan orang tidak disiplin dalam bekerja. Para karyawan bisa bekerja menurut kehendak hatinya sendiri. Perusahaan tidak bisa berjalan dengan efektif. Tapi, apabila pola kerja yang santai tersebut di berikan wadah yang lain, sehingga bisa memunculkan sebab/ tujuan/ keuntungan lain, asumsi mengenai “pola kerja yang santai adalah sebuah hal buruk”, akan menjadi TIDAK BERLAKU. Jadi, intinya; hal apapun bisa mungkin terjadi di dunia ini. Hal yang telah terbukti benar/ tepat, bisa menjadi SALAH apabila ada faktor X (faktor lain) yang mempengaruhinya. Dan untuk mengukur apakah hal tersebut BENAR/ SALAH, adalah dengan melihat TUJUAN AKHIR YANG DI HASILKAN. Google telah membuktikan, bahwa pola kerja yang santai adalah hal yang benar/ tepat dilakukan di perusahaannya –dan bukan hal yang salah- karena dengan hal tersebut, Google Inc mampu menduduki posisi perusahaan 10 besar di Wall Street, melebihi Ford Motor yang menerapkan pola kerja serius dan fokus.

Ingat !, semuanya mungkin saja bisa terjadi. Jangan terpaku dengan hal yang sudah ada apabila anda ingin melakukan hal yang lebih dari yang sudah ada. apabila anda ingin mengejar lawan anda yang sudah sampai di Kota Semarang beberapa hari yang lalu, jangan gunakan kendaraan yang sama untuk melakukannya. Naiklah pesawat terbang. Pasti anda akan sampai di Jakarta lebih cepat dari pesaing anda. Bila anda menggunakan sepeda motor atau jenis kendaraan yang sama, peluang anda berhasil sangat kecil. Tapi, bila anda menggunakan pesawat terbang, kesulitan anda mungkin akan lebih banyak (seperti; mengurus passport, menyiapkan uang membeli tiket, dll), tapi peluang anda lebih terbuka lebar. Sekarang, telah terbukti; perusahaan yang tumbuh dengan cepat dengan fondasi kuat adalah perusahaan yang inovatif. Bukan perusahaan yang berdisplin sangat tinggi dan kaku. Pemimpin bisnis yang hebat adalah orang yang memiliki kreatifitas dan keberanian untuk mewujudkannya. Definisi dari arti GILA adalah; melakukan hal yang sama dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda.

Sumber Utama Ketidak Tenangan Jiwa; Ketakutan

KETIDAKTENANGAN JIWA  DARI KETAKUTAN YANG TIDAK DI SADARI.

Artikel ini berisi tentang:
Ganjalan hati yang ternyata adalah sebuah Ketakutan yang tidak di sadari selama bertahun- tahun. Ambisi yang tidak terkendali akan mengakibatkan tekanan jiwa. Ambisi yang tidak terkendali yang membuat ketidak tenangan jiwa sulit di sadari. Bekerja keras dan perfeksionis adalah sebuah ketakutan akan kegagalan yang sulit di sadari. Efeksamping dari sebuah tekanan dari ketakutan yang sangat beragam dan kompleks. Fokus berlebihan menutup inovasi.

SUMBER UTAMA KETIDAK TENANGAN JIWA; KETAKUTAN.
Sudah cukup lama, saya merasakan sesuatu hal yang sulit saya sadari sendiri. Selama bertahun- tahun, saya merasa selalu ada ganjalan hati, tapi tidak tahu ‘apakah itu?’. Menguak ganjalan hati itu, dulu bagi saya sangatlah sulit. kesulitan yang paling utama adalah karena
saya tidak menyadari –atau lebih tepatnya sangat sulit menyadari- hal itu. Mencari nya sama seperti menguak satu masalah terpendam dari beragam permasalahan yang kompleks dan sangat rumit. Bagai menemukan jarum di dalam tumpukan jerami. Selama bertahun- tahun, saya tidak sadar. Karena ke-TIDAK SADAR-an tersebut lah, yang membuat saya selalu mendapati beragam keresahan. Keresahan yang memicu puluhan masalah yang lain nya. karena sebuah sumber tunggal itulah, beragam ke-TIDAK TENANGAN jiwa datang menyeliputi saya. sumber tunggal itu, tidak lain dan tidak bukan adalah KETAKUTAN.

Saya merasa telah mendapatkan sebuah instuisi, ketika saya menyadari ketakutan ini. pada mulanya, saya membaca sebuah buku yang berjudul ‘Google Speak’ karya Janet Lowe. Entah di Bab mana –saya lupa, tapi saya membaca sebuah halaman tentang Larry Page yang sakit dan untuk sementara waktu tidak mampu ikut memimpin perusahaan Google Inc. Larry Page sakit punggung karena kecelakaan saat bermain BaseBall. Yap, perusahaan Google yang bernilai miliar dolar di pimpin oleh seorang anak muda yang masih suka main- main. Tapi, tetap saja ya, Google masih tetap berdiri dan malah mampu berkembang lebih besar lagi. saat saya membaca halaman buku tersebut, muncul pertanyaan; mengapa perusahaan raksasa Google tidak di pimpin dengan sangat serius !?. Seakan- akan Larry Page dan Sergey Brin (pendiri Google) memimpin perusahaan itu dengan santai. Saya kemudian bertanya kepada diri saya sendiri; mengapa saya tidak bisa santai seperti mereka?. pertanyaan itu memunculkan sebuah jawaban; ‘karena saya sangat berambisi’. Setelah itu, muncul pertanyaan lain; ‘bukankah diperlukan ambisi yang besar untuk mencapai keinginan yang besar !?. apa yang salah dengan hal itu !?’. semakin lama, kepala saya mengeluarkan berbagai macam pertanyaan. Saya sempat berhenti sejenak untuk berfikir karena saya sudah merasa sangat banyak pertanyaan di dalam kepala saya. lalu, saya menelusuri buku tersebut kembali. Membacanya lebih jauh lagi, dan mengambil kesimpulan; Google Inc bisa sangat sukses karena mereka memiliki inovasi dan melakukan langkah besar. Inovasi lah yang membuat mereka memiliki fondasi bisnis yang hebat, dan langkah besar lah yang membuat mereka mampu mengembangkan inovasi tersebut sehingga menghasilkan keuntungan perusahaan yang besar. Tidak sampai di sini penelusuran saya. Saya masih dalam keadaan penasaran yang sangat besar saat itu. hingga sekitar 1 minggu, barulah rasa penasaran saya terjawab. Saya melewati tulisan tentang perjalanan pencarian saya terhadap rasa penasaran saya tersebut karena akan sangat banyak hal yang perlu saya tuliskan bila saya tidak melewatinya.

Akhirnya, saya menyadari, bahwa selama ini saya mengalami ketakutan yang sangat besar. TAKUT BILA GAGAL. Sehingga, saya menghabiskan seluruh waktu luang yang saya punya untuk belajar, bekerja dan melakukan aktivitas guna menggapai impian saya tersebut –dan hampir tidak ada waktu untuk bermain baseball seperti yang Larry Page lakukan. ketakutan memicu saya untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ketakutan memicu saya untuk belajar mempelajari hal lebih banyak dari setiap menit waktu yang saya miliki. Dan ketakutan yang membuat keresahan jiwa saya muncul. Dan KETAKUTAN yang membuat saya tidak bisa berinovasi seperti mereka (Larry& Sergey). Memang benar, sebuah ketakutan terkadang di butuhkan dalam hidup ini. ada pepatah yang mengatakan bahwa; “Ketakutan lah yang menyelamatkan jiwa mu. bila manusia tidak memiliki rasa takut, mereka akan menyebrang jalan dengan menutup mata”. Tapi, saya fikir, ketakutan yang saya miliki tidak tepat dan bukan di tempat yang tepat (bagi saya).

Beragam ketakutan itu memicu sebuah efek samping lain. Dan efek samping lain itu ternyata memicu efek samping yang lain nya lagi, hingga seakan- akan semua efek itu SANGAT- SANGAT RUMIT sekali bila di rasakan –dan lebih rumit lagi untuk di urai dan di pecahkan pada akar permasalahan nya. efek- efek samping itu akan saya tuliskan di bawah ini.

Ketakutan memicu semangat. Semangat memicu hiper aktivitas. Hiper aktivitas memicu kurang nya waktu. Waktu yang kurang memicu kurangnya belajar hal lain –sesuatu yang baru, sehingga inovasi besar tidak bisa di temukan. Hiper Aktivitas memicu fokus kepada aktivitas yang sedang di kerjakan. Fokus yang berlebihan menutup solusi inovasi.

Ketakutan memicu keberanian menghadapi hal yang baru. Menghadapi hal baru yang benar- benar besar memicu usaha untuk meningkatkan kepercayaan diri (optimisme) yang besar pula. Kepercayaan diri yang terlalu besar memicu sifat Megalomania. Megalomania yang tidak di sadari (karena terlalu sibuk melakukan aktivitas) menyebabkan perasaan diri seakan menjadi orang besar. Perasaan percaya diri sebagai orang besar yang tidak di sadari dengan kenyataan lingkungan di sekitar nya membuat salah pemahaman terhadap rekan kerja. Salah pemahaman membuat kurang nya sikap toleran. Sikap toleran yang kurang menyebabkan rasa bermusuhan dan menimbulkan pertikaian. Di samping sikap toleran yang kurang, terdapat juga sikap toleran yang salah. Sikap toleran yang salah memicu GAP (jarak) antara rekan dalam aktivitas keseharian. Sebuah GAP dan rasa toleran yang kurang memicu rasa sakit hati yang sedikit demi sedikit membawa dampak pada amarah yang memuncak. Amarah besar menimbulkan konflik besar.
Ketakutan memicu sikap perfeksionis. Sikap perfeksionis yang tidak di sadari dengan baik dalam sebuah kerjasama dengan tim akan menghasilkan miss komunikasi (kesalahan pemahaman). Kesalahan pemahaman menimbulkan konflik.
Ketakutan memicu evaluasi terhadap rencana. Ketakutan yang berlebihan memicu evaluasi terhadap rencana yang selalu di lakukan bukan di waktu yang tepat dan selalu di lakukan dimana saja. Evaluasi di waktu yang tidak tepat membuat keadaan diri sendiri yang sering bergumam (tidak terlalu fokus terhadap aktivitas di depan kita dan sering lupa).
Ketakutan memicu sikap waspada. Ketakutan yang berlebihan memicu sikap waspada yang sangat besar. Dalam dunia bisnis yang penuh dengan pengkhianatan, kewaspadaan yang berlebihan menimbulkan prasangka buruk kepada siapa saja. Prasangka buruk yang berlebihan menimbulkan sikap membenci yang kurang berdasar. Sikap benci membuahkan bibit- bibit konflik yang siap berkobar kapan saja.

Semua efek diatas berakar pada sebuah ketakutan. Yap, selama ini memang semua berjalan dengan baik. tidak masalah bagi saya bila saya bertindak berdasarkan efek- efek kompleks yang timbul. Karena saya tidak peduli apa yang orang lain katakan terhadap saya ataupun tindakan saya. Semua efek itu bukan MASALAH BESAR bagi saya. semua sikap yang di timbulkan dari efek ketakutan memang di butuhkan dalam dunia yang penuh dengan pengkhianatan seperti ini (dunia bisnis). Tapi, jika semua itu tidak di tempatkan pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat, semua nya bisa menjadikan jiwa terasa ada yang membebani. BUKAN ... !, bukan seperti ini yang saya inginkan. Yang saya inginkan adalah menjalani pilihan saya dengan seluruh jiwa saya. menjalani kehidupan yang seutuhnya. Memang, dengan adanya ketakutan, motivasi semakin membesar, kewaspadaan menjadi tinggi, dan semua waktu luang di gunakan dengan sebaik- baik nya. Yap, seperti apa yang di katakan Hitler sewaktu melakukan perluasan runag hidup rakyat Jerman; ‘manusia hidup berdasarkan konsekuensi, bukan berdasarkan apa yang seharusnya. Karena apa yang seharusnya itu tidak pernah ada’. Sungguh, hal itu tidak sesederhana apa yang kita kira. Apakah Anda bisa bekerja tanpa sebuah motovasi, tetapi karena sebuah pandangan hidup; bahwa manusia itu memang harus bekerja keras untuk melangsungkan hidupnya?. Memang, ketika sebuah contoh kasus yang saya tuliskan tersebut di lakukan pada sebuah aktivitas yang biasa- biasa saja atau memiliki sebuah tingkat kesulitan yang kecil, hal itu mungkin cukup banyak orang yang bisa melakukan nya. tapi, ketika kita di hadapkan pada sebuah situasi dimana nyawa kita selalu terancam, kesulitan- kesulitan yang sangat besar selalu menghadang dan hal seperti itu berlangsung seumur hidup, saya pikir akan menjadi sangat sulit bagi kita untuk benar- benar berani terjun ke dalam dunia yang seperti itu –dan bertahan seumur hidup di dunia seperti itu.

Well, ini semua tidak mudah. Mengendalikan ketakutan di sebuah tempat yang penuh dengan mara bahaya yang besar. Anda seperti terdampar di sebuah Taman Jurasic (Jurasic Park) dan harus bertahan hidup di sana dengan cara berburu dan di kelilingi berbagai macam ancaman dari Karmivora Dinosaurus yang selalu ingin memakan tubuh kita. untuk itu, kita harus mengubah sudut pandang kita terhadap dunia ini. hidup berdasarkan konsekuensi, dan menjalani hidup seutuhnya. Lihat artikel lanjutan ini: Mengubah Sebuah Sudut Pandang.

Pentingnya Rencana Bisnis.

MENCERMATI MENGAPA SEBUAH RENCANA ITU SANGAT DI PERLUKAN.

Artikel ini berisi tentang:
Dinamika mengenai penting atau tidaknya sebuah rencana bisnis. Aspek yang membuat sebuah rencana bisnis tidak perlu terlalu banyak dilakukan. Aspek yang membuat sebuah rencana bisnis sangat penting dan harus dilakukan. Contoh kasus pentingnya sebuah rencana bisnis. Asumsi orang- orang tentang tidak pentingnya sebuah rencana bisnis. Artikel yang tidak saya setuju isi nya mengenai tidak pentingnya rencana bisnis. Lebih tajam melihat keadaan agar lebih tepat membuat keputusan atau pilihan.

PENTINGNYA RENCANA BISNIS.
Tidak bisa di pungkiri, banyak orang dan para ahli pernah mengatakan bahwa “sebuah rencana bisnis itu tidak penting, yang terpenting adalah aksi”. Ya, dalam beberapa kasus saya setuju dengan hal tersebut. namun, dalam kasus yang lain, saya pun kurang sependapat tentang pandangan seperti itu.

Seringkali, orang- orang membuat rencana bisnis yang panjang dan lebar, namun setelah di praktekan, 90% rencana bisnis tersebut gagal di implementasikan. Orang yang melakukan hal ini akan mengalami kerugian waktu dan tenaga fikiran yang cukup besar karena mencurahkan sebuah perencanaan yang ternyata gagal dilakukan. Di perusahaan tempat saya bekerja pun tidak banyak orang yang membuat sebuah rencana yang kompleks untuk merencanakan tindakan yang harus dilakukan. Tapi, saya pun pernah ikut serta dalam pembangunan perusahaan rintisan, yang dimana para pihak manajemen lebih terfokus pada perencanaan daripada sebuah aksi. Baik, mari kita cermati APA YANG SALAH dari sebuah pembuatan rencana –khususnya rencana bisnis.

Rencana bisnis menjadi tidak perlu dilakukan apabila kita sendirilah yang mengelola sebuah usaha seorang diri atau dengan beberapa orang yang sudah lama kita percaya. Hal ini sering terjadi di dalam pembangunan usaha- usaha kecil. Contoh kasus; pendirian warung makan. Seseorang yang mencoba mendirikan warung makan sederhana tidak perlu terlalu banyak melakukan rencana. Ya, saya setuju terhadap hal tersebut. sebuah rencana yang dibuat cukup kompleks hanya akan memperlambat pendirian usaha semacam ini. Pembuatan rencana bisnis yang akan menjadi sia- sia juga sering terjadi di sebuah organisasi/ perusahaan yang telah mapan dan memiliki SDM berpengalaman sebelumnya. Pihak manajemen hanya cukup memberikan perintah sederhana terhadap para Staff nya untuk melakukan suatu hal, dan para Staff nya pun akan melakukan perintahnya dengan sangat baik. karena, para Staff tersebut sudah tahu, apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan.

Namun, sebuah rencana bisnis akan sangat penting untuk dilakukan apabila kita berada dalam sebuah proyek baru (seperti pendirian perusahaan rintisan, proyek dengan dana tinggi namun dengan launching yang hanya dilakukan sekali, dan proyek riset). Saya mengambil contoh dari pengalaman saya sendiri ketika saya ikut dalam proyek pendirian perusahaan rintisan yang di pimpin oleh seorang doktor dari Universitas Indonesia. Para pihak manajemen yang terlibat lebih banyak merencanakan daripada bertindak. Lebih banyak mengamati daripada melakukan aksi langsung. lebih banyak berteori daripada praktek. Hal ini dikarenakan; mereka belum tahu jalan / situasi seperti apa yang akan mereka temui. Mereka dengan sangat teliti mengamati, merencanakan dan menghimpun banyak data di lapangan untuk melakukan sebuah aksi. Mereka pun sangat hati- hati ketika membuat perencanaan aksi. Para orang yang terlibat di beri simulasi khusus agar dapat dengan mudah mengantisipasi hal buruk apa yang mungkin terjadi. sedikit saja kesalahan kecil dalam sebuah perencanaan yang tergolong baru/ rintisan, akan mengakibatkan kerugian yang besar. Kerugian yang tinggi tersebut dikarenakan sebuah poerintisan nya. OK, untuk lebih jelasnya, saya berikan contoh kasus... Sebuah perusahaan X akan mencoba melakukan pemasaran dengan metode A. Para manajemen di perusahaan X tersebut terlebih dahulu harus merekrut orang- orang pilihan mereka yang mereka anggap tepat untuk melakukan pemasaran tersebut. setelah mendapatkan orang yang tepat, pihak manajemen memberikan pembelajaran kepada para SDM yang bertindak di lapangan, memberikan tips, penyemangat, dll. Tidak hanya itu saja, pihak manajemen pun harus mengurus gaji mereka, mengadakan/ membuat berbagai macam sarana yang di perlukan, mengurus tata cara pembagian bonus bagi yang berhasil melakukan pemasaran yang tinggi, menyiapkan data yang harus di ambil di lapangan, dan masih banyak hal lain yang harus dilakukan untuk melakukan semua itu. Apabila pihak manajemen salah merekrut orang, segala jenis persiapan yang telah dilakukan akan menjadi sia- sia karena faktor awal yang salah/ gagal. Semua sarana administrasi yang telah di persiapkan menjadi tidak berguna, training yang dilakukan dalam waktu yang lama menjadi sia- sia, dll. seperti itulah gambaran tentang resiko besar yang mungkin akan terjadi apabila terjadi kesalahan kecil saja.

Faktor lain yang mempengaruhi asumsi “Mengapa sebuah perencanaan tidak perlu di lakukan” adalah; karena orang yang bersangkutan tersebut tidak suka berfikir. Tidak suka –dan merasa lebih berat- untuk memeras fikiran daripada memeras keringat. Orang- orang seperti ini biasanya adalah para pekerja lapangan langsung. dan orang- orang semacam ini akan mengalami kesulitan yang luar biasa dalam usahanya melakukan perintisan sebuah perusahaan.

Ketika saya ikut ke dalam proyek perekrutan orang di lapangan secara langsung, banyak hal yang harus saya dan rekan satu tim saya persiapkan. Mulai dari memilih lokasi, membuat pertanyaan interview, membuat soal psykotest, membuat formulir untuk dokumentasi data diri para pelamar kerja, mempersiapkan koordinasi “siapa yang harus menanyakan pertanyaan A, dan siapa yang harus menanyakan pertanyaan B”, apa yang harus di katakan untuk pembukaan interview pertama kali, bagaimanakah kita menilai orang tersebut, bagian dari diri seseorang yang seperti apakah yang harus di cermati, sikap seperti apa yang harus di cermati untuk menebak isi fikiran seseorang, dan masih banyak lagi. Nah, apa jadinya bila kita tidak merencanakan lokasi perekrutan?. Bagaimana kita menjawab pertanyaan dari pelamar kerja tentang “Dimanakah lokasi perekrutan nya?”. seperti itulah gambaran mengenai pentingnya persiapan yang harus dilakukan.

Di dalam perusahaan tempat saya bekerja, ada seorang manajer lapangan yang sangat hebat. Dia mampu melakukan koordinasi dengan sangat cepat dan tepat di lapangan. Manajer tersebut sudah puluhan tahun bekerja di dalam perusahaan tersebut. namun, sewaktu dia mencoba untuk ikut sebuah proyek rintisan –yang hampir sama seperti yang saya lakukan, manajer tersebut pernah melakukan kesalahan besar yang berujung pada gunjingan hebat pada dirinya. Dia mengatakan “kita lihat saja kondisi di lapangan nanti” ketika sedang melakukan meeting dengan para manajemen proyek rintisan yang lain. Nah, ketika sampai di lapangan, manajer tersebut kebingungan terhadap hal yang harus dilakukan nya. hal itu disebabkan karena dia TIDAK MELAKUKAN PERENCANAAN terlebih dahulu sebelum melakukan aksi. Alhasil, proyek yang dia pegang mengalami kegagalan besar, dan dia langsung dikeluarkan dari organisasi.

Jadi, bagi saya, kita terlebih dahulu melihat aspek secara mendalam terhadap apa yang kita ketahui sebelum memutuskan untuk sependapat dengan hal tersbeut. Saya membuat artikel ini karena kemarin saya melihat sebuah artikel yang mengatakan “Bakarlah rencana bisnis mu sebelum itu membakar mu”. Bila orang tidak tajam membaca isi dari artikel yang juga saya baca kemarin, orang tersebut akan sangat percaya karena isi dalam artikel tersebut ditulis dengan gaya bahasa yang hebat, memukau dan meyakinkan. Tapi, gaya bahasa tidak mencerminkan isi. Dan dalam beberapa kasus, saya tidak sependapat dengan artikel –yang kemarin saya baca- tersebut.

Pengerah Kekuasaan Parth 1

SARANA UNTUK MENDAPATKAN KEKUATAN.


Artikel ini berisi tentang:
Perbedaan antara Rival dan Musuh. Hal yang membuat manusia memiliki status sosial lebih tinggi. Bagaimana pembuatan sarana/ alat untuk pengerah kekuasaan. Rumusan dasar Dialektika- Hegel. Pola membuat sarana/ alat pengerah kekuasaan yang lebih kuat daripada rival anda.

PENGERAH KEKUASAAN PARTH 1
Seringkali kita bingung mengenai devinis “Rival” dan “Musuh”. Mari saya jelaskan untuk bisa lebih mengerti mengenai isi artikel ini nanti. Rival adalah lawan yang harus di kalahkan. Musuh adalah lawan yang harus di hancurkan/ di habisi. OK !, sederhana. Saya tidak menyukai “Win- win Solution” dalam sebuah pertarungan. Telah menjadi Takdir hidup dunia, musibah suatu kaum adalah sebab kebahagiaan kaum lain. Apabila rival/ musuh kita kalah, kita akan berbahagia. Apabila kita yang kalah, maka musuh kita yang akan berbahagia –dan kita akan menderita. Sekarang kita akan membahas tentang “Sarana apa yang harus kita gunakan untuk mendapatkan kekuatan guna meraih kekuasaan”. Apapun hal yang membuat manusia memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi, dia pasti memiliki sarana yang melekat pada dirinya yang membuat dia memiliki posisi tersebut. misalkan saja, seorang pengusaha memiliki kedudukan sosial tinggi karena dia memiliki rumah mewah, banyak mobil dan banyak uang. Pengusaha tersebut mendapatkan status sosial tinggi tersebut karena memiliki sarana, yaitu sebuah perusahaan yang memberikannya uang yang terus mengalir ke dalam sakunya dalam jumlah banyak. Tanpa perusahaan yang dimilikinya, tak akan bisa si pengusaha memiliki status sosial yang tinggi. Karena status sosial tinggi itu di dapatkan karena dia memiliki rumah mewah dan mobil mewah. Segala benda- benda mewah tersebut di dapatkannya karena dia memiliki uang yang banyak yang terus mengalir dari perusahaan nya. Baik, kita sudah sampai pada sebuah kesimpulan sederhana... bahwa status sosial yang tinggi bisa di dapatkan karena seseorang tersebut memiliki sarana kekuatan yang melekat pada dirinya –yang membuatnya bisa memiliki status sosial yang lebih tinggi.


Sekarang, kita akan membahas mengenai SARANA yang di perlukan untuk bisa mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Apapun bentuk sarananya, hal tersebut adalah sebuah alat yang bisa di gunakan untuk mendapatkan uang dan kekuasaan. Nah, sekarang, bagaimana cara manusia menciptakan sarana tersebut. ini bukan perkara mudah. Orang harus berfikir dengan jalur/ pola yang berbeda dari para orang awam untuk bisa mendapatkannya.

Kita kembali kepada permasalahan DIALEKTIKA. Rumusan teori kehidupan yang di cetuskan oleh F. W. Hegel. Hukum dialektika sosial, pada dasarnya berbunyi; segala bentuk peradaban tercipta karena perpaduan komposisi dan pengolahan yang berbeda. Minyak tanah menjadi bensin. Bensin, lebih mahal daripada minyak tanah –dan lebih penting daripada minyak tanah. Karena bensin lebih di butuhkan oleh manusia dan lebih berguna. Penciptaan bensin di lakukan dengan cara mengolah minyak tanah, menyublim nya, mencampurnya dengan bahan- bahan tertentu dan akhirnya menjadikannya bahan yang lebih mudah terbakar daripada minyak tanah. Saya kurang tahu pasti mengenai cara pembuatan bensin. Tapi saya yakin, bensin di buat dengan cara di olah da di campur dengan bahan yang lain nya. seperti hukum dasar dialektika sebelumnya; “segala bentuk peradaban (hal yang lebih tinggi derajatnya) tercipta karena perpaduan komposisi dan pengolahan yang berbeda”. Untuk membangun sarana pengerah kekuasaan pun begitu. Sarana yang harus di buat harus bisa menciptakan sebuah kekuatan yang lebih besar daripada sarana yang dimiliki rival anda. seringkali, sebuah sarana pengerah kekuasaan adalah berbentuk sebuah oranisasi (namun bisa juga berupa teknologi). Namun yang pasti, sarana yang saya maksud disini adalah sebuah alat yang bisa digunakan untuk membuat anda memiliki kekuasaan ataupun uang yang lebih banyak daripada orang di sekeliling Anda. saya akan berikan contoh; di pulau jawa, ada seorang pengusaha yang memiliki 6 perusahaan besar. Sarana yang di miliki oleh pengusaha tersebut adalah 6 buah perusahaan besar. Dengan 6 perusahaan tersebut, pengusaha tersebut mampu memiliki pendapatan sebesar 1 Milyar tiap bulan nya. dengan uang sebesar 1 M setiap bulan, pengusaha tersebut bisa membeli villa, mobil dan hotel. Kedudukan sosial si pengusaha lebih tinggi daripada orang di sekelilingnya. Hal itu di karenakan pengusaha tersebut memiliki sarana, yaitu 6 perusahaan besar. Untuk bisa memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada pengusaha tersebut, anda harus memiliki sarana yang bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada pengusaha tadi. apapun bentuk sarananya ***saya ulangi lagi kalimat ini*** yang pasti, sarana yang anda miliki harus menghasilkan kekuatan –yaitu uang- yang lebih banyak daripada yang di miliki oleh pengusaha tadi. misalkan, anda memiliki 1 buah perusahaan besar yang menghasilkan uang sebesar 2 M tiap bulannya. Dengan begitu, anda akan bisa memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada pengusaha tadi.

Meringankan Tekanan Batin

Bersabar menghadapi segala bentuk tekanan dalam keadaan yang sangat buruk.

Artikel ini berisi tentang:
Kisah pribadi saya; di dalam keadaan yang buruk. Buku yang baik untuk memahami kehidupan “Al- Dunya wa Al Din”. Syair indah untuk meringankan tekanan batin. Tips untuk meringankan tekanan batin. Ketenangan diri telah saya dapatkan walaupun keadaan tetap sama. Kesulitan hanya membuat kita semakin kuat.

MERINGANKAN TEKANAN BATIN
Sungguh, beberapa hari yang lalu sebelum saya menulis artikel ini, saya sedang dalam keadaan yang sangat buruk. Berbagai macam tekanan kerja dan tekanan bisnis melanda. Di lingkungan kerja, saya mendapati konflik dengan orang- orang sekitar saya. para atasan saya menganggap tindakan saya buruk. Rekan- rekan saya yang lainpun menganggap tindakan saya salah. Di luar pun, prediksi mengenai rencana pemasaran tidak berjalan dengan lancar dikarenakan terjadi pengkhianatan oleh karyawan saya yang membawa pergi (mengambil tanpa ijin) uang yang sudah saya percayakan kepadanya. Lebih dari itu, strategi saya dalam menetapkan strategi pemasaran telah gagal karena kesalahan dari rencana dasarnya, sehingga saya harus mengulang kembali tindakan dari NOL lagi. rekan- rekan kerja saya menjauhi saya, keinginan saya untuk semakin mendekatkan bisnis saya pada GOAL yang telah saya rencanakan kini semakin menjauh. Sungguh, keadaan yang sangat BURUK.


Dalam keadaan yang sangat menyebalkan tersebut, perasaan saya diliputi oleh rasa GALAU yang tidak menentu. Kendali diri hilang, fikiran menjadi tidak terfokus, analisa menjadi tidak jernih dan hati ini selalu diliputi rasa resah dan gundah. Sungguh keadaan yang MENYEBALKAN. Tiba- tiba saja di waktu sore hari, saya tidak sengaja melamun sebentar di ruang perpustakaan miilik saya di rumah. Saya jadi teringat, sebuah buku yang pernah menuntun saya untuk menyelami makna hidup dan menjadikan kehidupan saya lebih baik. Buku itu berjudul “Kuasa Dunia”. Buku yang di tulis oleh seorang filsuf dari Arab, dengan judul asli “Al- Dunya wa Al Din”. Yaaa... jujur, saya pribadi bukan sosok yang agamis. Saya lebih menyukai ilmu pengetahuan. Namun, isi dari buku tersebut bermakna sangat luas dan tidak hanya menyangkut aspek pokok dalam kaedah agama Islam. *** Saya merekomendasikan buku itu untuk siapa saja yang ingin mendalami makna kehidupan ***. Buku tersebut sudah lama sekali tidak saya baca. Saya mendalami buku itu secara serius pada waktu lulus Sekolah Menengah Kejuruan.  Setelah beberapa kali membalik dan membaca secara acak isi buku tersebut, saya menemukan sebuah syair yang bagus, seperti ini:

Setiap kamu melihat orang yang kamu benci, ingatlah kebaikan yang pernah dia lakukan kepadamu.
Setiap kamu melihat keadaan yang tidak sesuai keinginan mu, ingatlah kepada hal yang lebih buruk yang pernah kamu alami sebelumnya.
Pejamkan mata, tarik nafas dan ucapkan syukur dalam hati
Agar perasaan gundah mu bisa terobati

Ya... saya saat itu memang sedang berkonflik dengan rekan kerja saya. setiap saya melihat wajahnya, saya selalu terbayang dengan tindakan buruk yang pernah dia lakukan pada saya. Nah, perasaan mengenang tindakan buruk itulah yang membuat saya tertekan.
Saat itu pula, keadaan di sekitar saya sangat menjengkelkan. Orang- orang di sekeliling saya seakan malas berbicara dengan saya. saya seakan tidak di dengarkan. Saya tidak begitu di hormati lagi seperti sebelumnya. Mereka semakin memandang rendah diri saya. Namun beberapa tahun silam, saya pun pernah mengalami hal yang lebih buruk dari hal tersebut. saya mengingat hal yang lebih buruk, yang pernah saya rasakan beberapa tahun yang lamu, kemudian saya mencoba merasakan syukur. Saya mengatakan sesuatu hal dalam hati saya bahwa “keadaan ini lebih baik daripada keadaan buruk yang menimpa dirimu beberapa tahun yang lalu”. Dengan begitu, saya merasa lebih tenang dengan mensyukurinya. Saat saya melihat rekan saya yang saya benci, saya mengingat bahwa dia pernah menolong saya. saya mengingat bahwa dia pernah bercanda tawa dengan saya. dengan seperti itu, kebencian saya terhadap dia mereda –bahkan hilang.

Kini, keadaan diri saya menjadi lebih tenang. Walaupun rasa benci dan menyebalkan tersebut masih tetap ada, namun kapasitas kegalauan yang saya rasakan cukup kecil dan tidak seperti hari- hari kemarin. Ya, saya menjadi lebih tenang dan nyaman. Walaupun keadaan yang sebenarnya terjadi adalah SAMA seperti kemarin (masih kacau, dan orang- orang masih memandang saya dengan begitu sinis). Diri sayalah yang mengubah perasaan buruk itu. walaupun keadaan tidak berubah sesuai keinginan saya. Saya bisa mengatasi kekacauan itu dan menjadikan diri saya “TENANG”.

Kesulitan hanya membuat kita semakin kuat. Itu yang dikatakan Nietzche. Suatu hari, bila saya menjumpai keadaan yang lebih buruk dari ini, saya akan lebih siap –juga tidak akan terlalu kaget- menghadapinya karena sebelumnya –pada waktu ini- saya telah merasakan keadaan yang juga BURUK. Keep Positif Thinking.

Harapan itu selalu ada selama kita masih hidup. Dan apa yang kita cita- citakan akan terwujud selama kita terus mencoba dan berusaha.

Mensikapi Orang- Orang yang Bekerja Kepada mu- Syair

Mensikapi Orang- Orang yang Bekerja Kepada mu- Syair.


Sekretaris kepercayaan mu pun mungkin saja berkhianat.
Orang terbaikmu pun ada kalanya gagal melaksanakan tugas penting darimu.
Pengikutmu yang loyal pun ada kalanya mengabaikan ucapan mu.
Menaruh seratus persen kepercayaan kepada mereka –pasti-/ hanya akan membuatmu kecewa.
Orang- orang akan tidak berkompeten seperti perkiraan mu saat merekrut mereka.
Dan mereka pasti akan membuat banyak kesalahan dalam tugas pertama mereka.
Hal ini harus kamu pahami benar !.
Jangan berharap berlebihan kepada mereka.
Tapi, kita tidak bisa menjual produk yang cacat.
Produk yang cacat harus di buang.
Bila harus membuang semua hasil produksi karena cacat, kamu pun harus melakukan nya.
Lebih tajamlah dalam menetapkan sesuatu.
Kita sedang berhadapan dengan realitas.
Produk dalam katagori cacat harus di buang.
Tapi, jangan sampai kerugian besar itu menjadi beban fikiran mu.

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Tentang Syair ini.
Syair ini saya buat ketika saya selalu kecewa dengan sikap orang- orang yang bekerja untuk saya. saya merasa, tugas- tugas spesifik yang saya berikan kepada mereka tidak ada yang bisa di kerjakan dengan sangat baik. Kebanyakan, mereka tidak bisa merampungkan tugas mereka sesuai dengan apa yang saya inginkan. Tetapi, ketika kebanyakan dari orang- orang baru lebih menyebalkan, karena mereka sering melakukan banyak kesalahan di dalam tugas pertama mereka. tapi, ketika saya melihat hal ini dengan sudut pandang yang lain, tentang kapasitas dari kemampuan dari seorang manusia, yang melakukan sebuah tugas di dalam keadaan yang tidak terlalu mendukung, saya pikir saya memang harus melonggarkan batasan yang saya tetapkan kepada mereka. bahwa apa yang mereka lakukan tidak akan bisa seratus persen sesuai keinginan saya. Akan selalu ada cacat dan akan selalu ada hal yang tidak beres. Akan selalu ada pengkhianatan dan sebuah rencana tidak akan berlangsung sesuai planing sebelumnya. Itu adalah konsekuensi kita, yang harus kita tanggung. Dengan melonggarkan ketetapan yang saya berikan kepada mereka, rasa kecewa yang mungkin akan timbul akan cukup terobati.

Mensikapi Keputusan Konsekuensi yang Tidak Tepat- Syair

Mensikapi Keputusan Konsekuensi yang Tidak Tepat- Syair.
Kudus, 17 Februari 2013.


Tidak ada jalan lain yang benar- benar realistis, daripada mengambil tindakan cepat dan sederhana untuk menekan penyimpangan yang saat ini sedang terjadi.
Fikiran yang naif sering menginginkan sesuatu yang berlebihan tanpa di imbangi dengan kemampuan.
Ada suatu batasan yang telah kita tetapkan sendiri dan harus benar- benar kita jalani.
Tapi mungkin, seringkali kita salah menganalisis sebuah keadaan saat  COMISSIONING sehingga kita menetapkan standart yang salah.
Atau, ada pula perubahan keadaan karena sebuah aspek imbas sehingga kita merugi.
Kerugian dalam bisnis akan selalu mengikuti pebisnis.
Dan sangat banyak dari kerugian- kerugian tersebut yang tidak bisa kita hindari.
Bila ketetapan standart ternyata salah dan tidak bisa di ubah, maka longgarkan standart tersebut.
Tapi kamu harus jeli, terkadang bukan masalah ketetapan standart yang perlu di ubah.
Kadang sebuah tindakan kecil seperti penegasan lah yang harus di ambil.
Tapi, bila memang kendala tersebut sangat parah dan tidak bisa di terima, mungkin kamu perlu menunda proses produksi dan bertindak dengan segera untuk melakukan REKONSTRUKSI ulang.
Namun, ini adalah pilihan terakhir yang –harus- jarang di ambil.

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Tentang Syair ini:
Ketika saya menetapkan sesuatu, yang saya yakini bisa di lakukan oleh orang- orang saya, ternyata saya sering mendapati orang- orang saya tersebut tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik seperti yang telah saya tetapkan. Yang lebih menyulitkan lagi, saya sering terperosok ke dalam sebuah keadaan yang sangat DILEMATIS. Saya telah merekrut orang, mengajari mereka banyak hal dan dalam jangka waktu lama, ketika mereka mulai bekerja, ternyata mereka tidak bisa merampungkan tugas nya dengan baik. Jika saya memecat mereka, belum tentu orang yang baru bisa melakukan sebuah tugas yang lebih baik dari orang yang lama. jika saya membiarkan hal ini, semua aktivitas yang orang- orang saya lakukan di penuhi dengan kesalahan. Jika saya harus memecat orang yang lama, saya berarti harus mengajari orang yang baru sesuatu (diskripsi tugas mereka) dari awal lagi. dan saya pun harus menghabiskan waktu dan biaya lagi untuk mengajari orang- orang baru tersebut. Bila memang begini keadaan nya, hal terbaik (dan bukan sebuah solusi yang benar- benar memecahkan masalah) bagi tindakan saya adalah bersabar menghadapi orang- orang saya dan mengubah sikap- sikap mereka. berharap mereka berubah –menjadi lebih baik- seiring berjalan nya waktu karena penegasan sebuah hal/ tugas yang telah saya tanggung jawabkan kepada mereka. lebih bersabar dan tidak perlu melakukan rekonstruksi ulang apabila keadaan masih bisa di kendalikan dan tidak terlalu menyimpang dari diskripsi tugas yang utama.