Tampilkan postingan dengan label Artikel Awal Tahun 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Awal Tahun 2013. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Maret 2013

Keyakinan Vs Realita Ilmiah

ADA SESUATU YANG TIDAK BISA DI PAKSAKAN DENGAN PERJUANGAN KEYAKINAN.

Artikel ini Berisi Tentang:
Pemenang hanya ada 1 orang. Lebih berhati- hati dalam melangkah. Keyakinan yang 'akan kalah' dan 'salah'. Metode pendekatan ilmiah untuk mewujudkan impian. Batasan kekuatan sebuah keyakinan. Ketakutan lah yang menyelamatkan manusia. Filsafat Nicholo Machiavelli tentang pengerah kekuasaan dan pentingnya memiliki ketakutan. Sebuah contoh jalan buntu yang di temui ilmuan di abad Renaisance. Memilih hal yang lebih mudah adalah sikap yang bijak.

KEYAKINAN VERSUS REALITA ILMIAH. 
Kita melihat beberapa orang hebat di dunia ini yang sukses di bidang nya seperti Bill Gates di bidang bisnis, Einstein di bidang Sains, Soekarno di bidang Politik nasional, dll. Tapi, apakah kita tahu, ada ribuan, bahkan jutaan orang yang juga berjuang di bidang yang sama untuk menempati posisi puncak, tetapi tetap saja dunia ini hanya mengijinkan satu orang pemenang (hanya satu, bukan dua atau tiga). Ribuan orang ingin menjadi orang terkaya nomor 1 di dunia seperti Bill. Tapi, hanya 1 orang (yaitu Bill) yang menjadi ‘The Richest Man in the Worlds’. Ketika saya melakukan updates status di sebuah situs jejaring sosial, dan menuliskan “I Want to be Richs as Bill Gates, and i want drop out from my school. Because School is not important”, kemudian ada orang Vietnam yang bersekolah di Singapore dan mengambil jurusan Bussines Administration, memberi komentar “That Bill, not Willy”. Tujuan saya menuliskan artikel ini tidak memiliki maksud untuk melemahkan keyakinan kita selaku manusia yang memiliki mimpi untuk di gapai. Tetapi, saya ingin mengevaluasi lagi mengenai tindakan kita yang seharusnya, lebih terstuktur, lebih hati- hati dan lebih mendekatkan aksi kita –dalam mencapai apa yang menjadi mimpi kita- dengan sebuah cara/ metode pendektan yang lebih realistis. Jadi, tidak hanya berbekal keyakinan saja, melainkan kita harus berbekal ilmu pengetahuan. Mungkin, banyak orang menganggap penulisan artikel ini merupakan sebuah respon dari orang yang ‘pesimis’ terhadap apa yang hendak di lakukan. Tapi, ketahuilah... Dalam karya Sastra Nicholo Machiavelli (Filsuf besar pengerah kekuasaan dari italia) yang berjudul “The Prince”, dalam suatu BAB di dalam bukunya mengatakan “seorang pangeran (raja/ kaisar) harus memiliki rasa takut untuk tidak memiliki rasa takut. Karena, rasa takutlah yang membuat seorang manusia bisa selamat”. Intinya, ketakutan itu ada untuk menyelamatkan manusia. Jika tidak ada ketakutan, tentu orang- orang akan menyebrang jalan raya dengan memejamkan mata.

Well, ketika kita memulai sebuah bisnis, banyak orang yang pantang menyerah berjuang dengan seluruh keyakinan nya, memperjuangkan apa yang di anggapnya benar. Mereka –dan juga saya- percaya, bahwa ‘tidak ada hal yang mustahil’. Ya, kita ingin menjadi kuat dan membenci sebuah kelemahan. Sebuah pandangan hidup; 'Bila Kamu Lemah, Hidup Akan Mempermainkan mu' mungkin adalah filosofi yang di anut oleh kebanyakan para pemimpin bisnis atau politik di dunia ini. Dulu, memang manusia menganggap pergi ke bulan merupakan hal yang mustahil. Tapi, hal itu segera di tampik oleh NASA yang dengan keberhasilan besarnya mampu mengirim pesawat Apollo11 ke bulan, dan Neil Amstrong menjadi orang pertama yang menapakan kakinya di bulan. Tetapi, perlu Anda tahu juga. Pada masa Renaisance (abad pencerahan) yang khususnya berlangsung di wilayah Eropa, para ilmuan berfikir keras untuk mengubah timah menjadi emas. Tetapi, sampai sekarang pun mereka belum bisa melakukan nya. pada abad 18 sampai abad 19, para ilmuan di dunia mencoba menjawab tentang misteri gaya gravitasi bumi dengan metode pendekatan hukum mekanika klasik Newton, dan sampai rambut di kepala mereka rontok, mereka tidak kunjung mendapatkan jawaban nya.  Mereka hanya menemui jalan buntu. Barulah, di pertengahan abad 20, kemunculan hukum Relativitas Umum dari Albert Einstein mampu menjawab permasalahan dari gaya gravitasi bumi dan penyebab mengapa sebuah galaxy bisa mengambang dalam jagad raya ini. Ini semua adalah contoh dari sejarah kesalahan para ilmuan dunia. Ketika mereka –para ilmuan- menemui jalan buntu, mereka mencoba beralih kepada pendekatan yang lain untuk mencari jalan keluar nya. Saya pribadi adalah orang yang mencintai Sains. Tapi, di sisi lain, saya juga menyukai bisnis. Oleh seba itu, sebagian besar artikel saya selalu mengandung unsur ilmiah, sejarah, metafisika dan filsafat. Tapi, jangan beranjak dulu dari artikel ini, karena artikel ini pun bertajuk bisnis juga. Bukan sekedar artikel sains semata. Tapi, melainkan kolaborasi dari keduanya.

Baik, kali ini kita beranjak ke dalam basic bisnis. Ada seorang industriawan sukses dari indonesia yang memiliki semangat NEVER SURENDER, mencoba untuk memasarkan produk makanan nya ke eropa. Produk yang ingin di pasarkan nya adalah sebuah produk keripik singkong. Dia percaya produk keripik singkongnya bisa berhasil menembus pasaran di eropa, karena dia juga pernah melihat ada produk Tempe yang berhasil di pasarkan dengan sukses ke Jepang. Produk nya memang sangat di minati oleh masyarakat Indonesia. Tetapi, ketika dia mencoba memasarkan nya ke Eropa, orang- orang disana sama sekali tidak berminat dengan produknya. Dia tetap pantang menyerah. Dia mencoba melakukan promosi besar- besaran untuk mensukseskan produknya disana. Setelah beberapa waktu berlalu, dia tidak kunjung mendapatkan keberhasilan. Dia mencoba melakukan analisa, mengapa produknya tidak laku disana. Analisa yang dilakukan nya menyebutkan bahwa kandungan kolesterol dari produk keripik singkong nya itu terlalu tinggi, sehingga masyarakat eropa (yang mengedepankan pola hidup sehat) tidak meminatinya. Tetapi, dia tetap beranggapan, kalau produk keripik singkong nya sangatlah lezat, dan kandungan kolesterol nya tidak terlalu tinggi. Sudah banyak upaya promosi yang dilakukan nya untuk pemasaran produk nya ke eropa, tapi tetap saja dia mendapati jalan buntu. Tetapi, karena keyakinan nya terlalu kuat, dia tetap menganggap bahwa produk keripik singkong milik nya, SEHARUSNYA mampu menembus pasaran di Eropa. Well, apa yang akan di lakukan industriawan keripik singkong itu kira- kira selanjutnya?. Dia tidak pernah menyerah seperti serdadu- serdadu militer Nazi yang lebih baik menembakan peluru ke kepalanya daripada berkata “Im Surender”...

Yap, bisnis bukanlah militer. Kita disini mencoba menjadi pebisnis yang baik. Kita tidak sekeras para Yakuza yang mendasarkan tindakan bisnis nya dengan cara yang anarki. Jika saya menjadi industriawan keripik singkong itu, saya akan segera menghentikan langkah saya dan mencoba memulai bisnis di jalur baru yang memiliki peluang kesuksesan lebih besar. Sekali lagi saya mengutip kata- kata Machiavelli, “Ketakutan membuat kita selamat”. Ketika seorang raja memulai perang, dan mendapati pasukan nya kalah jumlah di bandingkan pasukan musuh (satu banding sepuluh), lebih baik raja itu melarikan diri untuk menyusun kekuatan ulang. Memang, bagi orang yang memiliki jiwa ‘tidak akan pernah menyerah’ hal ini adalah sesuatu yang memalukan. Tetapi, kita bisa tetap hidup, menyusun rencana ulang dan menyerang kembali.

Jika Anda bertanya; Mengapa bisnis di jalur yang baru?. Mengapa kita tidak mengembangkan inovasi di dalam bisnis kita yang lama dan berjuang mempertahankan bisnis lama kita?. Well, kalau beitu saya akan bertanya balik; “Mengapa Google melebarkan sayapnya ke telepon genggam (Android)”?, “Mengapa keluarga HM Sampoerna menjual 90%  sahamnya kepada Philip Moris dan mulai membuka perkebunan kelapa sawit di Kalimantan?. Kesimpulan saya disini adalah “sebuah keyakinan (yang subjektif) akan tetap akan kalah melawan kenyataan (yang objektif)”. Jika kita yakin bisa menghancurkan batu dengan tangan manusia milik kita, lalu kita benar- benar melakukan nya (memukul batu itu dengan tangan kita), maka yang terjadi adalah ‘tangan kita akan sakit dan batu itu tetap dalam bentuk nya yang semula’ (tidak hancur). Lebih baik, kita mengambil palu besar lalu menghantam batu itu dengan palu tersebut. Atau mungkin, lebih baik lagi, kita pergi saja meninggalkan batu itu dan mulai membangun relasi bisnis kita. Presented By: Behind of Logica.

Jumat, 01 Februari 2013

Alasan Manusia Tidak Bergerak Maju.

MENCERMATI KONDISI STATUS SOSIAL DI DALAM MASYARAKAT.

Artikel ini berisi tentang:
Status sosial di dunia. Kriteria dan contoh orang yang menguni piramida status sosial. Alasan dan penjelasan “mengapa manusia tidak bergerak maju”. Pandangan hidup Fasisme Klasik. Pengertian Fasisme Klasik dan Modern.

ALASAN MANUSIA TIDAK BERGERAK MAJU.
Status sosial hampir sama seperti sebuah piramid. Bagian atas, di huni oleh orang yang memiliki status sosial yang tinggi. Kita bisa menyebut orang- orang ini adalah KALANGAN ATAS. Contohnya; artis papan atas, presiden, pengusaha besar, dll. bagian tengah, di huni
oleh masyarakat kalangan menengah. Contohnya; pengacara, anggota DPR tingkat provinsi, pengusaha perusahaan menengah, Manajer departemen, dll. Bagian bawah adalah bagian yang paling besar, di huni oleh masyarakat kalangan bawah yang meliputi; buruh, petani, pengemis, gelandangan, dll. *** Devinisi atas piramida kehidupan sosial saya dapatkan dan saya salin dari buku “THE RICH MAN FROM BABILON”, jadi mohon jangan tersinggung atas pengelompokan status sosial yang saya tuliskan, karena itu tidak terlalu mewakili terhadap keadaan yang sebenarnya, karena keadaan yang sebenarnya memiliki corak dan ragamnya masing- masing***. Masyarakat kalangan bawah tentu menginginkan menjadi masyarakat kalangan menengah. Begitu pula dengan masyarakat kalangan menengah, ingin menjadi kalangan atas. Dan kalangan atas, melakukan pergulatan mati- matian guna menduduki posisi tertinggi sebagai orang kalangan atas yang memiliki status sosial tertinggi. Namun, mengapa kalangan masayarakat bawah terkadang tidak ingin menjadi kalangan masyarakat menengah?, Jawaban nya mungkin sederhana dan bisa di jawab oleh siapapun, namun yang ingin saya tunjukan disini adalah sebuah rumusan/ filosofi dan keterangan yang lebih tajam, mengapa hal tersebut terjadi.

Tidak melihat kegembiraan atas di dalam status sosial yang lebih tinggi.
Orang kalangan bawah tidak mau menjadi kalangan menengah karena dia tidak pernah melihat kegembiraan yang terjadi di kalangan menengah. Ada pula tipe manusia yang seperti ini juga. mereka biasanya adalah orang yang menutup diri terhadap hal baru, selalu mengucapkan syukur dan takut melakukan atau mencoba hal baru. dinamika ini juga terjadi di kalangan masyarakat menengah yang tidak mau menjadi kalangan masyarakat atas.

Tidak berani menghadapi konsekuensi.
Atau juga, orang- orang tidak mau mencoba naik posisinya ke status sosial yang lebih tinggi dikarenakan; dia memang menginginkan memiliki status sosial yang lebih tinggi. Namun, untuk mendapatkannya, dia harus menerima konsekuensi atas hal yang dilakukannya. Dia melihat, penderitaan yang di hasilkan oleh konsekuensinya lebih besar daripada kegembiraan yang mungkin akan dirasakan nya. oleh sebab itu, dia mengurungkan niatnya untuk melangkah maju menuju status sosial yang lebih tinggi. Contoh kasus saja: seorang buruh pabrik, ingin memiliki mobil. Kalau dia mendapatkan mobil, dia akan di pandang sebagai orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi. Secara otomatis, dia akan bangga (bergembira) apabila orang- orang di sekitarnya menyebutnya demikian. Namun, bila dia memiliki mobil, dia merasa tidak bisa mengemudikan nya. dia juga bingung menaruh mobilnya dimana. Dia juga khawatir apabila mobil tersebut yang harganya mahal digunakan dengan sekehandak hati teman- teman nya dan akhirnya rusak. Atas dasar pertimbangan itulah, orang yang menginginkan status sosial yang lebih tinggi tidak mau bergerak maju menggapai keinginan nya dikarenakan melihat konsekuensi yang di akibatkan oleh status sosial lebih tinggi –yang mungkin bisa di dapatkannya- hanya akan membawa penderitaan baru yang lebih besar.

Tidak memiliki ketegaran dalam melakukan perjuangan.
Alasan terakhir ini yang lebih banyak terjadi; orang- orang tidak memiliki kemampuan dan perjuangan yang lebih keras lagi untuk mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Orang- orang ini kalah dengan keadaan dan tidak mampu menghadapi keadaan buruk yang diakibatkan oleh perjuangannya.

Takut melakukan kegagalan.
Alsan lain mengenai seseorang tidak ingin bergerak maju dan mendapatkan status sosial yang lebih tinggi adalah karena dia takut melakukan kegagalan, kemudian di benci oleh orang- orang di sekitarnya.

Keinginan yang lebih rendah daripada tindakan.
Hal lain yang mempengaruhi juga bisa dikarenakan keinginan bertindak yang lebih lemah daripada keinginan nya mendapatkan impian. Hal ini sering di sebabkan karena kurangnya motivasi dan kurang melihat kegembiraan yang bisa terjadi apabila dia memiliki status sosial yang lebih tinggi. Apabila manusia tidak melihat kegembiraan atas impian nya bila nanti tercapai, maka dia akan malas untuk melakukan perjuangan.

Membandingkan keadaan nya dengan kondisi orang di bwahnya.
Rasa syukur memang membawa manusia pada kedamaian. Namun, setiap hal di dunia memiliki cacat. Begitu pula dengan rasa syukur. Syukur membuat manusia tidak memiliki motivasi untuk bergerak maju. Syukur membuat manusia rela di jajah, di injak- injak dan di hina. Apabila anda sekarang ini adalah tipe masyarakat menengah, dan ketika usaha anda untuk menjadi masyarakat atas gagal dilakukan, lalu anda merasakan –dan mengucapkan- syukur, maka hati anda menjadi tenang –dan andapun tidak berkeinginan untuk melanjutkan perjuangan anda kembali.

Merasa bahwa tempat tersebut adalah tempat yang nyaman dan aman.
Saat manusia bergerak ke posisi yang lebih tinggi karena sebuah motivasi –apapun jenis motivasinya, dimana kemudian orang tersebut berhasil menggapai apa yang di inginkannya, dia kemudian merasa tenang dan nyaman berada di posisi tersebut. dia tidak memiliki keinginan kembali untuk melakukan perjuangan itu. dia merasa sudah lelah dan merasa sudah beruntung ketika sampai di tempat tersebut. oleh sebab itu, langkah nya untuk bergerak maju terhenti disini.

Takut semakin terpuruk.
Saat manusia melakukan sebuah usaha, ada dua hal yang mungkin terjadi. bila dia berhasil, dia akan senang karena mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Apabila dia gagal, dia akan menderita karena status sosialnya turun. Orang yang terus menerus melihat resiko yang dihadapinya, akan memunculkan ketakutan ketika ingin melangkah. Dan ketakutan tersebut membawa orang itu TIDAK BERGERAK MAJU atau diam di tempat.


Itulah berbagai macam alasan dan keterangan mengapa orang tidak mau bergerak maju. Namun, bagi saya pribadi, saya tidak pernah memikirkan mengenai kegembiraan apa yang akan saya dapatkan apabila saya berhasil dan betapapun berat perjuangan yang menanti. Saya adalah seorang Fasis. Jika saya sudah berjanji, maka saya akan berkomitmen untuk bisa memenuhi janji yang telah terucap. Apapun yang terjadi. Kegembiraan saya adalah ketika saya bisa memenuhi janji saya. tidak semata- mata termotivasi karena kegembiraan atau mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Orang- orang Fasis –seperti saya- memang sedikit di Indonesia ini. tapi, apabila seluruh dunia di kumpulkan, jumlah orang Fasis mencapai ribuan orang. Kelebihan dari Fasisme adalah orang tersebut mampu mengulangi kembali perjuangannya walaupun dia telah mencapai posisi aman dan menyenangkan. Tidak khawatir terhadap resiko maupun tantangan yang mungkin akan terjadi. Kelemahan nya; mereka sering tidak bisa hidup bahagia karena merasa harus melangkah maju terus. Well, setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing- masing bukan !. dan menjadi sah- sah saja apabila orang memilih untuk hidup banyak berjuang dan hanya menemukan sedikit kegembiraan saja. Tapi, anda harus tahu. Walaupun orang- orang Fasis sering tidak hidup bahagia atau merasa bahagia dalam kurun waktu yang pendek saja, tapi kebahagiaan yang mereka rasakan sangat besar di waktu yang pendek tersebut. Pandangan Fasis seperti ini adalah Fasisme Classic [lihat catatan kaki 1- Fasisme Klasik]. Berbeda dengan Fasisme modern [Lihat catatan kaki 2- Fasisme Modern].

Catatan kaki 1- Fasisme Klasik.
Fasisme Klasik atau kuno, adalah sebuah pandangan hidup yang dimana harga diri terhadap tujuan yang telah di tetapkan dalam hidup harus di wujudkan, bagaimanapun caranya dan bagaimanapun terjalnya tantangan yang akan menghadang. Fasisme klasik adalah sebuah pandangan individual. Berbeda dengan Fasisme Modern yang memandang prilaku ini harus di lakukan di sebuah kelompok atau –biasanya- negara.

Catatan Kaki 2- Fasisme Modern.
Sebuah pandangan hidup bagi sekumpulan masyarakat untuk bersatu padu membuat suatu kesatuan, dimana dengan adanya kesatuan tersebut akan menjadi sebuah kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan individual/ perseorangan. Fasisme Modern juga di ibaratkan sebagai kesatuan antara ranting- ranting kecil, yang di ikat menjadi satu sehingga lebih kuat.

Selasa, 01 Januari 2013

Hidup itu Seperti Mengendarai Sepeda. Untuk Tetap Seimbang, Kamu harus Bergerak Maju.

MENDALAMI KUTIPAN EINSTEIN TENTANG MAKNA KEHIDUPAN.

Artikel ini berisi tentang:

Mengapa kehidupan membutuhkan keseimbangan?. Kutipan lain tentang sebuah bukti bahwa kesulitan (penderitaan) adalah esensial kehidupan. Kehidupan ini seperti lapangan Marathon. Semua pelari di haruskan berlari di lapangan Marathon tersebut. pelari yang tidak mau berlari akan mendapatkan penderitaan yang lebih besar. Orang yang bergerak maju memiliki nilai penderitaan yang lebih kecil. Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya. Tidak ada batasan di dunia ini. Einstein percaya ada sebuah angka di luar angka dasar 0, 1, 2, 3, dst. Lapangan Marathon kehidupan memberikan fasilitas minuman setelah pelari berlari dengan jarak tertentu. Nilai positif air putih yang di minum saat orang sedang dehidrasi. Kesimpulan tentang keseimbangan kehidupan. Moral pertama kali di perkenalkan di Yunani, dan yang pertama memperkenalkan nya adalah Plato.



Banyak orang yang hanya sekilas saja mendengar kutipan ini, kemudian  bisa tahu artinya. Namun, arti sebenarnya merupakan sebuah cerminan yang sangat luas dan juga lebih mendalam lagi.
Mengapa kehidupan membutuhkan keseimbangan?. Apakah akan selalu ada penderitaan di dalam kehidupan manusia –dan juga semua makhluk yang hidup?. Saya pribadi meyakini, bahwa penderitaan itu akan selalu ada dalam kehidupan ini. Bulan Desember 2012 kemarin, saya menemukan sebuah kutipan lain namun esensial (dasarnya) memiliki arti yang bersinggungan. Bunyi kutipan itu adalah “Bila tidak ada musim dingin, maka musim semi tidak akan menyenangkan. Bila tidak ada kesulitan, kebahagiaan juga tidak akan di dapatkan”. Untuk lebih memperjelas arti makna kedua kutipan ini, saya menggambarkan bahwa kehidupan ini adalah seperti sebuah lapangan Marathon. Dimana para pelarinya adalah semua makhluk yang hidup di dunia ini. Tapi, lapangan ini mengharuskan para pelari nya untuk bergerak maju (berlari). Mau tidak mau, pelari tersebut harus berlari. Mau tidak mau, semua makhluk hidup harus bergerak maju. Bergerak maju yang saya maksud adalah melakukan perkembangan diri dan memajukan peradaban di lingkungan sekitarnya. Karena di dalam lapangan Marathon tersebut semua makhluk hidup DI HARUSKAN bergerak maju, lantas apa yang terjadi pada makhluk hidup yang tidak mau maju?. Padahal, dia dipaksa harus bergerak maju !... Ya, yang terjadi adalah sebuah penderitaan yang jauh lebih besar. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk berlari, di haruskan untuk berlari. Seperti halnya, orang yang tidak suka makan sambal, tapi di haruskan makan sambal. Atau, seorang pria yang tidak menyukai wanita keturunan Negro, tapi di paksa menikahinya. Semua di jalani dengan keterpaksaan. Dan karena makna esensial penderitaan itu adalah “keinginan yang tidak sejalan dengan kenyataan hidup”, maka orang yang melakukan hal dengan keterpaksaan sudah bisa di pastikan dia akan MENDERITA.

Lain halnya dengan orang yang memiliki keinginan untuk bergerak maju. Dia akan dengan senang hati menghadapi tantangan yang ada di hadapan nya. orang yang benar- benar menyadari bahwa kehidupan memang membutuhkan sebuah kemajuan, dia akan menghadapi berbagai macam kesulitan yang datang kepadanya dengan penuh semangat.  Dia menyadari arti sebuah konsekuensi. Walaupun dia di haruskan memakan cabai ataupun cacing, dia akan melakukan nya tanpa keterpaksaan, melainkan dengan semangat. Walaupun dia di haruskan menikah dengan orang dari Etiophia, dia akan melakukan nya. walaupun dia tidak cinta, dia akan tetap melakukan nya. ***OK, mohon maaf bila kalimat yang saya tuliskan cukup membingungkan. Saya akan menjelaskan lebih lanjut lagi mengenai “mengapa orang yang paham terhadap nilai kemajuan kehidupan ini melakukan semua hal yang tidak di sukai dengan penuh semangat”*** Apabila manusia bergerak maju, dia tentu akan menghadapi rival –manusia yang lain- ataupun menghadapi alam –kenyataan hidup. Orang yang bergerak maju, tentu akan menghadapi sebuah kesulitan. Saya tidak mengatakan, bahwa orang yang bergerak maju akan melakukan semua hal dengan penuh semangat dan tidak menghadapi penderitaan. BUKAN !, bukan itu yang saya maksud. Orang yang bergerak maju tetap akan menghadapi penderitaan. Tapi, nilai dari penderitaan tersebut tidaklah sama dengan orang yang menghadapi tantangan dengan keterpaksaan. Nilainya lebih rendah !. Kesulitan yang dihadapi dengan semangat, akan berlangsung lebih menyenangkan. Orang yang menghadapi kesulitan, akan mendapatkan kemudahan setelahnya. Orang yang di haruskan menikah dengan orang Negro, bila dia benar- benar sadar bahwa dia harus menikahi orang Negro tersebut, dia akan lebih tabah menghadapi kenyataan yang tidak sejalan dengan keinginan nya tersebut. ***Saya cukup yakin, anda masih tetap kebingungan dengan makna hal ini. Penjelasan yang ilmiah terhadap hal ini ada di tempat yang sangat jauh dari percakapan di artikel ini***.

Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya. Apabila ada sebuah penjelasan yang lebih luas lagi terhadap suatu hal yang melebihi penjelasan sebelumnya –yang pernah ada, maka penjelasan yang sebelumnya itu akan di anggap salah –meskipun penjelasan yang sebelumnya di anggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat di pungkiri. Einstein berpendapat, bahwa “segala sesuatu hal di dunia ini adalah tidak terbatas”. Semua hal bisa menjadi mungkin. Dan semua hal bisa saja dilakukan. INGAT !... TIDAK ADA BATASAN ! –dan juga tidak ada aturan, dasar dan ketetapan. Einstein pun tidak menyukai matematika dan angka. Dia lebih menyukai IMAJINASI. Walaupun Einstein tidak bisa membuktikan adanya angka di luar angka matematika dasar yaitu 0, 1, 2, 3 dst, tapi dia tetap meyakini, ada angka di luar itu semua –di luar angka dasar Matematika!. Well, agar tidak lebih bingung, kita kembali pada pernikahan dengan orang Negro tadi. karena tidak ada batasan, maka semua hal bisa dilakukan. Bila seseorang yang menikah dengan orang Negro tersebut melakukan nya, dia juga bisa melakukan hal lain lagi. Bila dia meyakini TIDAK ADA BATASAN, bukankah akan menjadi lebih mudah bila dia kemudian menceraikan orang kulit Negro tersebut kemudian menikah dengan orang Jepang –yang dia sukai. INGAT !... TIDAK ADA BATASAN !.

Penjelasan mengenai sebuah kenyataan yang harus di lakukan yang menimbulkan penderitaan, namun bila di telaah lebih dalam lagi bisa menciptakan sebuah kebahagiaan baru, telah saya jelaskan di atas. Sekarang, saya akan menambahkan sebuah nilai positif (+) orang yang bergerak maju. Ternyata, lapangan Marathon yang saya ceritakan di paragraf pertama memberikan fasilitas minum gratis jika pelarinya sudah berlari sejauh jarak tertentu. Sungguh !, percayalah. Dunia ini akan memberikan kemudahan setelah kesulitan. Setelah para pelari kelelahan, dia akan mendapatkan minuman gratis. Minuman itu hanya sebuah air putih biasa. Tapi, apa jadinya bila air putih itu di minum pada waktu kita sedang dehidrasi (sangat haus). SANGAT SEGAR, BUKAN !. lain halnya apabila kita meminum air putih saat kita bermalas- malasan menonton TV. Rasanya pasti membosankan dan tidak ada yang spesial. Manusia –dan semua makhluk hidup- yang telah berjuang (bergerak maju), akan mendapatkan kemudahaan setelah perjuangan nya selesai. Dan dia akan mendapatkan KEBAHAGIAAN setelah perjuangan nya itu selesai. Itulah yang Albert Einstein sebut sebagai sebuah KESEIMBANGAN. Kita berjuang, menghadapi kesulitan dan akhirnya mendapatkan KEBAHAGIAAN. Orang yang tidak mau berjuang, akan menderita karena melalui semua kesulitan yang dunia ini berikan dengan keluh kesal. Dan, karena dia tidak juga bergerak maju, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan karena kesulitan nya tidak pernah dia selesaikan. Meskipun kesulitan nya hilang dengan sendirinya, dia pun tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang besar. Karena statusnya hanya JALAN DI TEMPAT. Kesulitan hilang, tapi tingkatan pengetahuan nya masih sama. Dia akan menghadapi apa yang di sebuat dengan rasa BOSAN. Itu tambahan nilai negatif (-) yang akan di dapatkan oleh orang yang tidak akan bergerak maju. Dia akan menghadapi KEBOSANAN. Karena dia tidak pernah melihat hal yang baru.

Sebuah kebosanan yang saya maksud adalah sebuah hal yang jauh lebih mengerikan daripada rasa bosan yang di ketahui banyak orang. Pernah suatu hari melalui situs sosial network, teman saya dari Italy mengatakan bahwa “Lebih dari sekedar rasa cinta. Rasa ingin tahu menyebabkan seorang wanita kehilangan keperawanan mereka”. Yap, cukuplah kita berbincang- bincang mengenai arti kebosanan disini. Tapi, satu hal lagi yang perlu saya tekankan. Semua arti dasar kehidupan ini di cetuskan juga oleh manusia. siapa sih yang mencetuskan nya?. Mari kita kembali pada sejarah !. bukankah peradaban di dunia ini di mulai dari Negara Kota Yunani. Lantas, siapa guru besar disana?. Ada banyak, di antaranya adalah Archimedes, Aristoteles dan yang paling awal adalah Plato. Apakah Plato adalah dewa?. BUKAN !. dia hanya manusia biasa –yang juga bisa melakukan kesalahan. Namun, makna arti kehidupan yang telah di ajarkan nya memberikan sumbangan peradaban manusia begitu besar hingga saat ini. tapi, mengingat esensial Ilmu Pengetahuan adalah “Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya”, maka tidak menutup kemungkinan bila ada sebuah ilmu pengetahuan yang lebih baik –dan lebih jelas lagi- yang akan menggeser nilai ajaran moral dan sosial yang telah di berikan oleh Plato.
Selesai.