Tampilkan postingan dengan label Pegangan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pegangan Hidup. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

Sumber Utama Ketidak Tenangan Jiwa; Ketakutan

KETIDAKTENANGAN JIWA  DARI KETAKUTAN YANG TIDAK DI SADARI.

Artikel ini berisi tentang:
Ganjalan hati yang ternyata adalah sebuah Ketakutan yang tidak di sadari selama bertahun- tahun. Ambisi yang tidak terkendali akan mengakibatkan tekanan jiwa. Ambisi yang tidak terkendali yang membuat ketidak tenangan jiwa sulit di sadari. Bekerja keras dan perfeksionis adalah sebuah ketakutan akan kegagalan yang sulit di sadari. Efeksamping dari sebuah tekanan dari ketakutan yang sangat beragam dan kompleks. Fokus berlebihan menutup inovasi.

SUMBER UTAMA KETIDAK TENANGAN JIWA; KETAKUTAN.
Sudah cukup lama, saya merasakan sesuatu hal yang sulit saya sadari sendiri. Selama bertahun- tahun, saya merasa selalu ada ganjalan hati, tapi tidak tahu ‘apakah itu?’. Menguak ganjalan hati itu, dulu bagi saya sangatlah sulit. kesulitan yang paling utama adalah karena
saya tidak menyadari –atau lebih tepatnya sangat sulit menyadari- hal itu. Mencari nya sama seperti menguak satu masalah terpendam dari beragam permasalahan yang kompleks dan sangat rumit. Bagai menemukan jarum di dalam tumpukan jerami. Selama bertahun- tahun, saya tidak sadar. Karena ke-TIDAK SADAR-an tersebut lah, yang membuat saya selalu mendapati beragam keresahan. Keresahan yang memicu puluhan masalah yang lain nya. karena sebuah sumber tunggal itulah, beragam ke-TIDAK TENANGAN jiwa datang menyeliputi saya. sumber tunggal itu, tidak lain dan tidak bukan adalah KETAKUTAN.

Saya merasa telah mendapatkan sebuah instuisi, ketika saya menyadari ketakutan ini. pada mulanya, saya membaca sebuah buku yang berjudul ‘Google Speak’ karya Janet Lowe. Entah di Bab mana –saya lupa, tapi saya membaca sebuah halaman tentang Larry Page yang sakit dan untuk sementara waktu tidak mampu ikut memimpin perusahaan Google Inc. Larry Page sakit punggung karena kecelakaan saat bermain BaseBall. Yap, perusahaan Google yang bernilai miliar dolar di pimpin oleh seorang anak muda yang masih suka main- main. Tapi, tetap saja ya, Google masih tetap berdiri dan malah mampu berkembang lebih besar lagi. saat saya membaca halaman buku tersebut, muncul pertanyaan; mengapa perusahaan raksasa Google tidak di pimpin dengan sangat serius !?. Seakan- akan Larry Page dan Sergey Brin (pendiri Google) memimpin perusahaan itu dengan santai. Saya kemudian bertanya kepada diri saya sendiri; mengapa saya tidak bisa santai seperti mereka?. pertanyaan itu memunculkan sebuah jawaban; ‘karena saya sangat berambisi’. Setelah itu, muncul pertanyaan lain; ‘bukankah diperlukan ambisi yang besar untuk mencapai keinginan yang besar !?. apa yang salah dengan hal itu !?’. semakin lama, kepala saya mengeluarkan berbagai macam pertanyaan. Saya sempat berhenti sejenak untuk berfikir karena saya sudah merasa sangat banyak pertanyaan di dalam kepala saya. lalu, saya menelusuri buku tersebut kembali. Membacanya lebih jauh lagi, dan mengambil kesimpulan; Google Inc bisa sangat sukses karena mereka memiliki inovasi dan melakukan langkah besar. Inovasi lah yang membuat mereka memiliki fondasi bisnis yang hebat, dan langkah besar lah yang membuat mereka mampu mengembangkan inovasi tersebut sehingga menghasilkan keuntungan perusahaan yang besar. Tidak sampai di sini penelusuran saya. Saya masih dalam keadaan penasaran yang sangat besar saat itu. hingga sekitar 1 minggu, barulah rasa penasaran saya terjawab. Saya melewati tulisan tentang perjalanan pencarian saya terhadap rasa penasaran saya tersebut karena akan sangat banyak hal yang perlu saya tuliskan bila saya tidak melewatinya.

Akhirnya, saya menyadari, bahwa selama ini saya mengalami ketakutan yang sangat besar. TAKUT BILA GAGAL. Sehingga, saya menghabiskan seluruh waktu luang yang saya punya untuk belajar, bekerja dan melakukan aktivitas guna menggapai impian saya tersebut –dan hampir tidak ada waktu untuk bermain baseball seperti yang Larry Page lakukan. ketakutan memicu saya untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ketakutan memicu saya untuk belajar mempelajari hal lebih banyak dari setiap menit waktu yang saya miliki. Dan ketakutan yang membuat keresahan jiwa saya muncul. Dan KETAKUTAN yang membuat saya tidak bisa berinovasi seperti mereka (Larry& Sergey). Memang benar, sebuah ketakutan terkadang di butuhkan dalam hidup ini. ada pepatah yang mengatakan bahwa; “Ketakutan lah yang menyelamatkan jiwa mu. bila manusia tidak memiliki rasa takut, mereka akan menyebrang jalan dengan menutup mata”. Tapi, saya fikir, ketakutan yang saya miliki tidak tepat dan bukan di tempat yang tepat (bagi saya).

Beragam ketakutan itu memicu sebuah efek samping lain. Dan efek samping lain itu ternyata memicu efek samping yang lain nya lagi, hingga seakan- akan semua efek itu SANGAT- SANGAT RUMIT sekali bila di rasakan –dan lebih rumit lagi untuk di urai dan di pecahkan pada akar permasalahan nya. efek- efek samping itu akan saya tuliskan di bawah ini.

Ketakutan memicu semangat. Semangat memicu hiper aktivitas. Hiper aktivitas memicu kurang nya waktu. Waktu yang kurang memicu kurangnya belajar hal lain –sesuatu yang baru, sehingga inovasi besar tidak bisa di temukan. Hiper Aktivitas memicu fokus kepada aktivitas yang sedang di kerjakan. Fokus yang berlebihan menutup solusi inovasi.

Ketakutan memicu keberanian menghadapi hal yang baru. Menghadapi hal baru yang benar- benar besar memicu usaha untuk meningkatkan kepercayaan diri (optimisme) yang besar pula. Kepercayaan diri yang terlalu besar memicu sifat Megalomania. Megalomania yang tidak di sadari (karena terlalu sibuk melakukan aktivitas) menyebabkan perasaan diri seakan menjadi orang besar. Perasaan percaya diri sebagai orang besar yang tidak di sadari dengan kenyataan lingkungan di sekitar nya membuat salah pemahaman terhadap rekan kerja. Salah pemahaman membuat kurang nya sikap toleran. Sikap toleran yang kurang menyebabkan rasa bermusuhan dan menimbulkan pertikaian. Di samping sikap toleran yang kurang, terdapat juga sikap toleran yang salah. Sikap toleran yang salah memicu GAP (jarak) antara rekan dalam aktivitas keseharian. Sebuah GAP dan rasa toleran yang kurang memicu rasa sakit hati yang sedikit demi sedikit membawa dampak pada amarah yang memuncak. Amarah besar menimbulkan konflik besar.
Ketakutan memicu sikap perfeksionis. Sikap perfeksionis yang tidak di sadari dengan baik dalam sebuah kerjasama dengan tim akan menghasilkan miss komunikasi (kesalahan pemahaman). Kesalahan pemahaman menimbulkan konflik.
Ketakutan memicu evaluasi terhadap rencana. Ketakutan yang berlebihan memicu evaluasi terhadap rencana yang selalu di lakukan bukan di waktu yang tepat dan selalu di lakukan dimana saja. Evaluasi di waktu yang tidak tepat membuat keadaan diri sendiri yang sering bergumam (tidak terlalu fokus terhadap aktivitas di depan kita dan sering lupa).
Ketakutan memicu sikap waspada. Ketakutan yang berlebihan memicu sikap waspada yang sangat besar. Dalam dunia bisnis yang penuh dengan pengkhianatan, kewaspadaan yang berlebihan menimbulkan prasangka buruk kepada siapa saja. Prasangka buruk yang berlebihan menimbulkan sikap membenci yang kurang berdasar. Sikap benci membuahkan bibit- bibit konflik yang siap berkobar kapan saja.

Semua efek diatas berakar pada sebuah ketakutan. Yap, selama ini memang semua berjalan dengan baik. tidak masalah bagi saya bila saya bertindak berdasarkan efek- efek kompleks yang timbul. Karena saya tidak peduli apa yang orang lain katakan terhadap saya ataupun tindakan saya. Semua efek itu bukan MASALAH BESAR bagi saya. semua sikap yang di timbulkan dari efek ketakutan memang di butuhkan dalam dunia yang penuh dengan pengkhianatan seperti ini (dunia bisnis). Tapi, jika semua itu tidak di tempatkan pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat, semua nya bisa menjadikan jiwa terasa ada yang membebani. BUKAN ... !, bukan seperti ini yang saya inginkan. Yang saya inginkan adalah menjalani pilihan saya dengan seluruh jiwa saya. menjalani kehidupan yang seutuhnya. Memang, dengan adanya ketakutan, motivasi semakin membesar, kewaspadaan menjadi tinggi, dan semua waktu luang di gunakan dengan sebaik- baik nya. Yap, seperti apa yang di katakan Hitler sewaktu melakukan perluasan runag hidup rakyat Jerman; ‘manusia hidup berdasarkan konsekuensi, bukan berdasarkan apa yang seharusnya. Karena apa yang seharusnya itu tidak pernah ada’. Sungguh, hal itu tidak sesederhana apa yang kita kira. Apakah Anda bisa bekerja tanpa sebuah motovasi, tetapi karena sebuah pandangan hidup; bahwa manusia itu memang harus bekerja keras untuk melangsungkan hidupnya?. Memang, ketika sebuah contoh kasus yang saya tuliskan tersebut di lakukan pada sebuah aktivitas yang biasa- biasa saja atau memiliki sebuah tingkat kesulitan yang kecil, hal itu mungkin cukup banyak orang yang bisa melakukan nya. tapi, ketika kita di hadapkan pada sebuah situasi dimana nyawa kita selalu terancam, kesulitan- kesulitan yang sangat besar selalu menghadang dan hal seperti itu berlangsung seumur hidup, saya pikir akan menjadi sangat sulit bagi kita untuk benar- benar berani terjun ke dalam dunia yang seperti itu –dan bertahan seumur hidup di dunia seperti itu.

Well, ini semua tidak mudah. Mengendalikan ketakutan di sebuah tempat yang penuh dengan mara bahaya yang besar. Anda seperti terdampar di sebuah Taman Jurasic (Jurasic Park) dan harus bertahan hidup di sana dengan cara berburu dan di kelilingi berbagai macam ancaman dari Karmivora Dinosaurus yang selalu ingin memakan tubuh kita. untuk itu, kita harus mengubah sudut pandang kita terhadap dunia ini. hidup berdasarkan konsekuensi, dan menjalani hidup seutuhnya. Lihat artikel lanjutan ini: Mengubah Sebuah Sudut Pandang.

Mengurangi Sikap Memendam dan Penalaran dari Mitos Dogma Orang Tua Terkasih- Syair.

Mengurangi sikap memendam dan penalaran dari mitos dogma orang tua terkasih- syair.
Kudus, 15 April 2013.


Pernahkah kamu membenci seseorang, entah karena sikap nya, tindakan nya maupun keputusan nya...
Dan kamu menggumam, menyimpan dendam dan kebencian.
Dan bahkan, memprovokasi teman- teman mu untuk ikut serta agar membenci dirinya.

Namun, kenyataan yang kamu dapatkan hanyalah rasa kesal dan lelah yang menyakiti mu.
Dan teman- teman mu yang memang mendukung argumen mu, tapi tetap tidak melakukan perlawanan langsung kepada –nya.
Sungguh, kamu membencinya. Dan seringkali, kamu mengemukakan sikap ketidak-senangan mu kepada nya, entah dengan bagaimana.
Tetapi juga, entah kenapa.
Dia seakan- akan tidak ada respon. Tidak memiliki respon sedikitpun atas sikap mu.
Dia tidak menderita tekanan batin seperti mu.
Dia tertawa, tersenyum dan bercanda dengan teman- teman nya.

Lalu, untuk apa sikap memendam yang kamu miliki itu?.
Hanya untuk memberi tahu dia agar dia merubah sikap nya kepada mu?.
Tetapi, dia tidak tahu.
Bila mungkin dia tahu, dia pun tidak langsung begitu saja mengubah sikap nya –yang telah mendarah daging itu- kepada mu.

Ibuku dan kakek ku –yang tercinta- menginginkan ku untuk bersikap pasrah dan bersyukur, karena semua ini ada yang mengatur.
Bola kehidupan, bagi mereka akan berputar. Dan kita akan –dengan begitu saja- sampai di posisi atas, lalu orang yang ada di posisi atas akan berada di bawah. Suatu hari nanti –DENGAN BEGITU SAJA.
Tapi, roda itu tidak akan berputar jika tidak diputar.
Kehidupan tidak memiliki mata. Tidak ada yang mengatur. Dan sama sekali tidak memberi belas kasihan –KARENA KEHIDUPAN ITU BUTA.
Orang- orang yang percaya bahwa roda kehidupan akan berputar seperti demikian, akan mendapatkan kekecewaan ketika mendekati kematian.
Well, tidak masalah bila itu yang mereka inginkan. Yang asti, aku tidak memilih jalan yang mereka pilih.
Itu konsekuensi untuk mereka, dan aku tidak perlu memikirkan lebih jauh apa yang akan terjadi untuk mereka kelak.
Dan ini adalah konsekuensi ku, yang benar- benar telah siap ku ambil.

Selama ini, aku berfikir terlalu jauh. Sifat materialisme ini, tidak terkendali.
Keseimbangan kehidupan ini tidak ada yang mengatur. Dengan bukti ilmiah, terdapatnya orang gila.
Orang gila adalah orang yang kehilangan kendali dan keseimbangan.
Tidak akan ada yang akan memberitahu umat manusia sebuah kebenaran mutlak dan absolut.
Akupun tidak tahu, apakah suatu hari akan benar- benar muncul sang-maha, entah dari mana.
Tapi yang pasti, aku membatasi pengetahuan ku saat ini.
Tenggelam dalam kebodohan?, Tapi, apa peduli ku !?.

Aku melihat, dengan seuruh kesadaran ku, orang yang lemah –khususnya di tempat ini- akan di injak- injak.
Sungguh... aku melihat nya !?.
Meskipun batasan ku sebelumnya tentang sikap orang cukup tinggi. Namun, sekarang aku melonggarkan batasan ku tersebut.
Sekarang, aku MELONGGARKAN batasan ku.
Aku akan merespon, sikap yang menurutku keluar dari batasan ku.
Dengan cara yang paling mudah dan paling efektif. Bukan cara yang rumit namun dengan ke-efektivan yang sama (atau mungkin kurang efektif).
Akan kulakukan, apa yang harus ku lakukan. Titik.
Dan aku tidak peduli dengan ramalan masa depan dari kakek dan ibuku yang terkasih itu.

Yang pasti, dan yang terpenting, yang ku percayai saat ini...
Aku harus mengurangi sebesar mungkin, sikap memendam ini.

Logika Tersembunyi

LOGIKA ILMIAH NYATA NAMUN TERLIHAT SEPERTI PEMIKIRAN KONYOL

Artikel ini berisi tentang:
Penjelasan yang rasional dan logis terhadap sebuah teory dan sudut pandang, yang apabila tidak di cermati dengan tajam akan nampak seperti bualan dan kegilaan dari sebuah pemikiran. Sikap diri yang terbaik bila memiliki sebuah sudut pandang yang sulit dijelaskan kepada orang lain. Bukan orang yang memiliki sudut pandang berbeda yang harus di salahkan karena pemikiran yang berbeda, melainkan memang itu adalah konsekuensi yang harus di jalani di dalam dunia yang tidak adil ini. memahami bahwa sebuah pemikiran berbeda akan mengakibatkan sosialisme dengan rekan- rekan menjadi terganggu. Apa yang harus dilakukan terhadap sosialisme yang tidak baik yang dikarenakan pemikiran yang berbeda.


LOGIKA TERSEMBUNYI.
Behind of The Logic atau Logika tersembunyi, adalah sebuah pengantar yang sering saya gunakan untuk menjelaskan secara ilmiah –kepada diri sendiri- mengenai berbagai macam alasan atas tindakan saya –yang terkadang oleh sebagian besar orang- di anggap bodoh dan tidak masuk akal. Saya akan mengambil contoh kasus; dulu, manusia merasa mustahil untuk mencapai bulan. Banyak orang mengatakan; bagaimana bisa, kita –manusia- sampai ke sana –ke bulan?. Tapi, ini adalah sebuah pola pikir orang awam. Tapi, pemerintah di negara maju bukanlah orang awam. Mereka selalu berfikir dan mengajukan pertanyaan, “bagaimana caranya?”. Bukan mengeluarkan pernyataan “bagaimana bisa !”. hal pertama, membuat orang
berfikir, “bagaimana caranya untuk mewujudkan hal tersebut?”. hal kedua hanya akan membuat diri sendiri kesal dan pesimis, karena sebuah keinginan yang di dasarkan pada ketidak yakinan dalam melakukannya, menjadikan setiap aktivitas dalam mewujudkannya di iringi dengan ketiadaan tujuan. maksud saya, orang yang pesimis selalu berfikir bahwa hal yang dilakukannya mungkin akan sia- sia saja, sehingga dia berada dalam perasaan malas dan ragu ketika melakukan rencana guna mewujudkan keinginannya. Kembali ke topik pembicaraan. Pemerintah di negara maju (contohnya adalah Amerika dan Uni Sovyet, dulu), mencoba mewujudkan hal itu. jika orang awam berfikir “hal itu tidak bisa di lakukan”, karena mereka tidak tahu bagaimana caranya. Mereka menganggap hal itu mustahil dilakukan. Tapi, para pemimpin negara memiliki berbagai macam laboratorium teknologi, dimana mereka menganalisa dan meneliti sangat jauh untuk mendapatkan jawaban “bagaimana manusia bisa sampai ke bulan?”. Dari penelitian tersebut, para ahli menyimpulkan, bahwa dengan cara mengitari bumi sebanyak beberapa kali, manusia bisa terlepas dengan gaya gravitasi dan mencapai bulan. Untuk mengitari bumi, sebuah alat yang berbahan bakar “Ter” –nama bahan bakar roket, bisa digunakan untuk melakukannya. Kemudian para ahli ini mengirimkan laporannya kepada pemerintah dan pemerintah menyimpulkan bahwa “manusia bisa ke bulan”. Inilah alasan ilmiah atas logika yang tersembunyi. Kesimpulan dari cerita di atas adalah; sebuah pernyataan yang mustahil, bisa di patahkan apabila kita mengetahui cara untuk melakukannya. Tapi, seringnya, cara untuk melakukannya ini membutuhkan penjelasan yang sangat panjang dan berliku- liku. Sering juga penjelasan ini tidak bisa di jelaskan secara langsung. sering pula, penjelasan ini tidak bisa di mengerti banyak orang secara langsung karena latar belakang orang yang akan di beri penjelasan tersebut tidak mencukupi untuk bisa mengerti. Oleh sebab itu, mereka yang tahu bagaimana cara melakukan hal yang mustahil tersebut, merasa lebih baik diam dan melakukan begitu saja tindakan itu. karena, sangat sulit menjelasankan hal yang mustahil ini kepada orang awam –orang yang tidak percaya. Yang dimana sebenarnya, pernyataan “bagaimana bisa orang mencapai bulan !” bisa di jawab dengan logika ilmiah. Karena sangat berliku dan panjangnya penjelasan tersebut, maka sering kali, penjelasan tersebut tidak mampu dimengerti oleh orang yang di beri penjelasan, dan orang yang mengerti –orang yang merasa mampu mewujudkan hal yang mustahil tersebut- merasa lebih baik diam dan melakukan hal itu begitu saja *** kalimat ini sengaja saya ulangi lagi untuk menekankan arti inti penjelasan saya, bukan karena kekeliruan penulisan ***. Saya pribadi pun bertindak seperti itu. saya merasa lebih baik diam daripada menjelaskan panjang lebar kepada orang yang menganggap saya bodoh. Mereka mungkin menganggap saya bodoh. Tapi, saya tidak pernah menganggap diri saya seperti itu. saya hanya memilih “lebih baik dianggap bodoh” dan membiarkan mereka mencemooh saya, karena lebih baik seperti itu, daripada membuang banyak waktu dan tenaga untuk menjelaskan pemikiran saya yang begitu panjang –namun sebenarnya nalar dan logis.

Karena saya yakin !, ada keuntungan di balik ini semua. Ketika saya mampu mewujudkan rencana saya –yang di anggap bodoh dan tidak masuk akal, orang awam yang tidak mengerti akan mengatakan “bagaimana bisa dia melakukan hal itu, oooh, sangat hebat dan luar biasa !!!”. padahal, hal tersebut bisa di jelaskan secara nalar, lumrah dan sederhana.

Yap, dunia ini menurut saya tidak adil, dan tidak pernah menjadi adil. Karena dunia ini cacat. Saat saya dianggap bodoh, terkadang tersirat di dalam benak saya “mengapa mereka tidak bisa mengerti saya. mengapa mereka menjauhi saya karena pola pikir yang berbeda ini. apakah saya salah?. Apakah saya tidak bisa bergaul dengan mereka?. Apakah saya adalah orang yang penuh emosi dan sukar di ajak bekerja sama, sehingga mereka menjauhi saya?”. pertanyaan tersebut sering muncul dan terkadang membuat diri saya pesimis, merasa menjadi orang yang gagal, dan akhirnya merasa diri ini merana. Dan terkadang, rasa merana ini semakin menjadi- jadi ketika pemikiran saya tersebut belum bisa di buktikan kebenarannya –belum bisa saya wujudkan. Tapi, itu adalah pola fikir lama. Saya tidak berfikiran begitu lagi, karena saya sudah sampai pada tahap ‘Pemahaman’. Saya benar- benar paham, tempat saya bukan di antara mereka. dan memang, tujuan saya tidak sama dengan tujuan mereka. oleh sebab itu, pola pikir saya tidak sama dengan mereka. dengan pemahaman yang mendasar tersebut, di tambah dengan perasaan yang telah terbiasa di anggap seperti itu –di anggap orang bodoh , saya mampu melalui hari- hari saya dengan lebih baik. melakukan kembali aktivitas riset saya dengan riang, senang dan optimis.

Konsekuensi Atas Pilihan Hidup.

ALASAN TUHAN MENCIPTAKAN KONSEKUENSI- GOD DOES’NT PLAY DISC.

Artikel ini berisi tetang:
Bukan jawaban yang saya cari, namun pertanyaan itu sendiri yang tidak bisa saya temukan. Apa alasan Tuhan menciptakan konsekuensi. Tuhan tidak bermain dadu. Beyond good and the Evil- Frederick W Nietsche. Relativitas yang di terima oleh manusia ketika mendapatkan sesuatu atau melakukan sesuatu. Kelemahan atas pilihan jalan hidup (masing- masing jalan hidup memiliki konsekuensinya masing- masing). Penjelasan mengenai sikap yang –terlihat- jahat, namun bijaksana apabila di terapkan.
Catatan: Artikel ini adalah sebuah terjemahan karya sastra Frederick W. Nietsche- Beyond good and the Evil (Diantara hal yang baik dan hal yang buruk). Direkomendasikan untuk perlu mengetahui aspek lebih lanjut lagi mengenai “Beyond good and the Evil” untuk lebih mengerti makna yang terkandung dalam artikel ini, dan tidak terjadi kerancuan pengertian.


KONSEKUENSI ATAS PILIHAN HIDUP.
Saya menulis artikel ini langsung ketika saya mendapatkan atas jawaban dari misteri hati saya mengenai “konsekuensi hidup”. Sebuah pertanyaan yang selama bertahun- tahun mengganjal dalam benak saya. bukan karena saya tidak menemukan jawabannya selama bertahun- tahun, tapi misteri itu sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang tidak bisa saya temukan. Pertanyaan itulah misterinya.

Bunyi dari pertanyaan saya adalah; “apa yang menjadi alasan Tuhan menciptakan konsekuensi?”. Pertanyaan ini bisa menjawab banyak pertanyaan yang sebelumnya sangat kompleks. Artinya, pertanyaan ini adalah sebuah filosofi bagi beragam banyak jawaban. Dengan terpecahkannya satu pertanyaan ini, saya bisa menjawab banyak hal berbeda dengan hanya satu jawaban saja. Sebelumnya, perlu anda ketahui. Kosmologi pikiran (alam pikiran) saya adalah bahwa semua hal di dunia ini memiliki fungsi dan tujuan dalam penciptaan nya. “God did’nt playing Cube”, atau bila di terjemahkan; “Tuhan tidak bermain dadu”. Itu yang di katakan einstein ketika berdebat dengan Rohm mengenai mekanika Quantum. Artinya, ya seperti yang saya katakan di atas; Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan bermain- main, tapi dengan sebuah tujuan tertentu. Sekarang, apa yang menjadi tujuan Tuhan menciptakan konsekuensi?. Saya akan menjelaskan lebih detail dengan sebuah contoh kasus yang menemani agar mudah menjelaskannya. Misalkan saja; saya menginginkan jadi artis. Taukan, bagaimana sikap artis kalau dia sudah lama menjadi artis?. Cuek bebek !. percaya deh dengan saya. saya memiliki teman artis yang sudah berkiprah dalam dunia entertaimen sejak kelas 4 SD. Walaupun di depan banyak orang terkadang dia ramah, tapi dalam hati, 95% artis itu cuek bebek dengan fands nya. nah, sekarang pembahasan kita akan masuk ke dalam metafisika lebih dalam lagi. Ini mengenai “Baik dan Buruk”. Saya ada sisipan sedikit, Beyond Good and the Evil, karya Frederick Wilhelm Nietsche dalam artikel ini. seorang artis yang cuek bebek terhadap fands nya. dia berbohong dan mendustai fands nya ketika mengatakan “I Love You All”, atau “Tanpa kalian, aku tidak berarti”, atau juga “kalian adalah hidupku. Tanpa kalian, saya tidak pernah ada di sini”, dan berbagai macam kata- kata menarik yang di gelontorkan oleh para artis tersebut. pertanyaan nya, apakah dia tidak merasa berdosa mengatakan hal itu?. atau sebuah contoh lain; seorang artis yang main sinetron. Dia bekerja dengan sutradara baru –sutradara yang masih baru dan belum memiliki pengalaman dalam dunia entertaimen sebelumnya. Artis itu melakukan banyak kesalahan dalam aktingnya. Sehingga, si sutradaranya marah besar. Karena budget (dana cadangan) yang di miliki sutradara tersebut sedikit, sehingga karena artis tersebut melakukan banyak kesalahan dalam akting nya, sehingga banyak film yang terbuang. Karena banyak film yang terbuang, maka sutradara tersebut kehilangan banyak uang. Dia kemudian memakai uang budgetnya untuk menutup kerugian tersebut. nah, karena budgetnya sedikit, kerugiannya tidak bisa di tutup lagi, sehingga filmnya tidak selesai dan gagal tayang. Itu semua karena kesalahan artis yang menurut sutradara tersebut tidak pecus bekerja. Tapi, artis tersebut menganggap itu adalah kesalahan sutradara karena menyiapkan uang budget yang mepet. Apabila uang budget nya banyak, film itu bisa selesai dan keuntungan dari penayangan film tersebut akan sangat banyak (bisa menutup kerugian yang banyak pula). Artis itupun tidak ambil pusing terhadap kerugian sutradaranya. Sutradaranya marah- marah ke dia, tapi dia malah pulang kerumah seperti tidak memiliki dosa. Maklum, artis !, pastilah mukanya tebal –kalau tidak bermuka tebal, tidak akan jadi artis. *** Okey... cukup panjang ya ceritanya. Tetap ikuti terus, karena penjelasan saya memang panjang –supaya anda mengerti***. Pertanyaan nya, apakah sikap artis itu bisa di benarkan?. Siapa yang benar dan siapa yang salah?.

Saat saya pertama kali masuk ke lingkungan organisasi, saya memiliki pembantu yang memang bertugas membantu saya. saat saya pertama kali bekerja dengan nya, saya selalu membantunya bila menemui kesulitan. Namun, lambat laun, dia menjadi manja. Kemudian, saya mengambil keputusan untuk tidak membantunya lagi. Lalu, terdengar kabar beredar, bahwa menurut dia –Staff saya di kantor- sekarang saya ini berubah. Tidak lagi pengertian, tidak lagi perhatian, dan keras kepala. Tapi, saya berfikir, kalau saya membantunya terus, dia tidak akan maju. Dia akan terus menjadi pribadi yang manja. Di sisi lain, pekerjaan saya sendiri menjadi berantakan karena saya sering membantunya. Apakah sikap saya salah/ benar?. Dan kebanyakan dari rekan sejawat saya, memang membantu staff kantor mereka.. ya, hasilnya, pekerjaan mereka kacau, staff mereka menjadi manja dan pekerjaan mereka selalu tidak bisa di selesaikan tepat waktu. Tapi, banyak orang menganggap prilaku saya salah. Mereka berfikir, saya tidak berprikemanusiaan. Tapi, saya berfikir, saya melakukan semua itu agar mereka bisa mandiri. Kedua contoh diatas adalah sebuah pertanyaan antara benar dan salah. Siapa yang bisa menjawabnya?. Mungkin hanya Tuhan. Tapi, untuk sementara, mari kita coba jawab sendiri.

Ini adalah sebuah konsekuensi atas hal yang kita perbuat. Atas jalan yang kita tempuh dan kita pilih. Semua gejolak itu pada dasarnya diterima dengan kapasitas yang sama –secara objektive, tanpa memperlihatkan sudut pandang orang tertentu. Tapi, penerimaan kita yang berbeda –bila di pandang secara subjektive, berdasarkan sudut pandang orang tertentu. Masih bingung?. Saya akan menjelaskannya lagi. Artis seperti contoh saya di atas, akan menerima kata- kata kasar dari si sutradara yang bangrut. Anggap saja, si sutradara mengatakan seperti ini; “eh, artis gak pecus bekerja. Kamu hanya bisa mengacaukan dan menghancurkan orang lain. Tidak bisa bekerja dengan baik. heran sekali, mengapa orang bodoh seperti kamu bisa jadi artis !?”. nah, karena yang di caci maki itu artis, maka orang itu –artis tadi yang di caci maki- akan merasa baik- baik saja. Artis pastilah orang yang bermuka tebal, tidak banyak memiliki rasa sungkan atau malu. Tapi, apabila yang di di caci maki adalah seorang kuli bangunan; “eh, kuli bangunan gak pecus bekerja. Kamu hanya bisa mengacaukan konstruksi bangunan dan menghancurkan rumah. Tidak mampu bekerja dengan baik. mengapa orang bodoh seperti kamu bisa di angkat jadi kuli bangunan !?”. kata- kata yang di lontarkan pada dasarnya sama. Tapi, saya yakin, si kuli bangunan akan lebih sakit hati menerima kata- kata itu. maklum, kuli bangunan. Yang di kedepankan hanyalah otot dan emosi ketika mengangkat beban bangunan saja. Nah, penerimaan inilah yang berbeda. Perasaan si kuli bangunan akan lebih sakit hati, ketimbang perasaan si artis dengan kata- kata caci maki yang sama.

Dalam sebuah kehidupan, tidak ada yang baik dan benar. Hal itu tergantung dari si penerima saja. Tidak ada yang bisa menghakimi seseorang bila dia bersikap anti sosial di lingkungan masyarakat yang memiliki sosialisasi tinggi. Tidak ada yang bisa mengatakan bahwa orang itu salah, atau orang itu benar. Jika saya dalam keadaan seperti ini, di salahkan banyak orang karena sikap saya yang berbeda atau sikap yang menurut mereka salah, akan saya ambil itu. saya akan membiarkan orang- orang menganggap diri saya salah. Tidak perlu mengubah pandangan mereka. karena, memang anda melakukan hal yang beda –yang menurut mereka salah. Tapi, jika ada kesempatan, berikanlah mereka melihat sudut pandang anda. Tapi, kebanyakan hal ini tidak mudah dilakukan. Membuat orang lain membenarkan sudut pandang mereka?, bagi saya, hal ini susahnya minta ampun. Seperti halnya merubah orang malas menjadi rajin. Ini memerlukan waktu yang lama dan proses yang panjang. Tapi, yang paling utama yang harus anda pegang adalah; biarkan mereka menjelek- jelekan anda. karena, pasti mereka sudah melakukannya. Yang pasti, jangan biarkan ucapan mereka mengganggu posisi anda. dalam arti; jangan sampai, ucapan mereka menggerogoti pendapat atasan anda atau relasi anda. yang dimana, hal itu bisa mengakibatkan kedudukan anda goyah dan –bisa saja- tumbang. Asalkan itu semua adalah ucapan, yang tidak berpengaruh dengan posisi anda, biarkan mereka mengatakan apa saja tentang anda. ini adalah konsekuensi anda. konsekuensi mengambil jalan yang berbeda. Kelebihan anda, anda bisa lebih maju daripada rekan anda yang lain –dengan memilih jalan yang berbeda. Sisi buruk/ Resiko anda; anda akan di hujat banyak orang –dan anda akan merasakan banyak serangan. Posisi anda lebih rancu. Sekarang, ini mengenai soal pilihan saja; yang mana yang harus anda pilih?. Hidup tenang sebagai orang yang biasa saja. Atau, hidup dengan tantangan sebagai orang yang lebih maju?.

Mereka –yang hidup biasa saja- juga akan memiliki kekurangan/ kesedihan/ kendala lain juga kok. Orang yang hidup tenang, biasanya di hantui dengan perasaan bosan karena melakukan aktivitas monoton. Dan terlebih, mereka akan ketakutan setengah mati apabila menghadapi tantangan baru. Dan, mereka sering berfikir, untuk lebih memiliki standart kehidupan yang lebih baik, namun mereka tidak mampu menggapainya –karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk menggapainya. Bukan keresahan hati yang mereka rasakan, melainkan rasa merana diri. Merana sebagai orang yang menginginkan sesuatu, tapi tidak mampu menggapainya. Jika seorang yang ingin maju, mereka bisa merasakan kehidupan mewah, merasakan asyiknya kehidupan yang tidak pernah dirasakan orang awam. Tapi, efek buruknya, mereka akan menemui banyak tantangan dan hambatan. Terkadang di puncak atas, terkadang juga di bawah. Itu semua konsekuensi. Saya tidak pernah menemui orang yang mendapatkan sesuatu tanpa harus melakukan konsekuensi atas perbuatan/ hasil yang dia lakukan/ dapatkan.

Namun, untuk menghadapi jalan yang telah anda pilih, atas konsekuensi yang harus anda tanggung, anda harus bisa membuatnya menjadi “relative” agar anda bisa mengendalikan diri anda di posisi anda. lakukan hal yang menurut anda harus anda lakukan. walaupun hal tersebut terkadang tampak tabu bagi masyarakat awam. Anda tidak bisa memperoleh hal yang spesial dengan cara yang umum. sepanjang sejarah, saya belum pernah menemuinya.

Jadi, intinya, semua hal ada konsekuensinya. Baik yang hidup sederhana, maupun yang hidup bergelimang harta. Konsekuensi di ciptakan Tuhan agar manusia menderita/ merasakan sakit. Alasan Tuhan menciptakan rasa sakit adalah agar manusia bisa merasakan nikmat/ bahagia. Apa yang anda rasakan apabila semua keinginan anda terpenuhi?. Tentu saja rasa bosan. Setelah anda melewati tantangan panjang dalam menggapai sesuatu, barulah anda merasakan kebahagiaan. Apabila sesuatu di dapatkan dengan mudah, pasti kegembiraan yang di hasilkannya akan setara dengan kesedihan yang di akibatkan atas apa yang telah dilakukan sebelumnya. Artinya, kebahagiaan anda sedikit karena kesulitan dalam melaluinya pun sedikit. Ini adalah sebuah ilmu pengetahuan untuk anda dan saya, agar bisa lebih bahagia karena mengerti hidup. Kebahagiaan itu tidak ada tolok ukurnya. Tapi, kebahagiaan itu bisa di ukur oleh subjek yang anda tuju. Apabila saat ini anda adalah seorang karyawan dengan gaji yang mencukupi, anda bisa merasa bahagia dan menjalani aktivitas monoton –yang tentu suatu saat akan menjadi kebosanan- jika anda membandingkan diri anda dengan kehidupan orang- orang primitif di pulau Papua. Tapi, jika anda membandingkan standart kehidupan anda dengan artis papan atas dunia, anda akan merasa merana. Karena posisi anda lebih rendah dari mereka. tapi, tetap, apapun jalan yang anda pilih, selalu ada konsekuensinya.

Catatan Kaki: Artikel ini adalah sebuah penterjemahan dari sebuah karya sastra Frederick Wilhelm Nietsche- Beyond good and the Evil. Saya mencoba menjelaskan nya kepada orang yang ingin tahu mengenai karya sastra tersebut, dengan bahasa yang lebih mudah di pahami daripada buku aslinya –yang sangat sulit di pahami.
Penulis dan penterjemah makna: Willy Yusuf Rahmadi.

Jumat, 01 Februari 2013

Alasan Manusia Tidak Bergerak Maju.

MENCERMATI KONDISI STATUS SOSIAL DI DALAM MASYARAKAT.

Artikel ini berisi tentang:
Status sosial di dunia. Kriteria dan contoh orang yang menguni piramida status sosial. Alasan dan penjelasan “mengapa manusia tidak bergerak maju”. Pandangan hidup Fasisme Klasik. Pengertian Fasisme Klasik dan Modern.

ALASAN MANUSIA TIDAK BERGERAK MAJU.
Status sosial hampir sama seperti sebuah piramid. Bagian atas, di huni oleh orang yang memiliki status sosial yang tinggi. Kita bisa menyebut orang- orang ini adalah KALANGAN ATAS. Contohnya; artis papan atas, presiden, pengusaha besar, dll. bagian tengah, di huni
oleh masyarakat kalangan menengah. Contohnya; pengacara, anggota DPR tingkat provinsi, pengusaha perusahaan menengah, Manajer departemen, dll. Bagian bawah adalah bagian yang paling besar, di huni oleh masyarakat kalangan bawah yang meliputi; buruh, petani, pengemis, gelandangan, dll. *** Devinisi atas piramida kehidupan sosial saya dapatkan dan saya salin dari buku “THE RICH MAN FROM BABILON”, jadi mohon jangan tersinggung atas pengelompokan status sosial yang saya tuliskan, karena itu tidak terlalu mewakili terhadap keadaan yang sebenarnya, karena keadaan yang sebenarnya memiliki corak dan ragamnya masing- masing***. Masyarakat kalangan bawah tentu menginginkan menjadi masyarakat kalangan menengah. Begitu pula dengan masyarakat kalangan menengah, ingin menjadi kalangan atas. Dan kalangan atas, melakukan pergulatan mati- matian guna menduduki posisi tertinggi sebagai orang kalangan atas yang memiliki status sosial tertinggi. Namun, mengapa kalangan masayarakat bawah terkadang tidak ingin menjadi kalangan masyarakat menengah?, Jawaban nya mungkin sederhana dan bisa di jawab oleh siapapun, namun yang ingin saya tunjukan disini adalah sebuah rumusan/ filosofi dan keterangan yang lebih tajam, mengapa hal tersebut terjadi.

Tidak melihat kegembiraan atas di dalam status sosial yang lebih tinggi.
Orang kalangan bawah tidak mau menjadi kalangan menengah karena dia tidak pernah melihat kegembiraan yang terjadi di kalangan menengah. Ada pula tipe manusia yang seperti ini juga. mereka biasanya adalah orang yang menutup diri terhadap hal baru, selalu mengucapkan syukur dan takut melakukan atau mencoba hal baru. dinamika ini juga terjadi di kalangan masyarakat menengah yang tidak mau menjadi kalangan masyarakat atas.

Tidak berani menghadapi konsekuensi.
Atau juga, orang- orang tidak mau mencoba naik posisinya ke status sosial yang lebih tinggi dikarenakan; dia memang menginginkan memiliki status sosial yang lebih tinggi. Namun, untuk mendapatkannya, dia harus menerima konsekuensi atas hal yang dilakukannya. Dia melihat, penderitaan yang di hasilkan oleh konsekuensinya lebih besar daripada kegembiraan yang mungkin akan dirasakan nya. oleh sebab itu, dia mengurungkan niatnya untuk melangkah maju menuju status sosial yang lebih tinggi. Contoh kasus saja: seorang buruh pabrik, ingin memiliki mobil. Kalau dia mendapatkan mobil, dia akan di pandang sebagai orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi. Secara otomatis, dia akan bangga (bergembira) apabila orang- orang di sekitarnya menyebutnya demikian. Namun, bila dia memiliki mobil, dia merasa tidak bisa mengemudikan nya. dia juga bingung menaruh mobilnya dimana. Dia juga khawatir apabila mobil tersebut yang harganya mahal digunakan dengan sekehandak hati teman- teman nya dan akhirnya rusak. Atas dasar pertimbangan itulah, orang yang menginginkan status sosial yang lebih tinggi tidak mau bergerak maju menggapai keinginan nya dikarenakan melihat konsekuensi yang di akibatkan oleh status sosial lebih tinggi –yang mungkin bisa di dapatkannya- hanya akan membawa penderitaan baru yang lebih besar.

Tidak memiliki ketegaran dalam melakukan perjuangan.
Alasan terakhir ini yang lebih banyak terjadi; orang- orang tidak memiliki kemampuan dan perjuangan yang lebih keras lagi untuk mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Orang- orang ini kalah dengan keadaan dan tidak mampu menghadapi keadaan buruk yang diakibatkan oleh perjuangannya.

Takut melakukan kegagalan.
Alsan lain mengenai seseorang tidak ingin bergerak maju dan mendapatkan status sosial yang lebih tinggi adalah karena dia takut melakukan kegagalan, kemudian di benci oleh orang- orang di sekitarnya.

Keinginan yang lebih rendah daripada tindakan.
Hal lain yang mempengaruhi juga bisa dikarenakan keinginan bertindak yang lebih lemah daripada keinginan nya mendapatkan impian. Hal ini sering di sebabkan karena kurangnya motivasi dan kurang melihat kegembiraan yang bisa terjadi apabila dia memiliki status sosial yang lebih tinggi. Apabila manusia tidak melihat kegembiraan atas impian nya bila nanti tercapai, maka dia akan malas untuk melakukan perjuangan.

Membandingkan keadaan nya dengan kondisi orang di bwahnya.
Rasa syukur memang membawa manusia pada kedamaian. Namun, setiap hal di dunia memiliki cacat. Begitu pula dengan rasa syukur. Syukur membuat manusia tidak memiliki motivasi untuk bergerak maju. Syukur membuat manusia rela di jajah, di injak- injak dan di hina. Apabila anda sekarang ini adalah tipe masyarakat menengah, dan ketika usaha anda untuk menjadi masyarakat atas gagal dilakukan, lalu anda merasakan –dan mengucapkan- syukur, maka hati anda menjadi tenang –dan andapun tidak berkeinginan untuk melanjutkan perjuangan anda kembali.

Merasa bahwa tempat tersebut adalah tempat yang nyaman dan aman.
Saat manusia bergerak ke posisi yang lebih tinggi karena sebuah motivasi –apapun jenis motivasinya, dimana kemudian orang tersebut berhasil menggapai apa yang di inginkannya, dia kemudian merasa tenang dan nyaman berada di posisi tersebut. dia tidak memiliki keinginan kembali untuk melakukan perjuangan itu. dia merasa sudah lelah dan merasa sudah beruntung ketika sampai di tempat tersebut. oleh sebab itu, langkah nya untuk bergerak maju terhenti disini.

Takut semakin terpuruk.
Saat manusia melakukan sebuah usaha, ada dua hal yang mungkin terjadi. bila dia berhasil, dia akan senang karena mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Apabila dia gagal, dia akan menderita karena status sosialnya turun. Orang yang terus menerus melihat resiko yang dihadapinya, akan memunculkan ketakutan ketika ingin melangkah. Dan ketakutan tersebut membawa orang itu TIDAK BERGERAK MAJU atau diam di tempat.


Itulah berbagai macam alasan dan keterangan mengapa orang tidak mau bergerak maju. Namun, bagi saya pribadi, saya tidak pernah memikirkan mengenai kegembiraan apa yang akan saya dapatkan apabila saya berhasil dan betapapun berat perjuangan yang menanti. Saya adalah seorang Fasis. Jika saya sudah berjanji, maka saya akan berkomitmen untuk bisa memenuhi janji yang telah terucap. Apapun yang terjadi. Kegembiraan saya adalah ketika saya bisa memenuhi janji saya. tidak semata- mata termotivasi karena kegembiraan atau mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Orang- orang Fasis –seperti saya- memang sedikit di Indonesia ini. tapi, apabila seluruh dunia di kumpulkan, jumlah orang Fasis mencapai ribuan orang. Kelebihan dari Fasisme adalah orang tersebut mampu mengulangi kembali perjuangannya walaupun dia telah mencapai posisi aman dan menyenangkan. Tidak khawatir terhadap resiko maupun tantangan yang mungkin akan terjadi. Kelemahan nya; mereka sering tidak bisa hidup bahagia karena merasa harus melangkah maju terus. Well, setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing- masing bukan !. dan menjadi sah- sah saja apabila orang memilih untuk hidup banyak berjuang dan hanya menemukan sedikit kegembiraan saja. Tapi, anda harus tahu. Walaupun orang- orang Fasis sering tidak hidup bahagia atau merasa bahagia dalam kurun waktu yang pendek saja, tapi kebahagiaan yang mereka rasakan sangat besar di waktu yang pendek tersebut. Pandangan Fasis seperti ini adalah Fasisme Classic [lihat catatan kaki 1- Fasisme Klasik]. Berbeda dengan Fasisme modern [Lihat catatan kaki 2- Fasisme Modern].

Catatan kaki 1- Fasisme Klasik.
Fasisme Klasik atau kuno, adalah sebuah pandangan hidup yang dimana harga diri terhadap tujuan yang telah di tetapkan dalam hidup harus di wujudkan, bagaimanapun caranya dan bagaimanapun terjalnya tantangan yang akan menghadang. Fasisme klasik adalah sebuah pandangan individual. Berbeda dengan Fasisme Modern yang memandang prilaku ini harus di lakukan di sebuah kelompok atau –biasanya- negara.

Catatan Kaki 2- Fasisme Modern.
Sebuah pandangan hidup bagi sekumpulan masyarakat untuk bersatu padu membuat suatu kesatuan, dimana dengan adanya kesatuan tersebut akan menjadi sebuah kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan individual/ perseorangan. Fasisme Modern juga di ibaratkan sebagai kesatuan antara ranting- ranting kecil, yang di ikat menjadi satu sehingga lebih kuat.

Selasa, 01 Januari 2013

Hidup itu Seperti Mengendarai Sepeda. Untuk Tetap Seimbang, Kamu harus Bergerak Maju.

MENDALAMI KUTIPAN EINSTEIN TENTANG MAKNA KEHIDUPAN.

Artikel ini berisi tentang:

Mengapa kehidupan membutuhkan keseimbangan?. Kutipan lain tentang sebuah bukti bahwa kesulitan (penderitaan) adalah esensial kehidupan. Kehidupan ini seperti lapangan Marathon. Semua pelari di haruskan berlari di lapangan Marathon tersebut. pelari yang tidak mau berlari akan mendapatkan penderitaan yang lebih besar. Orang yang bergerak maju memiliki nilai penderitaan yang lebih kecil. Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya. Tidak ada batasan di dunia ini. Einstein percaya ada sebuah angka di luar angka dasar 0, 1, 2, 3, dst. Lapangan Marathon kehidupan memberikan fasilitas minuman setelah pelari berlari dengan jarak tertentu. Nilai positif air putih yang di minum saat orang sedang dehidrasi. Kesimpulan tentang keseimbangan kehidupan. Moral pertama kali di perkenalkan di Yunani, dan yang pertama memperkenalkan nya adalah Plato.



Banyak orang yang hanya sekilas saja mendengar kutipan ini, kemudian  bisa tahu artinya. Namun, arti sebenarnya merupakan sebuah cerminan yang sangat luas dan juga lebih mendalam lagi.
Mengapa kehidupan membutuhkan keseimbangan?. Apakah akan selalu ada penderitaan di dalam kehidupan manusia –dan juga semua makhluk yang hidup?. Saya pribadi meyakini, bahwa penderitaan itu akan selalu ada dalam kehidupan ini. Bulan Desember 2012 kemarin, saya menemukan sebuah kutipan lain namun esensial (dasarnya) memiliki arti yang bersinggungan. Bunyi kutipan itu adalah “Bila tidak ada musim dingin, maka musim semi tidak akan menyenangkan. Bila tidak ada kesulitan, kebahagiaan juga tidak akan di dapatkan”. Untuk lebih memperjelas arti makna kedua kutipan ini, saya menggambarkan bahwa kehidupan ini adalah seperti sebuah lapangan Marathon. Dimana para pelarinya adalah semua makhluk yang hidup di dunia ini. Tapi, lapangan ini mengharuskan para pelari nya untuk bergerak maju (berlari). Mau tidak mau, pelari tersebut harus berlari. Mau tidak mau, semua makhluk hidup harus bergerak maju. Bergerak maju yang saya maksud adalah melakukan perkembangan diri dan memajukan peradaban di lingkungan sekitarnya. Karena di dalam lapangan Marathon tersebut semua makhluk hidup DI HARUSKAN bergerak maju, lantas apa yang terjadi pada makhluk hidup yang tidak mau maju?. Padahal, dia dipaksa harus bergerak maju !... Ya, yang terjadi adalah sebuah penderitaan yang jauh lebih besar. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk berlari, di haruskan untuk berlari. Seperti halnya, orang yang tidak suka makan sambal, tapi di haruskan makan sambal. Atau, seorang pria yang tidak menyukai wanita keturunan Negro, tapi di paksa menikahinya. Semua di jalani dengan keterpaksaan. Dan karena makna esensial penderitaan itu adalah “keinginan yang tidak sejalan dengan kenyataan hidup”, maka orang yang melakukan hal dengan keterpaksaan sudah bisa di pastikan dia akan MENDERITA.

Lain halnya dengan orang yang memiliki keinginan untuk bergerak maju. Dia akan dengan senang hati menghadapi tantangan yang ada di hadapan nya. orang yang benar- benar menyadari bahwa kehidupan memang membutuhkan sebuah kemajuan, dia akan menghadapi berbagai macam kesulitan yang datang kepadanya dengan penuh semangat.  Dia menyadari arti sebuah konsekuensi. Walaupun dia di haruskan memakan cabai ataupun cacing, dia akan melakukan nya tanpa keterpaksaan, melainkan dengan semangat. Walaupun dia di haruskan menikah dengan orang dari Etiophia, dia akan melakukan nya. walaupun dia tidak cinta, dia akan tetap melakukan nya. ***OK, mohon maaf bila kalimat yang saya tuliskan cukup membingungkan. Saya akan menjelaskan lebih lanjut lagi mengenai “mengapa orang yang paham terhadap nilai kemajuan kehidupan ini melakukan semua hal yang tidak di sukai dengan penuh semangat”*** Apabila manusia bergerak maju, dia tentu akan menghadapi rival –manusia yang lain- ataupun menghadapi alam –kenyataan hidup. Orang yang bergerak maju, tentu akan menghadapi sebuah kesulitan. Saya tidak mengatakan, bahwa orang yang bergerak maju akan melakukan semua hal dengan penuh semangat dan tidak menghadapi penderitaan. BUKAN !, bukan itu yang saya maksud. Orang yang bergerak maju tetap akan menghadapi penderitaan. Tapi, nilai dari penderitaan tersebut tidaklah sama dengan orang yang menghadapi tantangan dengan keterpaksaan. Nilainya lebih rendah !. Kesulitan yang dihadapi dengan semangat, akan berlangsung lebih menyenangkan. Orang yang menghadapi kesulitan, akan mendapatkan kemudahan setelahnya. Orang yang di haruskan menikah dengan orang Negro, bila dia benar- benar sadar bahwa dia harus menikahi orang Negro tersebut, dia akan lebih tabah menghadapi kenyataan yang tidak sejalan dengan keinginan nya tersebut. ***Saya cukup yakin, anda masih tetap kebingungan dengan makna hal ini. Penjelasan yang ilmiah terhadap hal ini ada di tempat yang sangat jauh dari percakapan di artikel ini***.

Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya. Apabila ada sebuah penjelasan yang lebih luas lagi terhadap suatu hal yang melebihi penjelasan sebelumnya –yang pernah ada, maka penjelasan yang sebelumnya itu akan di anggap salah –meskipun penjelasan yang sebelumnya di anggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat di pungkiri. Einstein berpendapat, bahwa “segala sesuatu hal di dunia ini adalah tidak terbatas”. Semua hal bisa menjadi mungkin. Dan semua hal bisa saja dilakukan. INGAT !... TIDAK ADA BATASAN ! –dan juga tidak ada aturan, dasar dan ketetapan. Einstein pun tidak menyukai matematika dan angka. Dia lebih menyukai IMAJINASI. Walaupun Einstein tidak bisa membuktikan adanya angka di luar angka matematika dasar yaitu 0, 1, 2, 3 dst, tapi dia tetap meyakini, ada angka di luar itu semua –di luar angka dasar Matematika!. Well, agar tidak lebih bingung, kita kembali pada pernikahan dengan orang Negro tadi. karena tidak ada batasan, maka semua hal bisa dilakukan. Bila seseorang yang menikah dengan orang Negro tersebut melakukan nya, dia juga bisa melakukan hal lain lagi. Bila dia meyakini TIDAK ADA BATASAN, bukankah akan menjadi lebih mudah bila dia kemudian menceraikan orang kulit Negro tersebut kemudian menikah dengan orang Jepang –yang dia sukai. INGAT !... TIDAK ADA BATASAN !.

Penjelasan mengenai sebuah kenyataan yang harus di lakukan yang menimbulkan penderitaan, namun bila di telaah lebih dalam lagi bisa menciptakan sebuah kebahagiaan baru, telah saya jelaskan di atas. Sekarang, saya akan menambahkan sebuah nilai positif (+) orang yang bergerak maju. Ternyata, lapangan Marathon yang saya ceritakan di paragraf pertama memberikan fasilitas minum gratis jika pelarinya sudah berlari sejauh jarak tertentu. Sungguh !, percayalah. Dunia ini akan memberikan kemudahan setelah kesulitan. Setelah para pelari kelelahan, dia akan mendapatkan minuman gratis. Minuman itu hanya sebuah air putih biasa. Tapi, apa jadinya bila air putih itu di minum pada waktu kita sedang dehidrasi (sangat haus). SANGAT SEGAR, BUKAN !. lain halnya apabila kita meminum air putih saat kita bermalas- malasan menonton TV. Rasanya pasti membosankan dan tidak ada yang spesial. Manusia –dan semua makhluk hidup- yang telah berjuang (bergerak maju), akan mendapatkan kemudahaan setelah perjuangan nya selesai. Dan dia akan mendapatkan KEBAHAGIAAN setelah perjuangan nya itu selesai. Itulah yang Albert Einstein sebut sebagai sebuah KESEIMBANGAN. Kita berjuang, menghadapi kesulitan dan akhirnya mendapatkan KEBAHAGIAAN. Orang yang tidak mau berjuang, akan menderita karena melalui semua kesulitan yang dunia ini berikan dengan keluh kesal. Dan, karena dia tidak juga bergerak maju, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan karena kesulitan nya tidak pernah dia selesaikan. Meskipun kesulitan nya hilang dengan sendirinya, dia pun tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang besar. Karena statusnya hanya JALAN DI TEMPAT. Kesulitan hilang, tapi tingkatan pengetahuan nya masih sama. Dia akan menghadapi apa yang di sebuat dengan rasa BOSAN. Itu tambahan nilai negatif (-) yang akan di dapatkan oleh orang yang tidak akan bergerak maju. Dia akan menghadapi KEBOSANAN. Karena dia tidak pernah melihat hal yang baru.

Sebuah kebosanan yang saya maksud adalah sebuah hal yang jauh lebih mengerikan daripada rasa bosan yang di ketahui banyak orang. Pernah suatu hari melalui situs sosial network, teman saya dari Italy mengatakan bahwa “Lebih dari sekedar rasa cinta. Rasa ingin tahu menyebabkan seorang wanita kehilangan keperawanan mereka”. Yap, cukuplah kita berbincang- bincang mengenai arti kebosanan disini. Tapi, satu hal lagi yang perlu saya tekankan. Semua arti dasar kehidupan ini di cetuskan juga oleh manusia. siapa sih yang mencetuskan nya?. Mari kita kembali pada sejarah !. bukankah peradaban di dunia ini di mulai dari Negara Kota Yunani. Lantas, siapa guru besar disana?. Ada banyak, di antaranya adalah Archimedes, Aristoteles dan yang paling awal adalah Plato. Apakah Plato adalah dewa?. BUKAN !. dia hanya manusia biasa –yang juga bisa melakukan kesalahan. Namun, makna arti kehidupan yang telah di ajarkan nya memberikan sumbangan peradaban manusia begitu besar hingga saat ini. tapi, mengingat esensial Ilmu Pengetahuan adalah “Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya”, maka tidak menutup kemungkinan bila ada sebuah ilmu pengetahuan yang lebih baik –dan lebih jelas lagi- yang akan menggeser nilai ajaran moral dan sosial yang telah di berikan oleh Plato.
Selesai.




Minggu, 30 Desember 2012

Menghadapi Hal yang Menyebalkan

BELAJAR MENGENDALIKAN DIRI MENGHADAPI KEADAAN YANG SULIT

Artikel ini berisi tentang:
Pesimisme terhadap keberhasilan suatu hal yang belum pernah dilakukan oleh orang lain manapun. Prinsip relativitas dalam pendelegasian tugas. Memahami pola relativitas dalam kehidupan nyata. Bukti keberhasilan relativitas dalam pendelegasian tugas. Contoh relativitas dalam pendelegasian tugas. Apakah tujuan besar –yang tidak pernah di capai oleh orang lain- bisa terwujud?. Prinsip kerja sebuah rencana yang sedang di jalankan. Cara melalui hari- hari tanpa rasa kecemasan.


Saat kita membayangkan sebuah pencapaian besar dalam kehidupan kita, dimana tidak seorangpun orang di sekeliling kita –orang2 yang kita kenal- pernah melakukan nya, terkadang 
terlintas perasaan di dalam benak diri sendiri “apakah mungkin hal yang saya lakukan ini benar- benar bisa berhasil?. Belum pernah ada orang yang berhasil melakukan hal ini !. apakah akan berhasil?”. Kadang keragu- raguan muncul, pesimisme merasuki perasaan kita. membuat kita ragu melakukan segala sesuatu. Ketakutan itu –ketakutan kegagalan- sangat menyebalkan bila dirasakan.

Ya, hari ini saya merasakan keraguan seperti itu. saya merasa malas melakukan berbagai macam hal yang seharusnya saya lakukan. 
Saya memiliki prinsip “relativitas dalam mendelegasikan tugas”. Saya sering mendelegasikan tugas kepada orang lain. Sungguh, apapun perasaan kita, aktivitas tugas yang anda berikan kepada orang lain akan tetap berjalan. Artinya, walaupun kita merasa tegang, merasa was- was, merasa santai, atau bahkan bersikap cuek tidak peduli dengan apa yang terjadi, tugas yang anda berikan kepada orang lain akan tetap berjalan, dan hasil dari tugas yang anda delegasikan tersebutpun tidak akan terpengaruh dari perasaan anda. misalkan, anda merasa cuek terhadap tugas yang anda berikan kepada orang lain. Anda memberikan tugas, setelah itu anda menonton televisi, bersantai dengan mandi di air hangat, kemudian pergi berbelanja. Setelah deadline tugas tersebut selesai, orang yang anda beri pendelegasian tugas tersebut melaporkan kepada anda bahwa tugas yang di berikan berhasil dengan sukses. Atau, ketika anda memberikan tugas kepada orang lain, kemudian anda menunggu hasil dari tugas yang anda berikan tersebut dengan penuh ketidaktenangan. Anda menghabiskan 1 bungkus rokok dalam waktu 2 jam. Anda gelisah, perasaan kalut dan gundah menguasai diri anda. anda menunggu di dalam kamar kecil yang sepi dengan sangat was- was. Dan ketika waktu deadline pemberian tugas tersebut telah tiba, anda mendapatkan kabar bahwa tugas yang anda berikan ternyata gagal dilaksanakan. Saya lebih memilih mendelegasikan tugas kemudian bersikap cuek terhadap apa yang sedang terjadi –yang dirasakan oleh orang yang saya beri tugas. Hal ini mungkin sama seperti seorang perwira tentara yang memberikan tugasnya kepada sersan nya untuk menyerang batalyon musuh. Sersan itu –yang diberi tugas- berjuang dengan mati- matian menghancurkan pertahanan musuh. Sersan itu adu tembak dalam sebuah peperangan sengit dan nyawanya sedang di ujung tanduk. Perwira yang memberikan tugas tersebut sedang mengencani wanita cantik. Lalu tiba- tiba ada telephone masuk yang memberi laporan bahwa batalyon musuh berhasil di takhlukan. Perwira itu sangat senang, dan melanjutkan kencan nya dengan wanita nya.

Saya pribadi memilih untuk bersikap cuek terhadap apa yang sedang terjadi. karena bila dibuktikan secara ilmiah, perasaan yang sedang terjadi pada Anda tidak akan mempengaruhi kondisi lain atau orang lain yang sedang terjadi saat itu juga. Hal ini membuat saya menghemat beban fikiran, dan melalui hari- hari saya dengan lebih menyenangkan. Hal ini juga sangat baik jika saya berada pada kondisi yang juga sedang mengerjakan tugas penting. Hal itu membuat saya mampu berfikir jernih dan lebih tepat membuat keputusan karena perasaan saya tidak diliputi dengan rasa was- was. Tapi, apakah hal ini tidak disebut sebagai hal yang egois?. Dimana orang lain sedang berjuang mati- matian. Di sisi lain, anda malah bersikap enak- enakan?. Zaman dahulu memang ini di anggap egois. Tapi sekarang, orang yang beranggapan seperti itu saya sebut sebagai orang yang tidak mampu berfikir dengan lebih teliti.

Kembali ke sub judul utama artikel ini !, apakah tujuan besar itu akan terwujud?. Apabila anda membidik sasaran menggunakan peluru kendali, dan apabila sasaran yang anda bidik tersebut sudah tepat, peluru kendali itu akan meluncur dan menghancurkan –benar benar menghancurkan- sasaran yang telah anda bidik tersebut. apabila anda telah menetapkan sebuah rencana, dan secara ilmiah rencana anda itu sudah tepat sesuai kenyataan nya, seberapapun besar target yang telah anda tetapkan, seberapa sulit target yang ingin anda capai, apabila rencana itu secara ilmiah benar- benar mampu menerobos halangan yang akan menghadang, maka rencana anda pun akan berhasil terwujud. Lalui saja hari- hari anda dengan penuh kebahagiaan dengan melakukan hal yang menyenangkan.

Saya –dan siapapun juga- yang sedang diliputi dengan keraguan terhadap hal besar yang ingin diwujudkan, pasti sedang menemui masalah “pesimisme” yang menyebalkan. Apabila kita menyadari “hal lain tidak berhubungan dan tidak terpengaruhi terhadap perasaan kita”, maka pesimisme itu bisa terobati dan bisa tergantikan dengan optimisme. Kita bisa melanjutkan aktivitas sehari- hari kita tanpa diliputi kecemasan.

Bila kamu lemah, hidup akan mempermainkan mu

BILA KAMU LEMAH, HIDUP AKAN MEMPERMAINKAN MU.

Artikel ini berisi tentang:
Bagaimana sikap kita dalam menjalani kehidupan ini, sesuai dengan jalan hidup yang telah kita pilih. Apabila kita memilih jalan yang curam dan terjal dalam kehidupan ini, konsekuensi apa yang harus kita terima. Bagaimana pola kehidupan di dunia ini bergerak. bagaimana arti sebuah penderitaan dan kegembiraan yang dirasakan oleh manusia. apa sikap kita terhadap sebuah penderitaan dan menjalani konsekuensi atas apa yang telah kita pilih. Bagaimana sebuah penderitaan itu bekerja.


BILA KAMU LEMAH, HIDUP AKAN MEMPERMAINKAN MU.
Saya selalu melihat jalan keluar dari segala bentuk kesulitan. Karena saya meyakini, bahwa setiap penyakit ada obat nya. namun, jalan keluar yang saya maksud bukanlah sesuatu yang
akan membuat kita keluar total dari masalah tersebut. Melainkan sebuah solusi yang tercipta atas masalah yang telah muncul (walaupun tak sepenuhnya solusi itu akan menghilangkan masalah yang terjadi). Seperti halnya dunia ini, yang selalu memberikan kita kemenangan dan kekalahan. Bila anda mencari cara “bagaimana agar selalu berhasil dalam melakukan sebuah tindakan”, maka saya pastikan anda tidak pernah mendapatkan nya. Kemenangan adalah hal yang sementara, begitu pula dengan kekalahan. Bencana akan menimpa satu demi satu kaum, dan malapetaka akan menimpa sebuah bangsa. Bila anda takut menghadapi hal yang sulit (penderitaan, kesedihan, tertimpa bencana, dll), selamanya, anda akan menderita karena ketakutan tersebut.

Daripada kita selalu terjerumus dalam ketakutan yang di ciptakan oleh diri kita sendiri, saya akan membawa anda kepada sudut pandang saya yang mungkin bisa membantu anda melihat bahwa “hidup ini benar- benar indah”, yang telah saya praktekan juga implementasikan sehingga membawa saya kepada gairah kehidupan yang selalu ada, kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun dan dalam keadaan bagaimanapun.

Masalah itu akan selalu ada, dan bencana akan menimpa kita semua. Pepatah orang arab mengatakan; Yang hidup lama, akan melihat kesedihan anggota keluarga nya meninggal. Yang hidupnya pendek, akan melihat nyawanya sendiri di cabut. Itulah hidup. Kesedihan dan penderitaan akan selalu ada. Dan satu hal lagi, kamu bisa memilih untuk menangisi hal yang telah terjadi namun kamu tidak bisa memutar waktu dan mengubah apa yang telah terjadi. Namun, kamu juga bisa memilih untuk membiarkan apa yang telah terjadi, lalu melanjutkan hidup mu, dan berusaha agar semua kesalahan yang telah terjadi, tidak akan terulang lagi. Dengan pengetahuan ini, yaitu bahwa kita tahu kita pasti akan mendapat kegagalan dalam hidup kita, dan bila kita bersedih karena nya, kegagalan yang telah terjadi tetap tidak bisa di ubah. Lalu pertanyaan nya, mengapa kita harus bersedih?. Sungguh, tidak ada yang perlu di salahkan. Apapun yang terjadi, itu bukan salah anda, itu bukan salah orang lain. Jangan menyalahkan diri Anda sendiri, jangan pula menyalahkan keadaan ataupun orang lain. Sesungguh nya, semua itu adalah hal yang harus di jalani. Pahamilah benar- benar hal ini.

Saya akan menjelaskan nya kepada anda dengan penuh rasionalitas dari sumber filsuf dunia yang telah berupaya keras mempelajari metafisika atas kehidupan di dunia ini. Disini, saya akan berusaha menjelaskan dengan gaya bahasa yang jelas, tidak ambigu (bermakna ganda dan rancu) dan berusaha memberikan contoh kasus yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari- hari. Dimana saya dapatkan ilmu pengetahuan ini dari berbagai riset menterjemahkan banyak kata dengan cukup susah payah dari buku yang di keluarkan oleh para pemikir kehidupan (Nietsze, Imanuel Kant, dll). Karena gaya bahasa dan kata yang di tuliskan mereka telah mengalami perluasan makna kata, dan mereka juga menggunakan kata yang cukup tidak lazim di zaman ini (seperti: Esense, tesis, antitesis, dll) yang di gunakan dalam menulis karya sastra mereka. Itulah sebab utama kita cukup kesulitan dalam mengerti dan memahami apa yang ingin mereka sampaikan. Saya berharap, saya bisa membantu anda untuk menjadikan hidup ini lebih bermakna, dengan semangat yang selalu ada di dalam jiwa anda. “Bila anda ingin perubahan kecil, ubahlah sifat anda (ke arah yang lebih baik). Bila anda ingin perubahan besar, ubahlah paradigma (sudut pandang) anda”.

Kehidupan ini adalah sebuah perjuangan dari waktu ke waktu. Yang kuat akan menang, yang lemah akan kalah, dan yang ulet akan bertahan hidup. Ini adalah sudut pandang Fasisme. Hal ini memang terdengar cukup menyeramkan. Tapi, bila Anda telah memilih jalan kehidupan yang penuh dengan untuk melakukan perjuangan dan bergerak maju kedepan, Fasisme adalah pandangan hidup yang paling cocok. Saya pun merupakan orang yang menyukai tantangan, resiko, trial, eror dan –tentu saja- kebahagiaan ketika saya telah berhasil melalui berbagai rintangan yang terjadi. saya selalu merasa bahwa “Kehidupan ini adalah sebuah perjuangan dari waktu ke waktu. Yang kuat akan menang, yang lemah akan kalah”. Dengan sudut pandang seperti itu, saya selalu dalam keadaan tegar di dalam setiap kesulitan apapun. Saya kurang begitu menyukai motifasi. Saya lebih suka menggunakan sebuah pandangan hidup untuk membuat saya bersifat tegar. Orang- orang Fasis, akan merasa malu apabila gagal. Dan akan lebih malu lagi apabila tidak berani melangkah maju.

Baik, sekarang, jalan hidup apa yang Anda pilih?. Anda harus memutuskan nya selagi masih muda. Apabila anda memutuskan untuk hidup sederhana dan apa adanya. Menjalani aktivitas monoton dan yang terpenting bagi anda adalah keamanan bekerja dan terkucupi segala kebutuhan pokok saja, artikel yang saya tulis ini tidak cocok untuk anda baca. Tapi, bila anda memutuskan untuk terus bergerak maju dalam kehidupan ini, berjuang terhadap apa yang menjadi target tujuan anda, berani menghadapi berbagai macam resiko dan ancaman yang terkadang sangat tak terbayang betapa menakutkan nya hal tersebut... maka,  saya akan mengantar anda untuk lebih memperkuat tulang belulang anda untuk bisa lebih tegar ketika menjalani konsekuensi jalan hidup yang telah anda pilih. Saya memberi judul artikel ini “Bila kamu lemah, hidup akan mempermainkan mu”, karena saya –dan juga anda- tidak ingin di permainkan oleh hidup ini. menjadi sosok manusia yang kuat dan penuh keberanian untuk menantang dunia yang kejam nya bukan main. Setelah anda memutuskan apa yang anda pilih, maka anda harus berani menghadapi resiko nya. sebuah pekerjaan yang aman, nyaman dan memiliki penghasilan yang mencukupi, bukan hal yang MUTAK menyenangkan. Orang- orang yang memilih jalan hidup ini juga akan mengalami goncangan dalam kehidupan nya seperti; dihantui rasa kebosanan, takut apabila terjadi hal yang buruk, tidak bergairah apabila ada tantangan yang datang, sering kali merasa menderita karena banyak keinginan yang tidak terpenuhi, dan sering merasa merana apabila melihat rekan- rekan nya yang menjadi jauh lebih sukses daripada dirinya. Orang- orang yang memilih jalan untuk menantang dunia pun TIDAK SELALU di hinggapi rasa buruk seperti; stress terhadap berbagai macam tantangan yang datang, sering kecewa karena banyak kegagalan yang menimpa dirinya, pusing terhadap berbagai macam kendala –tantangan- yang datang bertubi- tubi, merasa tidak selalu puas, merasa selalu takut akan kehilangan apa yang telah dimiliki, dll. hal- hal semacam itu hanya dirasakan oleh orang yang setengah hati untuk mencoba MENANTANG DUNIA. Hal tersebut TIDAK PERNAH dirasakan oleh orang- orang yang SEPENUH HATI menantang dunia. Dan, hal- hal tersebut juga hanya di lontarkan oleh orang- orang yang tidak berani menantang dunia yang hanya menebak terhadap perasaan orang yang berani menantang dunia. Jadi, bila saat ini anda memutuskan untuk menantang dunia, dan keputusan anda baru setengah hati saja menjalankan pilihan anda tersebut, lebih baik anda terus maju, maju, dan maju lagi... Jangan letih terhadap perjuangan anda. karena perjuangan itu sangat menyenangkan untuk dilakukan. Saya yakin, suatu hari, anda akan sampai kepada titik yang saya namakan pilihan yang SEPENUH HATI untuk MENANTANG DUNIA.

Ketika anda baru pertama kali menjalani kehidupan yang keras ini, saya menyebut ini adalah masa transisi. Masa transisi adalah masa yang berat. Tidak hanya di perlukan waktu beberapa bulan untuk mengubah sudut pandang sebagai orang yang BERJIWA KERAS. Namun, butuh waktu bertahun- tahun, untuk benar- benar SANGGUP menjalankan berbagai macam konsekuensi yang harus dilakukan. Jika anda sedang dalam keadaan menyedihkan saat ini, katakanlah kepada diri anda seperti ini; “ini memang pilihan hidup yang saya jalani, dan saya harus menanggung semua konsekuensi yang terjadi”. ketahuilah, bahwa orang- orang yang hidup sederhana dan memilih hanya mencukupi kebutuhan pokok hidupnya saja juga akan mengalami guncangan hidup juga (walaupun dengan jenis yang berbeda dari apa yang anda rasakan saat ini).