Tampilkan postingan dengan label Nilai Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nilai Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2013

Kegagalan Perusahaan Pertama Saya

KISAH PENGALAMAN NYATA DARI SAYA KETIKA SAYA MENDIRIKAN PERUSAHAAN DAN ANALISA PENYEBAB KEGAGALAN NYA.

Artikel ini Membahas Tentang:
Tujuan saya mendirikan perusahaan. Saya memandang bahwa pendidikan formal di Indonesia tidak terlalu bagus. Memulai sebuah riset bisnis kecil. Rekomendasi dari ayah adik angkat saya untuk tidak perlu keluar dari pekerjaan rutin, untuk memulai sebuah bisnis organisasi. Alasan lebih baik tetap bekerja di dalam sebuah perusahaan. Mulai belajar dari buku yang saya beli. Menjadi anggota forum di berbagai situs startup bisnis. Riset pembuatan prototype produk yang sangat sulit. Bergabung ke organisasi pemasaran software Amerika. Melakukan riset marketing, untuk mempersiapkan peluncuran produk. Mendapatkan investor hanya denan 3 X demonstrasi. Nasib sial karena di pindah ke departemen yang sangat kacau. Keadaan perusahaan rintisan menjadi tidak terkendali. Kesalahan fatal dalam membuat produk yang buruk. Kematian startup karena kehabisan uang.

KEGAGALAN PERUSAHAAN PERTAMA SAYA.
Pencapaian tujuan besar membutuhkan ambisi yang besar juga. Itulah yang dikatakan oleh Herakles. Entah kenapa, saya sangat menyukai tantangan dan ilmu pengetahuan. Mungkin ini disebabkan oleh faktor Gen. Kakek dari Ayah saya dulu memang seorang pengusaha yang sangat sukses di masa nya. Seseorang yang penuh dengan semangat dan jiwa pantang menyerah. Tapi, karena beberapa kesalahan strategi bisnis, usaha yang dimiliki nya tumbang. Bagi saya, tujuan mendirikan sebuah bisnis/ perusahaan bukan agar saya  menjadi pemimpin puncak dan bertindak apapun tanpa di perintah. Saya siap di beri perintah dan melaksanakan perintah dari orang lain bila hal itu perlu. Bagi saya, dunia bisnis adalah tempat yang sangat menyenangkan karena selalu terdapat masalah yang harus bisa di pecahkan.

Saya kurang menyukai pendidikan formal, karena setelah saya di perkenalkan dengan Ilmu Pengetahuan Dialektika Materialism, oleh ayah dari Alexander (Adik angkat saya), dan sebuah paham filsafat Sains dasar; “Imagination is More Importan Than Knowledge”, saya merasa hanya akan membuang waktu dan tenaga saja apabila menempuh pendidikan di Indonesia. Karena, kebanyakan –meskipun tidak semua- pendidikan di negara kita, lebih bersifat teoritis dan jauh dari keadaan sesungguh nya. Meskipun saya sudah melakukan dan belajar bisnis semenjak SMP, tapi menurut saya pribadi, perjalanan bisnis besar yang saya lakukan dimulai ketika akhir tahun 2010. Ketika saya memulai riset bisnis kecil dari gaji bulanan saya bekerja dan ketika saya bergabung dengan sebuah kelompok kecil bernama Unirised, oranisasi marketing software yang berbasis di Chicago- Amerika Serikat. Ayah adik angkat saya, yang bernama Akindo, sangat menyarankan agar tidak perlu keluar dari pekerjaan tetap saya terlebih dahulu untuk memulai sebuah bisnis. Alasan nya: [1]. Gaji yang di dapatkan dari pekerjaan tetap saya, bisa di gunakan untuk melakukan riset kecil. Bisnis yang berbentuk organisasi, tidak hanya bisa di bangun dengan tekad dan modal uang yang besar. Perlu sebuah riset dan waktu untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan yang cukup, sebelum memulai perusahaan startup. [2]. Jika ingin mendirikan sebuah perusahaan (bukan bisnis “One Man One Show”) dalam jangka waktu dekat, lebih baik memulai nya dengan membangun organisasi. Bukan melakukan semua tindakan sendiri. Melakukan hal sendirian, akan membuat seseorang terpaku dengan sikap perfeksionis. Sikap perfeksionis yang di biarkan lama tumbuh, akan sangat menyulitkan perkembangan pembangunan sebuah organisasi. Dengan alasan tersebut, saya memulai sebuah riset bisnis di akhir tahun 2010.

Saya kemudian mulai mempelajari binis berbentuk organisasi dari berbagai macam buku yang saya beli di Gramedia. Setelah itu, saya merasa perlu meningkatkan pengetahuan saya dengan bergabung di berbagai macam forum Startup bisnis. Riset kecil saya yang pertama, saya mulai dengan membuat sebuah produk yang bagus. Ya, sebuah produk yang bagus sungguh tidak semudah kedengaran nya. Devinisi dari sebuah produk yang bagus, bagi saya sangat kompleks. Tidak hanya produk yang di butuhkan oleh orang, tapi saya juga harus bisa membuat prototype nya dengan prediksi keakuratan: Harga, biaya pembuatan produk, suplier komponen produk, suplier komponen alat, metode dan kesediaan SDM yang memadahi untuk bisa membuat produk tersebut, dll. Jadi maksud saya, dalam membuat sebuah produk, tidak hanya asal BISA DIBUAT. Tapi, saya juga harus menjawab pertanyaan “apakah ada suplier komponen bahan yang bisa di andalkan apabila saya membuat produk tersebut”. Jika saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, maka sudah pasti saya tidak boleh membuat produk tersebut –meskipun saya berhasil membuat sample produk nya. Karena, apabila memaksakan diri melakukan hal itu, maka saya akan menemui masalah di masa depan. Jadi, produk tersebut tidak bisa di buat dalam skala masal atau dalam jangka waktu panjang kedepan karena ketiadaan suplier bahan produk tersebut. Itu hanya sebuah contoh kecil saja dari komplikasi masalah di sisi pembuatan produk. Saya memerlukan waktu lebih dari 5 bulan untuk mempersiapkan prototype produk yang benar- benar akurat.

Dalam melakukan riset produk pun, saya juga di bantu oleh beberapa orang. Yap, orang- orang yang saya bayar dengan gaji saya bekerja, untuk membantu saya membuat prototype produk. Masalah barupun datang lagi. Mengatur dan memimpin orang- orang dalam melakukan sebuah riset, ternyata tidak bisa disamakan dengan memimpin orang- orang di tempat saja bekerja. RISET, melakukan sesuatu yang belum pasti ada hasilnya. Jika saya tidak membangun visi yang jelas dan menyuntikan dokrin tersebut kepada mereka, tindakan orang- orang yang saya gaji tidak akan bisa berhasil dengan sukses. Belum lagi saya menemui masalah perekrutan, pembuatan S.O.P, penyediaan tempat, dll. Proyek pembuatan prototype produk ini sempat terhenti selama 1 bulan. Karena beragam masalah kompleks yang muncul, yang tidak pernah saya temui, saya kemudian menghubungi ayah adik angkat saya untuk meminta saran. Saya telah membuat janji-temu dengan beliau dan saya akan ke Jakarta untuk bertemu dia 2 minggu lagi.

“Imagination is More Importan Than Science”, begitulah kalimat pembukaan ketika saya bertemu dengan ayah Alexander di rumah nya di sekitar Cibubur Juction. Beliau kemudian mengajak saya berkeliling kota bersama Alexander sambil menerangkan betapa penting nya arti kalimat tersebut –secara lebih dalam. Beliau memberikan saya essay karya Paul Graham, dan beberapa alamat situs yang membahas mengenai startup bisnis, dimana saya bisa saling bertanya jawab mengenai masalah startup kepada banyak pengusaha yang baru maupun yang berpengalaman. “Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan terlahir dari imajinasi”. Pembelajaran yang di berikan oleh ayah Alexander sangat dalam sekali. Beliau memberikan contoh pengetahuan baru, seperti; Cara bagi para ilmuan ketika mendefinisikan materi gelap luar angkasa. Proses awal keinginan manusia yang ingin ke bulan, dan banyak hal lain nya. Setelah dari pertemuan itu, saya kembali ke kota Kudus untuk mencoba menerapkan nya. Inti pokok nya; Saya tidak boleh terpaku dengan apa yang banyak orang percaya. Bahkan dari kata- kata orang besar sekalipun. Karena, keadaan yang sedang saya alami mungkin berbeda, dan karena perbedaan itulah ada beberapa hal yang butuh penyesuaian –baik itu yang harus di ubah, di tambahi ataupun di hilangkan.

Setelah 5 bulan, saya berhasil membuat prototype produk dengan bantuan 5 orang yang saya pekerjakan. Semua data tentang produk tersebut lengkap sudah. Dan tidak hanya itu, dokumentasi mengenai trail dan eror, dan filosofis pembuatan produk barupun telah berhasil saya buat. Tapi, di sesi ini, saya memang belum benar- benar menerjunkan produk ini ke pasar.

Dari salah satu forum startup bisnis yang biasa menjadi langganan saya, ada sekelompok orang dengan visi yang sama, untuk membuat sebuah perusahaan ecomerce kelas dunia. Kelompok itu sedang membutuhkan tenaga pemasaran software untuk Malaysia, Indonesia dan Filiphina. Ya, organisasi tersebut bernama Unirised, yang memiliki kantor pusat di Chicago. Menjual beragam aplikasi mobile dari para programer di Silicon Valley. Ketika melihat lowongan tersebut, saya merasa ini adalah sebuah peluang untuk belajar internet marketing secara global dan membaurkan sudut pandang saya dengan pebisnis di Amerika Serikat. Walaupun bahasa Ingris saya kurang begitu bagus, tapi sudah cukup untuk bisa mengerti apa yang Leader kami inginkan bila dia menjelaskan sesuatu melalui video, email, chat maupun panggilang telp langsung dalam bahasa Inggris. Bagusnya lagi, pekerjaan internet marketing ini bisa saya lakukan di depan laptop dalam kamar saya. Pada waktu penerimaan anggota baru, saya di undang ke Changi- Singapore untuk melakukan pendaftaran diri dan pemberian beberapa pengarahan spesifik tentang visi dan misi organisasi itu. Kami sering berkomunikasi melalui video chat, email dan forum tertutup, untuk membahas permasalahan pemasaran yang sedang terjadi. Kadang pula salah satu anggota kami membagikan pengalaman barunya dengan tujuan menambah ilmu pengetahuan semua anggota. Kami juga sering bertukar bingkisan. Saya pernah mengirimkan buah Srikaya kepada teman- teman saya di Chicago. Lebih dari 1 tahun saya melakukan kerja membangun sistem internet marketing untuk organisasi Unirised cabang Indonesia. Jadi, jadwal saya sangat padat sekali sepanjang hari. Bahkan, untuk menonton film di televisi pun, mungkin hanya 1 bulan sekali. Malangnya, organisasi Unirised ini juga melakukan penjualan sofware peretasan (Hacked Software). Saya baru mengetahui hal ini setelah 6 bulan bekerja disana. Tapi, tidak masalah juga bagi saya mengenai apa yang mereka jual, karena saya mendapatkan bagian untuk melakukan penjualan software yang legal. Bagian penjualan software peretasan dilakukan oleh Tim lain yang lebih ahli.

Masuknya saya ke organisasi Unirised, ternyata membawa saya lebih jauh lagi ke jalur bisnis ecomerce dunia. Terutama, ketika saya di beri penawaran kerja di perusahaan ecomerce bernama VK.com. Sebuah perusahaan berbasis social network terbesar di Eropa. Disana, saya bersama dengan beberapa orang dari Indonesia mendefinisikan pola aktivitas masyarakat indonesia. Hal ini berfungsi untuk mengambil strategi promosi yang bagus untuk persiapan peluncuran situs VK.com  di Indonesia. Saya juga membantu dalam proyek penterjemahan bahasa.

Suatu pagi, saya mendapatkan email mengejutkan. Pemerintah Amerika melalui departemen Customer Protection, sedang melakukan pengadilan terhadap aktivitas yang organisasi kami lakukan. Tuduhan yang di lontarkan adalah “Penjualan Barang Ilegal (Software Peretasan)”. Aktivitas kami terhenti saat itu juga. Seminggu kemudian, organisasi kami dilarang melakukan aktivitas lagi. Seluruh jaringan yang telah saya dan anggota kami bangun, di bekukan semua. Ancaman pemerintah Amerika di lontarkan kepada semua anggota; jika ada yang masih melakukan aktivitas yang berhubungan dengan Unirised, akan di jatuhi hukuman pidana. Pada tanggal 9 Mei 2012, Unirised resmi bubar.

Saya melanjutkan aktivitas saya di kota kecil ini, dan masih bekerja di perusahaan pembuat rokok PT. Djarum. Saya sama sekali tidak berkata apapun kepada rekan- rekan kerja saya tentang aktivitas saya di luar. Saya mencoba melakukan hal yang baik dan menjadi orang yang melakukan semua tugas perusahaan dengan baik. Hanya itu. Tapi, diluar saya mencoba untuk membuat perubahan besar dan melawan status quo. Sekarang, di benak saya ada dua basic bisnis. Perusahaan manufacture dan ecomerce. Karena merasa memiliki pengetahuan yang cukup banyak mengenai internet marketing, saya kemudian melakukan beberapa riset dan melakukan pembangunan jaringan awal internet marketing. Di satu sisi yang lain, saya pula melakukan riset pemasaran produk manufaktur. Hari- hari saya selalu dipenuhi dengan aktivitas yang padat. Mulai melakukan pekerjaan rutin di perusahaan saya, melakukan riset dan pembangunan jaringan di basic ecomerce dan juga di basic manufaktur. Saya sempat mengalami tekanan yang besar waktu itu. Untung saja ayah Alexander selalu memberi saya banyak ilmu engetahuan guna melakukan pengendalian diri yang baik, sehingga saya bisa terhindar dari penyakit GILA.

Sungguh, semua nya tidak seperti banyak kisah yang saya sering baca dari buku maupun media elektronik tentang orang- orang sukses, yang bekerja keras memperjuangkan sesuatu, kemudian berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keadaan menjadi sangat sulit ketika saya sering dihadapkan dengan jalan yang benar- benar buntu. Untung saja saya tergabung dengan banyak komunitas di berbagai forum, yang dimana anggota- anggota nya saling mensuport satu sama lain. Saya benar- benar membuka fikiran saya terhadap sesuatu yang baru. Forum di Rusia, China dan Amerika lah yang banyak memberikan saya masukan yang begitu besar, terlebih mengenai filsafat, filosofi ilmu pengetahuan dan bisnis ecomerce. Dari itu semua, barulah saya menyadari bahwa dunia ini sungguh sangat luas dan beragam. Masa- masa sulit bagi saya adalah menelaah tentang perbedaan besar, antara latar belakang saya dari keluarga biasa di sebuah negara berkembang (Indonesia), dengan sudut pandang para pebisnis di Amerika dan Filosofi ilmu pengetahuan dari Rusia dan China. Ayah adik angkat saya memberikan banyak akses untuk menuju ke dunia luar yang begitu luas. Beliau memperkenalkan saya kepada teman- teman nya yang memiliki pengalaman yang banyak.

Singkat cerita, saya akhirnya berhasil membuat prototype produk lengkap dengan model bisnis nya. Saya merasa telah memiliki kemampuan pengendalian diri yang cukup, pengetahuan pengelolaan terhadap bisnis manufaktur dan banyak rekan di luar negri yang siap menjadi penasehat untuk saya. Prototype produk saya kali ini adalah sebuah produk pisau, yang akan saya pasarkan ke berbagai toko di profinsi Jawa Barat. Dengan membawa prototype produk tersebut, saya kemudian memberikan demo kepada para investor di Jakarta. Tidak sulit bagi saya untuk melakukan penggalangan dana. Saya berhasil mendapatkan dana sebesar 200 juta, hanya dengan 3 X demo di hadapan calon investor. Mungkin nilai 200 juta tidak begitu besar jika di bandingkan dengan modal awal pendirian Perseroan Terbatas (PT). Tapi, tujuan saya adalah membuat pijakan sistem bisnis yang kuat untuk menggalang dana lebih besar lagi. Tentu saja tujuan saya yang utama adalah mendirikan perusahaan yang bernilai 1 juta dollar.

Menjalankan perusahaan di tahap awal (startup)... Saya sungguh sangat berhati- hati sekali. Banyak meta-kenyataan (halusinasi keadaan) yang kerap muncul. Hal itu sangat berbahaya bagi perkembangan sebuah janin perusahaan rintisan. Saya tidak boleh gegabah dalam menentukan manuver perusahaan startup ini. Meskipun saya baru memiliki karyawan berjumlah 10 orang –dan lebih banyak lagi orang- orang yang saya pekerjakan dengan sistem kontrak, situasinya tidak semudah seperti mengelola orang- orang di tempat saya bekerja. Saya harus menanamkan visi dan misi, dan juga kebersamaan yang sangat kuat dalam lingkungan perusahaan rintisan ini. Sayapun harus benar- benar bertindak tegas, apabila terdapat orang yang tidak mampu berjalan sesuai dengan visi perusahaan rintisan saya. Saya benar- benar menuntut keberhasilan dari semua anggota. Terlebih, dari para anggota yang memegang peranan kunci. Di tempat saya bekerja (PT. Djarum), mengkoordinasi orang- orang dengan baik sudah cukup membuat semuanya beres. Visi dan misi tidak perlu di tanamkan sekuat di perusahaan rintisan.

Awal pembangunan organisasi, saya mulai memasang spanduk lowongan kerja di jalan untuk melakukan perekrutan, memilih orang- orang yang bisa di andalkan, mengajari cara mereka bertindak, memberikan deskripsi tugas yang jelas, dan lain lain. Tidak ada masalah yang cukup berarti sampai di langkah ini. Hingga, semua sistem dan organisasi telah siap di gerakan, tibalah saatnya melakukan aksi PELUNCURAN PRODUK ke pasar. Di masa itu, saya masih tetap bekerja di perusahaan saya dan juga masih melakukan riset di jalur bisnis ecomerce. Saya telah memprediksi semua hal ini; meskipun saya melakukan banyak tindakan yang berbeda, tapi saya merasa masih merasa mampu untuk mengendalikan semua hal ini. Tapi, SIAL-nya, tiba- tiba pihak perusahaan saya memindah tugaskan saya ke departemen lain. Sebuah departemen yang menurut saya sangat primitif dan anarkis. Atasan saya memindahkan saya agar saya bisa memberikan contoh yang baik kepada orang- orang disana tentang BAGAIMANA BUDAYA KERJA YANG BENAR. Saya sudah merasa ini adalah hal yang buruk. Tapi, bukan sifat saya untuk menolak perintah atasan. Dengan setengah hati, saya menyetujui permintaan tersebut.

NASIB BURUK kembali menimpa saya. Setelah saya masuk ke departemen itu, orang- orang disana memiliki sifat yang lebih buruk dari yang saya duga. Sebuah sifat anarkhis. Ancaman fisik sering sekali di tujukan kepada saya. dan lebih buruk lagi; kepala bagian (atasan saya) di departemen yang baru ini, memiliki sikap acuh dan kolot. Dia memang menginginkan perubahan kondisi di departemen nya, tapi tidak mau melakukan tindakan nyata. Dia memang mensuport saya, tapi itu hanya sebatas UCAPAN. Tidak ada perubahan tindakan yang dia lakukan, dan dia juga enggan melakukan perubahan. Banyak orang menentang tindakan saya. Orang- orang di departemen tersebut, ingin bekerja dengan santai, dengan metode yang serampangan, dan tidak mau terkekang oleh sebuah aturan yang baku. Sedangkan saya pribadi, membenci sebuah tindakan yang tidak terkoordinasi.

Saya seakan- akan merasa mundur ke sebuah peradaban yang lama. Sebuah keadaan di pertengahan tahun 90-an, dimana sebuah organisasi melakukan semua tindakan dengan serampangan. Hal yang paling membuat saya penuh tekanan adalah; banyaknya ancaman fisik dan terlalu besar sudah kerusakan yang terjadi di departemen itu. Untuk memperbaikinya, diperlukan sebuah kekuatan ekstra besar. Disisi lain, saya harus mengurus perusahaan rintisan saya. Karena tekanan di departemen yang primitif itu, saya sering jatuh sakit. Berat badan saya turun 10 Kg. Riset yang saya lakukan di basic ecomerce dan manajemen di perusahaan rintisan menjadi tidak terkendali. Fikiran menjadi tidak jernih dalam memutuskan banyak hal. Dalam keadaan yang kacau itu, ternyata hasil penjualan tidak sebagus yang saya prediksi. Uang budget yang tersisa, saya alihkan untuk melakukan riset pembuatan produk baru dengan terburu- buru, guna mendongkrak penjualan. Ya, banyak keputusan yang tidak jernih saya lakukan dalam keadaan yang sangat kacau itu. Meskipun saya telah berhasil membuat produk saya yang kedua, ternyata setelah saya melakukan peluncuran produk tersebut, hasil penjualan nya sangat buruk. Semua budget telah habis saya gunakan untuk pembuatan produk kedua. Tidak ada lagi aliran dana untuk menggerakan organisasi. Akhirnya, dalam kurun waktu hanya 2 bulan, dana investor sebesar 200 juta telah HABIS. Yang artinya, itu menandakan kematian perusahaan startup saya. Semua produk yang telah kami buat, tidak laku di jual dengan harga di bawah harga pasar. Terpaksa kami menjualnya dengan harga yang sangat murah. Semua aset perusahaan rintisan kami jual, dan semuanya hanya menghasilkan uang 68 juta, yang kemudian saya kembalikan lagi kepada investor.

Banyaknya uang yang habis dikarenakan pembuatan riset dan pengembangan produk baru yang kedua. Faktor yang lain nya, produk yang kedua bukanlah sebuah produk yang bagus, sehingga sangat sulit melakukan penjualan meskipun kami jual dengan harga di bawah standart pasar. Well, fikiran itu seperti parasut. Dia tidak akan bekerja jika tidak terbuka. Pembuatan produk baru di bawah tekanan fikiran, akan menghasilkan banyak halusinasi yang berbahaya. Karena, produk adalah kekuatan utama yang membuat perusahaan bisa survived. Membuat produk yang jelek, sudah pasti itu sebuah tanda kematian perusahaan.

Sekiranya cukup sekian, review yang saya lakukan jika saya memandang ke belakang untuk mencoba belajar dari kesalahan. Tapi, semua itu menurut saya bukan kesalahan telak saya. Kegagalan itu, terutama lebih disebabkan karena saya SIAL. Sekarang, saya sedang menikmati kehidupan ini dengan membeli berbagai makanan yang saya suka dan pergi ke cafe favorit saya. Mencoba melupakan masa lalu, dan menentukan langkah kedepan apa yang ingin saya ambil. 2 tahun lebih perjalanan saya tanpa henti membangun perusahaan rintisan yang sangat berliku. Dengan semangat pantang menyerah yang saya miliki, tapi ternyata nasib tidak mengijinkan saya menjadi seperti Thomas Alva Edison.

Minggu, 12 Mei 2013

Kisah Saya Bertemu Kebahagiaan di Sebuah Keluarga Baru.

MEET WITH ALEXANDER FRANSESCA.

Artikel ini membahas tentang:
Rencana awal ketika berlibur ke Cububur Juction. Kecelakaan parah di depan mata. Orang- orang yang sangat acuh dengan anak kecil yang terluka parah. Membawa anak kecil yang kecelakaan tersebut ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur. Setelah dia siuman, dia mengatakan “Nama Saiya Alexa”. Tidak jadi berkunjung ke rumah teman saya karena harus merawat Alexander. Mencari alamat orang tua Alexa dengan GPS. Sang ibu yang histeris melihat anaknya masih ada. Perkenalan saya dengan keluarga Alexa. Alexa meminta saya menjadi kakak nya. Pulang ke Kudus dengan pesawat terbang karena waktu cuti sudah hampir habis. Keluarga baru saya di Jakarta.

KISAH SAYA BERTEMU KEBAHAGIAAN DI SEBUAH KELUARGA BARU.

Pada bulan Juni 2010, saya sedang berencana untuk jalan- jalan ke rumah teman akrab saya sewaktu SMK di kota Jakarta yang bernama Randy Estava. Saya sudah mengambil cuti 4 hari untuk melakukan liburan ini. Setelah sampai di Cibubur Juction, saya sedang duduk- duduk di sebuah halte, tiba- tiba saja terjadi kecelakaan tepat di depan mata saya. Salah seorang anak
kecil tertabrak sepeda motor yang melaju dengan kencang. Dan orang yang menabrak nya langsung lari. Banyak orang yang berkerumun menyaksikan kecelakaan itu. Saya juga ikut menyaksikan nya. Ternyata seorang anak SMP sedang bersimbah darah dan hampir tak sadarkan diri terkapar di pinggir jalan. Tapi anehnya, orang- orang yang menyaksikan kejadian itu tidak melakukan tindakan apapun. Mereka seakan- akan menunggu polisi datang untuk membereskan kecelakaan lalu lintas itu. Tidak ada satupun orang di tempat itu yang mengetahui identitas anak yang tertabrak itu. Tidak ada idenstitas sama sekali yang di temukan (baik nomor handphone maupun identitas lain di dompet). Saya melihat anak itu sedang hampir sekarat, dan sungguh saya tidak tega dengan kondisinya. Saya coba mendekati anak itu, memegang tubuhnya dan melihat kondisinya lebih jauh lagi. Dia masih bernafas. Tapi dia bersimbah darah banyak sekali. Saya berteriak kepada orang- orang sekitar, “Pak, ada yang kenal anak ini?”, “Ada keluarga yang bisa di hubungi dari anak ini?”. Tapi orang- orang disekitar kejadian itupun sama sekali tidak ada yang merespon dengan serius. Malah beberapa orang mengatakan “Udaah, nunggu polisi datang aja buat beresin hal ini”. Melihat tidak ada sama sekali orang yang simpati, saya langsung mengangkat tubuh anak kecil itu, dan dengan nekat saya memberhentikan mobil. Mobil pertama yang saya coba berhentikan, malah hampir menabrak saya. Untunglah mobil kedua mau berhenti dan mengantar saya dan anak itu ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur.

Setelah sampai di rumah sakit, saya langsung mengantar anak itu ke UGD. Ketika di tanya oleh resepsionis, saya mengatakan saja bahwa “ini adalah adik saya”. Setelah menunggu dengan was- was kondisi anak itu, satu jam kemudian seorang suster melaporkan bahwa “Pak, adik Anda bisa diselamatkan, tapi kondisinya masih belum sadar penuh. Bapak bisa melihatnya sekarang”. “Oh, ya mbak. Makasih ya. Di kamar mana dia di rawat sekarang?”, tanya ku kepada suster tersebut. “Di Kamar Bonanza, nomor 16. Mohon juga tandatangai terlebih dahulu rincian nota biaya awal rawat inap ini dan silakan melakukan pembayaran awal nya di kasir”, jawab suster tersebut. Ketika saya lihat total biaya awal nya, Saya sangat kaget. Tertera biaya Rp. 15 juta lebih. Saya saat itu memang memiliki tabungan sebesar itu, tapi bila saya gunakan, saya sudah tidak memiliki tabungan lagi. Saya masih ragu untuk melakukan pembayaran biaya di muka tersebut. Karena saya juga takut, jika biaya dimuka nya saja sebesar itu, bagaimana biaya total nya nanti ketika rawat inap nya selesai. Dengan penuh kebingungan, saya tandatangani saja nota biaya awal tersebut dan melangkah menuju ATM Mandiri terdekat untuk mengambil uang.

Uang telah saya ambil. Saya melihat saldo uang saya di ATM sekarang kurang dari 1 juta. Dengan perasaan yang tidak tahu bagaimana, saya berikan semua uang tabungan saya kepada petugas kasir. Setelah itu, saya ke ruangan tempat dimana anak tersebut dirawat. Saya lihat anak itu sedang memakai selang oksigen bantuan. Kepalanya di perban. Ada darah yang menembus perban tersebut. Saya lihat wajah nya, ‘Oooh dia sangat manis sekali. Kulitnya putih. Pasti dia keturunan tionghoa’. Pada waktu itu, dia belum bisa bicara. Tapi, dia masih bisa melihat. Saya pegang tangan nya, dan mengatakan “Semoga cepat sembuh ya, hati- hati lagi kalau di jalan”. Saya lihat dia tersenyum tipis, dan membalas meremas tangan ku, walau balasan remasan tangan nya masih lemas.

Saya kemudian menghubungi teman saya yang di Jakarta, dan mengatakan kalao saya tidak jadi berkunjung. Tapi saya tidak mengatakan alasan sebenarnya bahwa saya harus menemani anak kecil ini sehari penuh. Dengan terpaksa rencana liburan saya kubatalkan. Tapi, tidak apa, karena saya merasa melakukan sebuah kebaikan dan saya lebih menyukai nya. Ketika sarapan pagi datang, saya suapin anak itu. Ketika ke toilet, saya antar dia. Ketika butuh sesuatu, saya mengambilkan dan mencarikan nya untuknya. Malam haripun, saya tidur di samping dia, agar kalau ada apa- apa, saya bisa mengambilkan/ melakukan nya untuk nya. Pada hari kedua, dia sudah bisa berbicara. Pertama kali dia berbicara, dia mengatakan “Terimakasih ya kak, nama saiya Alexander. Nama kakak siapa?”. Kita kemudian banyak mengobrol. Lalu, saya tanya alamat rumah anak itu. Karena tidak ada nomor telp keluarga atau saudara atau teman yang dia ingat, saya pun lalu mencari alamat yang di berikan oleh Alexander tersebut. Ternyata, jarak rumah nya cukup jauh dari lokasi rumah sakit. Sekitar 10 Km. Tapi, karena hari hampir larut malam, saya berencana melakukan pencarian esok pagi saja.

Keseokan harinya, pada hari ketiga, saya mulai mencari alamat rumah yang di berikan oleh Alexander. Saya dengan cukup mudah menemukan alamatnya berkat bantuan Google Maps di smartphone yang saya bawa. Untung saja saya melakukan pencarian di waktu pagi hari. Jadi, suasananya tidak terlalu panas. Setelah tanya beberapa orang, saya kemudian sampai di rumah Alexander. Rumah nya sangat besar, tapi tampak dari luar bukan rumah yang mewah. Lebih tepatnya, rumah itu terlihat seperti model rumah tertutup. Saya tekan bel rumah itu beberapa kali. Setelah menunggu cukup lama (hampir 10 menit), tiba- tiba terdengar suara dari speaker intercom yang di pasang di luar rumah. “Cari Siapa?”. Saya lalu menjawab “Apakah benar ini rumah orang tua Alexander Fransesca yang berumur 10 tahun?”. “Anda siapa?, ada perlu apa anda kesini?, Anda dari pihak mana?”, begitulah suara jawaban dari intercom tersebut yang seakan- akan akan dipenuhi dengan kecurigaan. “Nama saya Willy. Saya bukan dari pihak manapun. Tapi, saya kemarin membawa Alexander ke rumah sakit karena terjadi kecelakaan lalu lintas kepada nya”. Tiba- tiba terdengar suara yang sangat histeris dari speaker intercom tersebut. “Tunggu... Saya akan keluar menemui Anda”. Lalu, seorang wanita keluar membuka pintu utama rumah itu. lalu, dengan sangat penasaran, wanita itu bertanya banyak hal kepada saya. Ternyata, wanita itu adalah ibu Alexander. Namanya Syaharani. Ibu alexander pun langsung mengeluarkan mobil dan menuju ke rumah sakit bersama saya.

Ketika meilihat kondisi Alexander, ibunya langsung menjerit dan menangis. Dia mengucapkan puji syukur berkali- kali kepada Tuhan karena anaknya ternyata masih ada dan selamat. Lalu, saya dan ibu Alexander pun mengobrol banyak hal. Pada waktu itu, Alexander sudah bisa bicara dengan lancar. Dan ternyata, Alexander adalah tipe anak yang suka banyak berbicara. Di depan ibunya, dia menceritakan kisah saya ketika menolong nya “Mah, kak Willy ini mah yang telah menyelamatkan ku. Kakak membawa ku ke rumah sakit ketika gak ada orang lain mau menolong. Kak Willy menghentikan mobil dan hampir tertabrak hanya karena agar aku bisa cepat di rawat di rumah sakit”. Dan... Bla... bla... bla.... Begitulah sekiranya Alexander kalau cerita. Mamah nya tersenyum sangat senang melihat cerita Alexander. Sedangkan diriku, agak malu seakan- akan di promosikan karena hal yang telah ku lakukan. Kemudian, dengan alasan ingin mencari makan, saya keluar dari ruangan itu agar mamah Alexander bisa mengobrol banyak dengan anak tercinta nya.

Setelah selesai makan sore dan jalan- jalan sendirian ke sekeliling rumah sakit, saya kemudian kembali ke ruangan Alexander. Tiba- tiba terlihat sosok lelaki yang sedang ada di samping Alexander. “Pah, ini kak Willy pah yang udah menyelamatkan aku dan merawat ku”. Dengan segera laki- laki itu menjabat tangan ku dan berterimakasih sedalam- dalam nya karena tindakan yang telah ku lakukan. Saya dan keluarga Alexander pun kemudian mengobrol banyak hal. Dari mulai pekerjaan saya, umur saya, tempat tinggal saya, dll. Papah Alexander pun kemudian berkata “Terimakasih atas kebaikan yang Anda lakukan kepada Anak kami. Dia adalah satu- satunya buah hati yang kami miliki di dunia ini. Berapa nomor rekening Anda, biar saya ganti biaya awal rumah sakit yang kamu keluarkan?”. Saya kemudian memberikan nomor rekening saya, dan seketika papah Alexander mentransfer sebuah saldo ke rekening saya. Ternyata papah Alexander baru saja pulang dari Beijing karena mendengar kabar tentang Alexander. Papah nya adalah seorang Manajer di Bank of China.  Dia bertanggung jawab terhadap seluruh operasional jaringan Bank tersebut di kawasan Asia Tenggara.

Kami sempat makan malam bersama di ruangan tempat Alexander di rawat. Tiba- tiba saja, Alexander berbisik- bisik kepada mamahnya. Saya tidak tahu apa yang dia katakan, tapi kemudian mamahnya mengatakan sesuatu kepada saya. “Willy, Alexander tuh dari dulu pengen banget punya kakak. Tapi kan tidak mungkin ya !?, karena dia kan anak pertama. Nah, Willy berkenan gak kalau jadi kakak nya Alexander?”. Saya lalu tersenyum mendengar nya. Tiba- tiba saja, Alexander bilang “Ya kak ya, Jadi kakak Alexa ya. Pleese, kak Willy ya”. Sambil meminta berkali- kali, saya pun menjawab nya dengan tersenyum senang “Tentu Alexander. Kakak pun tidak punya saudara kecil di rumah. Karena kakak pun anak terakhir”. “Yees !, makasih kakak ya”, Alexander langsung memeluk ku walau tangan nya masih tertancap selang infus. Dia terlihat sangat senang sekali dengan hal itu. Setelah makan malam selesai, dan ngobrol beberapa waktu, sayapun berpamitan pulang kepada keluarga Alexander. Sebab, sayapun harus segera pulang karena cuti yang saya ambil hanya 4 hari saja.

Ketika saya mau pulang ke Kudus, papah Alexander pun membelikan tiket pesawat terbang untuk saya secara online. Aneh juga rasanya, berangkat ke Jakarta naik Bus, tapi pulang nya naik pesawat. Setelah sampai di Bandara Ahmad Yani- Semarang, saya kemudian mampir ke rumah kakak saya yang ada di kawasan Menoreh Utara- Semarang. Di pagi harinya, saya iseng untuk mengecek saldo rekening saya. Ternyata, soldo yang di transfer oleh papah Alexander sebesar 20 juta. Padahal saya hanya mengeluarkan biaya pengobatan awal untuk Alexander hanya 15 juta saja. Terjadi kelebihan 5 juta. Saya coba untuk menghubungi ayah Alexander, dan mencoba untuk mengembalikan kelebihan uang tersebut. Tapi, papah Alexander tidak mau. Saya coba untuk melakukan transfer kembali, ternyata nomor rekening Ayah Alexander tidak telah di seting agar tidak menerima saldo dari rekening saya. “Saldo 5 juta itu tidak berarti sama sekali bila saya kehilangan anak saya. Terima saja, kami bersyukur telah bertemu orang seperti Anda”. Begitulah yang di katakan oleh Ayah Alexander.

Semenjak kejadian itu, keluarga Alexander telah menganggap saya sebagai Saudara. Sebagai kakak Alexander. Setiap papah Alexander pulang dari Beijing, dia selalu menelfon saya dan membelikan tiket pesawat terbang untuk saya. Saya selalu mengambil cuti liburan jika ayah Alexander pulang. Seperti halnya waktu tanggal 15 November 2012, saya di undang papah Alexander untuk ke Jakarta. Lalu, pada bulan 11 Desember 2012 juga, saya ke rumah Alexander untuk merayakan ultah Alexander. Karena, pada waktu itu, papah dan mamah Alexander sedang pergi ke Taiwan karena suatu urusan. Bulan 1 April 2013 juga saya ke rumah Alexander, disamping saya ada pertemuan organisasi di Jakarta. Kebahagiaan yang saya rasakan, benar- benar menakjubkan. Karena, saya baru merasakan betapa menyenangkan nya memiliki seorang saudara kecil. Seorang adik cowok yang sangat suka sekali berbicara dan bermain. Jika bersama Alexander, seakan- akan semua beban yang saya miliki hilang semua. Larut di dalam sebuah kebahagiaan ketika bersama dia. Pertemuan dengan keluarga baru Alexander inilah nanti yang akan membawa saya pada sebuah dunia yang baru, dan akses ke beberapa organisasi luar negri yang sebelumnya tidap pernah saya jumpai di dalam kehidupan saya. dan yang paling mengagumkan ...!, Keluarga baru saya ini memberikan pengetahuan terhadap sebuah sudut pandang yang baru, yang akhirnya nanti membuat saya memiliki semangat tak terpatahkan (positivisme) dalam menjalani hidup di dunia ini. Kehidupan yang sebelumnya saya pandang sebagai kesalahan, kini menjadi penuh warna dan pantas untuk di perjuangkan. “Live is Like Reading Bike, to Keep Our Balance, We Must Move On !”. Itulah pelajaran kehidupan utama, yang saya dapatkan dari keluarga Alexa !.

Rabu, 08 Mei 2013

Sumber Utama Ketidak Tenangan Jiwa; Ketakutan

KETIDAKTENANGAN JIWA  DARI KETAKUTAN YANG TIDAK DI SADARI.

Artikel ini berisi tentang:
Ganjalan hati yang ternyata adalah sebuah Ketakutan yang tidak di sadari selama bertahun- tahun. Ambisi yang tidak terkendali akan mengakibatkan tekanan jiwa. Ambisi yang tidak terkendali yang membuat ketidak tenangan jiwa sulit di sadari. Bekerja keras dan perfeksionis adalah sebuah ketakutan akan kegagalan yang sulit di sadari. Efeksamping dari sebuah tekanan dari ketakutan yang sangat beragam dan kompleks. Fokus berlebihan menutup inovasi.

SUMBER UTAMA KETIDAK TENANGAN JIWA; KETAKUTAN.
Sudah cukup lama, saya merasakan sesuatu hal yang sulit saya sadari sendiri. Selama bertahun- tahun, saya merasa selalu ada ganjalan hati, tapi tidak tahu ‘apakah itu?’. Menguak ganjalan hati itu, dulu bagi saya sangatlah sulit. kesulitan yang paling utama adalah karena
saya tidak menyadari –atau lebih tepatnya sangat sulit menyadari- hal itu. Mencari nya sama seperti menguak satu masalah terpendam dari beragam permasalahan yang kompleks dan sangat rumit. Bagai menemukan jarum di dalam tumpukan jerami. Selama bertahun- tahun, saya tidak sadar. Karena ke-TIDAK SADAR-an tersebut lah, yang membuat saya selalu mendapati beragam keresahan. Keresahan yang memicu puluhan masalah yang lain nya. karena sebuah sumber tunggal itulah, beragam ke-TIDAK TENANGAN jiwa datang menyeliputi saya. sumber tunggal itu, tidak lain dan tidak bukan adalah KETAKUTAN.

Saya merasa telah mendapatkan sebuah instuisi, ketika saya menyadari ketakutan ini. pada mulanya, saya membaca sebuah buku yang berjudul ‘Google Speak’ karya Janet Lowe. Entah di Bab mana –saya lupa, tapi saya membaca sebuah halaman tentang Larry Page yang sakit dan untuk sementara waktu tidak mampu ikut memimpin perusahaan Google Inc. Larry Page sakit punggung karena kecelakaan saat bermain BaseBall. Yap, perusahaan Google yang bernilai miliar dolar di pimpin oleh seorang anak muda yang masih suka main- main. Tapi, tetap saja ya, Google masih tetap berdiri dan malah mampu berkembang lebih besar lagi. saat saya membaca halaman buku tersebut, muncul pertanyaan; mengapa perusahaan raksasa Google tidak di pimpin dengan sangat serius !?. Seakan- akan Larry Page dan Sergey Brin (pendiri Google) memimpin perusahaan itu dengan santai. Saya kemudian bertanya kepada diri saya sendiri; mengapa saya tidak bisa santai seperti mereka?. pertanyaan itu memunculkan sebuah jawaban; ‘karena saya sangat berambisi’. Setelah itu, muncul pertanyaan lain; ‘bukankah diperlukan ambisi yang besar untuk mencapai keinginan yang besar !?. apa yang salah dengan hal itu !?’. semakin lama, kepala saya mengeluarkan berbagai macam pertanyaan. Saya sempat berhenti sejenak untuk berfikir karena saya sudah merasa sangat banyak pertanyaan di dalam kepala saya. lalu, saya menelusuri buku tersebut kembali. Membacanya lebih jauh lagi, dan mengambil kesimpulan; Google Inc bisa sangat sukses karena mereka memiliki inovasi dan melakukan langkah besar. Inovasi lah yang membuat mereka memiliki fondasi bisnis yang hebat, dan langkah besar lah yang membuat mereka mampu mengembangkan inovasi tersebut sehingga menghasilkan keuntungan perusahaan yang besar. Tidak sampai di sini penelusuran saya. Saya masih dalam keadaan penasaran yang sangat besar saat itu. hingga sekitar 1 minggu, barulah rasa penasaran saya terjawab. Saya melewati tulisan tentang perjalanan pencarian saya terhadap rasa penasaran saya tersebut karena akan sangat banyak hal yang perlu saya tuliskan bila saya tidak melewatinya.

Akhirnya, saya menyadari, bahwa selama ini saya mengalami ketakutan yang sangat besar. TAKUT BILA GAGAL. Sehingga, saya menghabiskan seluruh waktu luang yang saya punya untuk belajar, bekerja dan melakukan aktivitas guna menggapai impian saya tersebut –dan hampir tidak ada waktu untuk bermain baseball seperti yang Larry Page lakukan. ketakutan memicu saya untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ketakutan memicu saya untuk belajar mempelajari hal lebih banyak dari setiap menit waktu yang saya miliki. Dan ketakutan yang membuat keresahan jiwa saya muncul. Dan KETAKUTAN yang membuat saya tidak bisa berinovasi seperti mereka (Larry& Sergey). Memang benar, sebuah ketakutan terkadang di butuhkan dalam hidup ini. ada pepatah yang mengatakan bahwa; “Ketakutan lah yang menyelamatkan jiwa mu. bila manusia tidak memiliki rasa takut, mereka akan menyebrang jalan dengan menutup mata”. Tapi, saya fikir, ketakutan yang saya miliki tidak tepat dan bukan di tempat yang tepat (bagi saya).

Beragam ketakutan itu memicu sebuah efek samping lain. Dan efek samping lain itu ternyata memicu efek samping yang lain nya lagi, hingga seakan- akan semua efek itu SANGAT- SANGAT RUMIT sekali bila di rasakan –dan lebih rumit lagi untuk di urai dan di pecahkan pada akar permasalahan nya. efek- efek samping itu akan saya tuliskan di bawah ini.

Ketakutan memicu semangat. Semangat memicu hiper aktivitas. Hiper aktivitas memicu kurang nya waktu. Waktu yang kurang memicu kurangnya belajar hal lain –sesuatu yang baru, sehingga inovasi besar tidak bisa di temukan. Hiper Aktivitas memicu fokus kepada aktivitas yang sedang di kerjakan. Fokus yang berlebihan menutup solusi inovasi.

Ketakutan memicu keberanian menghadapi hal yang baru. Menghadapi hal baru yang benar- benar besar memicu usaha untuk meningkatkan kepercayaan diri (optimisme) yang besar pula. Kepercayaan diri yang terlalu besar memicu sifat Megalomania. Megalomania yang tidak di sadari (karena terlalu sibuk melakukan aktivitas) menyebabkan perasaan diri seakan menjadi orang besar. Perasaan percaya diri sebagai orang besar yang tidak di sadari dengan kenyataan lingkungan di sekitar nya membuat salah pemahaman terhadap rekan kerja. Salah pemahaman membuat kurang nya sikap toleran. Sikap toleran yang kurang menyebabkan rasa bermusuhan dan menimbulkan pertikaian. Di samping sikap toleran yang kurang, terdapat juga sikap toleran yang salah. Sikap toleran yang salah memicu GAP (jarak) antara rekan dalam aktivitas keseharian. Sebuah GAP dan rasa toleran yang kurang memicu rasa sakit hati yang sedikit demi sedikit membawa dampak pada amarah yang memuncak. Amarah besar menimbulkan konflik besar.
Ketakutan memicu sikap perfeksionis. Sikap perfeksionis yang tidak di sadari dengan baik dalam sebuah kerjasama dengan tim akan menghasilkan miss komunikasi (kesalahan pemahaman). Kesalahan pemahaman menimbulkan konflik.
Ketakutan memicu evaluasi terhadap rencana. Ketakutan yang berlebihan memicu evaluasi terhadap rencana yang selalu di lakukan bukan di waktu yang tepat dan selalu di lakukan dimana saja. Evaluasi di waktu yang tidak tepat membuat keadaan diri sendiri yang sering bergumam (tidak terlalu fokus terhadap aktivitas di depan kita dan sering lupa).
Ketakutan memicu sikap waspada. Ketakutan yang berlebihan memicu sikap waspada yang sangat besar. Dalam dunia bisnis yang penuh dengan pengkhianatan, kewaspadaan yang berlebihan menimbulkan prasangka buruk kepada siapa saja. Prasangka buruk yang berlebihan menimbulkan sikap membenci yang kurang berdasar. Sikap benci membuahkan bibit- bibit konflik yang siap berkobar kapan saja.

Semua efek diatas berakar pada sebuah ketakutan. Yap, selama ini memang semua berjalan dengan baik. tidak masalah bagi saya bila saya bertindak berdasarkan efek- efek kompleks yang timbul. Karena saya tidak peduli apa yang orang lain katakan terhadap saya ataupun tindakan saya. Semua efek itu bukan MASALAH BESAR bagi saya. semua sikap yang di timbulkan dari efek ketakutan memang di butuhkan dalam dunia yang penuh dengan pengkhianatan seperti ini (dunia bisnis). Tapi, jika semua itu tidak di tempatkan pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat, semua nya bisa menjadikan jiwa terasa ada yang membebani. BUKAN ... !, bukan seperti ini yang saya inginkan. Yang saya inginkan adalah menjalani pilihan saya dengan seluruh jiwa saya. menjalani kehidupan yang seutuhnya. Memang, dengan adanya ketakutan, motivasi semakin membesar, kewaspadaan menjadi tinggi, dan semua waktu luang di gunakan dengan sebaik- baik nya. Yap, seperti apa yang di katakan Hitler sewaktu melakukan perluasan runag hidup rakyat Jerman; ‘manusia hidup berdasarkan konsekuensi, bukan berdasarkan apa yang seharusnya. Karena apa yang seharusnya itu tidak pernah ada’. Sungguh, hal itu tidak sesederhana apa yang kita kira. Apakah Anda bisa bekerja tanpa sebuah motovasi, tetapi karena sebuah pandangan hidup; bahwa manusia itu memang harus bekerja keras untuk melangsungkan hidupnya?. Memang, ketika sebuah contoh kasus yang saya tuliskan tersebut di lakukan pada sebuah aktivitas yang biasa- biasa saja atau memiliki sebuah tingkat kesulitan yang kecil, hal itu mungkin cukup banyak orang yang bisa melakukan nya. tapi, ketika kita di hadapkan pada sebuah situasi dimana nyawa kita selalu terancam, kesulitan- kesulitan yang sangat besar selalu menghadang dan hal seperti itu berlangsung seumur hidup, saya pikir akan menjadi sangat sulit bagi kita untuk benar- benar berani terjun ke dalam dunia yang seperti itu –dan bertahan seumur hidup di dunia seperti itu.

Well, ini semua tidak mudah. Mengendalikan ketakutan di sebuah tempat yang penuh dengan mara bahaya yang besar. Anda seperti terdampar di sebuah Taman Jurasic (Jurasic Park) dan harus bertahan hidup di sana dengan cara berburu dan di kelilingi berbagai macam ancaman dari Karmivora Dinosaurus yang selalu ingin memakan tubuh kita. untuk itu, kita harus mengubah sudut pandang kita terhadap dunia ini. hidup berdasarkan konsekuensi, dan menjalani hidup seutuhnya. Lihat artikel lanjutan ini: Mengubah Sebuah Sudut Pandang.

Mengurangi Sikap Memendam dan Penalaran dari Mitos Dogma Orang Tua Terkasih- Syair.

Mengurangi sikap memendam dan penalaran dari mitos dogma orang tua terkasih- syair.
Kudus, 15 April 2013.


Pernahkah kamu membenci seseorang, entah karena sikap nya, tindakan nya maupun keputusan nya...
Dan kamu menggumam, menyimpan dendam dan kebencian.
Dan bahkan, memprovokasi teman- teman mu untuk ikut serta agar membenci dirinya.

Namun, kenyataan yang kamu dapatkan hanyalah rasa kesal dan lelah yang menyakiti mu.
Dan teman- teman mu yang memang mendukung argumen mu, tapi tetap tidak melakukan perlawanan langsung kepada –nya.
Sungguh, kamu membencinya. Dan seringkali, kamu mengemukakan sikap ketidak-senangan mu kepada nya, entah dengan bagaimana.
Tetapi juga, entah kenapa.
Dia seakan- akan tidak ada respon. Tidak memiliki respon sedikitpun atas sikap mu.
Dia tidak menderita tekanan batin seperti mu.
Dia tertawa, tersenyum dan bercanda dengan teman- teman nya.

Lalu, untuk apa sikap memendam yang kamu miliki itu?.
Hanya untuk memberi tahu dia agar dia merubah sikap nya kepada mu?.
Tetapi, dia tidak tahu.
Bila mungkin dia tahu, dia pun tidak langsung begitu saja mengubah sikap nya –yang telah mendarah daging itu- kepada mu.

Ibuku dan kakek ku –yang tercinta- menginginkan ku untuk bersikap pasrah dan bersyukur, karena semua ini ada yang mengatur.
Bola kehidupan, bagi mereka akan berputar. Dan kita akan –dengan begitu saja- sampai di posisi atas, lalu orang yang ada di posisi atas akan berada di bawah. Suatu hari nanti –DENGAN BEGITU SAJA.
Tapi, roda itu tidak akan berputar jika tidak diputar.
Kehidupan tidak memiliki mata. Tidak ada yang mengatur. Dan sama sekali tidak memberi belas kasihan –KARENA KEHIDUPAN ITU BUTA.
Orang- orang yang percaya bahwa roda kehidupan akan berputar seperti demikian, akan mendapatkan kekecewaan ketika mendekati kematian.
Well, tidak masalah bila itu yang mereka inginkan. Yang asti, aku tidak memilih jalan yang mereka pilih.
Itu konsekuensi untuk mereka, dan aku tidak perlu memikirkan lebih jauh apa yang akan terjadi untuk mereka kelak.
Dan ini adalah konsekuensi ku, yang benar- benar telah siap ku ambil.

Selama ini, aku berfikir terlalu jauh. Sifat materialisme ini, tidak terkendali.
Keseimbangan kehidupan ini tidak ada yang mengatur. Dengan bukti ilmiah, terdapatnya orang gila.
Orang gila adalah orang yang kehilangan kendali dan keseimbangan.
Tidak akan ada yang akan memberitahu umat manusia sebuah kebenaran mutlak dan absolut.
Akupun tidak tahu, apakah suatu hari akan benar- benar muncul sang-maha, entah dari mana.
Tapi yang pasti, aku membatasi pengetahuan ku saat ini.
Tenggelam dalam kebodohan?, Tapi, apa peduli ku !?.

Aku melihat, dengan seuruh kesadaran ku, orang yang lemah –khususnya di tempat ini- akan di injak- injak.
Sungguh... aku melihat nya !?.
Meskipun batasan ku sebelumnya tentang sikap orang cukup tinggi. Namun, sekarang aku melonggarkan batasan ku tersebut.
Sekarang, aku MELONGGARKAN batasan ku.
Aku akan merespon, sikap yang menurutku keluar dari batasan ku.
Dengan cara yang paling mudah dan paling efektif. Bukan cara yang rumit namun dengan ke-efektivan yang sama (atau mungkin kurang efektif).
Akan kulakukan, apa yang harus ku lakukan. Titik.
Dan aku tidak peduli dengan ramalan masa depan dari kakek dan ibuku yang terkasih itu.

Yang pasti, dan yang terpenting, yang ku percayai saat ini...
Aku harus mengurangi sebesar mungkin, sikap memendam ini.

Konsekuensi Atas Pilihan Hidup.

ALASAN TUHAN MENCIPTAKAN KONSEKUENSI- GOD DOES’NT PLAY DISC.

Artikel ini berisi tetang:
Bukan jawaban yang saya cari, namun pertanyaan itu sendiri yang tidak bisa saya temukan. Apa alasan Tuhan menciptakan konsekuensi. Tuhan tidak bermain dadu. Beyond good and the Evil- Frederick W Nietsche. Relativitas yang di terima oleh manusia ketika mendapatkan sesuatu atau melakukan sesuatu. Kelemahan atas pilihan jalan hidup (masing- masing jalan hidup memiliki konsekuensinya masing- masing). Penjelasan mengenai sikap yang –terlihat- jahat, namun bijaksana apabila di terapkan.
Catatan: Artikel ini adalah sebuah terjemahan karya sastra Frederick W. Nietsche- Beyond good and the Evil (Diantara hal yang baik dan hal yang buruk). Direkomendasikan untuk perlu mengetahui aspek lebih lanjut lagi mengenai “Beyond good and the Evil” untuk lebih mengerti makna yang terkandung dalam artikel ini, dan tidak terjadi kerancuan pengertian.


KONSEKUENSI ATAS PILIHAN HIDUP.
Saya menulis artikel ini langsung ketika saya mendapatkan atas jawaban dari misteri hati saya mengenai “konsekuensi hidup”. Sebuah pertanyaan yang selama bertahun- tahun mengganjal dalam benak saya. bukan karena saya tidak menemukan jawabannya selama bertahun- tahun, tapi misteri itu sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang tidak bisa saya temukan. Pertanyaan itulah misterinya.

Bunyi dari pertanyaan saya adalah; “apa yang menjadi alasan Tuhan menciptakan konsekuensi?”. Pertanyaan ini bisa menjawab banyak pertanyaan yang sebelumnya sangat kompleks. Artinya, pertanyaan ini adalah sebuah filosofi bagi beragam banyak jawaban. Dengan terpecahkannya satu pertanyaan ini, saya bisa menjawab banyak hal berbeda dengan hanya satu jawaban saja. Sebelumnya, perlu anda ketahui. Kosmologi pikiran (alam pikiran) saya adalah bahwa semua hal di dunia ini memiliki fungsi dan tujuan dalam penciptaan nya. “God did’nt playing Cube”, atau bila di terjemahkan; “Tuhan tidak bermain dadu”. Itu yang di katakan einstein ketika berdebat dengan Rohm mengenai mekanika Quantum. Artinya, ya seperti yang saya katakan di atas; Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan bermain- main, tapi dengan sebuah tujuan tertentu. Sekarang, apa yang menjadi tujuan Tuhan menciptakan konsekuensi?. Saya akan menjelaskan lebih detail dengan sebuah contoh kasus yang menemani agar mudah menjelaskannya. Misalkan saja; saya menginginkan jadi artis. Taukan, bagaimana sikap artis kalau dia sudah lama menjadi artis?. Cuek bebek !. percaya deh dengan saya. saya memiliki teman artis yang sudah berkiprah dalam dunia entertaimen sejak kelas 4 SD. Walaupun di depan banyak orang terkadang dia ramah, tapi dalam hati, 95% artis itu cuek bebek dengan fands nya. nah, sekarang pembahasan kita akan masuk ke dalam metafisika lebih dalam lagi. Ini mengenai “Baik dan Buruk”. Saya ada sisipan sedikit, Beyond Good and the Evil, karya Frederick Wilhelm Nietsche dalam artikel ini. seorang artis yang cuek bebek terhadap fands nya. dia berbohong dan mendustai fands nya ketika mengatakan “I Love You All”, atau “Tanpa kalian, aku tidak berarti”, atau juga “kalian adalah hidupku. Tanpa kalian, saya tidak pernah ada di sini”, dan berbagai macam kata- kata menarik yang di gelontorkan oleh para artis tersebut. pertanyaan nya, apakah dia tidak merasa berdosa mengatakan hal itu?. atau sebuah contoh lain; seorang artis yang main sinetron. Dia bekerja dengan sutradara baru –sutradara yang masih baru dan belum memiliki pengalaman dalam dunia entertaimen sebelumnya. Artis itu melakukan banyak kesalahan dalam aktingnya. Sehingga, si sutradaranya marah besar. Karena budget (dana cadangan) yang di miliki sutradara tersebut sedikit, sehingga karena artis tersebut melakukan banyak kesalahan dalam akting nya, sehingga banyak film yang terbuang. Karena banyak film yang terbuang, maka sutradara tersebut kehilangan banyak uang. Dia kemudian memakai uang budgetnya untuk menutup kerugian tersebut. nah, karena budgetnya sedikit, kerugiannya tidak bisa di tutup lagi, sehingga filmnya tidak selesai dan gagal tayang. Itu semua karena kesalahan artis yang menurut sutradara tersebut tidak pecus bekerja. Tapi, artis tersebut menganggap itu adalah kesalahan sutradara karena menyiapkan uang budget yang mepet. Apabila uang budget nya banyak, film itu bisa selesai dan keuntungan dari penayangan film tersebut akan sangat banyak (bisa menutup kerugian yang banyak pula). Artis itupun tidak ambil pusing terhadap kerugian sutradaranya. Sutradaranya marah- marah ke dia, tapi dia malah pulang kerumah seperti tidak memiliki dosa. Maklum, artis !, pastilah mukanya tebal –kalau tidak bermuka tebal, tidak akan jadi artis. *** Okey... cukup panjang ya ceritanya. Tetap ikuti terus, karena penjelasan saya memang panjang –supaya anda mengerti***. Pertanyaan nya, apakah sikap artis itu bisa di benarkan?. Siapa yang benar dan siapa yang salah?.

Saat saya pertama kali masuk ke lingkungan organisasi, saya memiliki pembantu yang memang bertugas membantu saya. saat saya pertama kali bekerja dengan nya, saya selalu membantunya bila menemui kesulitan. Namun, lambat laun, dia menjadi manja. Kemudian, saya mengambil keputusan untuk tidak membantunya lagi. Lalu, terdengar kabar beredar, bahwa menurut dia –Staff saya di kantor- sekarang saya ini berubah. Tidak lagi pengertian, tidak lagi perhatian, dan keras kepala. Tapi, saya berfikir, kalau saya membantunya terus, dia tidak akan maju. Dia akan terus menjadi pribadi yang manja. Di sisi lain, pekerjaan saya sendiri menjadi berantakan karena saya sering membantunya. Apakah sikap saya salah/ benar?. Dan kebanyakan dari rekan sejawat saya, memang membantu staff kantor mereka.. ya, hasilnya, pekerjaan mereka kacau, staff mereka menjadi manja dan pekerjaan mereka selalu tidak bisa di selesaikan tepat waktu. Tapi, banyak orang menganggap prilaku saya salah. Mereka berfikir, saya tidak berprikemanusiaan. Tapi, saya berfikir, saya melakukan semua itu agar mereka bisa mandiri. Kedua contoh diatas adalah sebuah pertanyaan antara benar dan salah. Siapa yang bisa menjawabnya?. Mungkin hanya Tuhan. Tapi, untuk sementara, mari kita coba jawab sendiri.

Ini adalah sebuah konsekuensi atas hal yang kita perbuat. Atas jalan yang kita tempuh dan kita pilih. Semua gejolak itu pada dasarnya diterima dengan kapasitas yang sama –secara objektive, tanpa memperlihatkan sudut pandang orang tertentu. Tapi, penerimaan kita yang berbeda –bila di pandang secara subjektive, berdasarkan sudut pandang orang tertentu. Masih bingung?. Saya akan menjelaskannya lagi. Artis seperti contoh saya di atas, akan menerima kata- kata kasar dari si sutradara yang bangrut. Anggap saja, si sutradara mengatakan seperti ini; “eh, artis gak pecus bekerja. Kamu hanya bisa mengacaukan dan menghancurkan orang lain. Tidak bisa bekerja dengan baik. heran sekali, mengapa orang bodoh seperti kamu bisa jadi artis !?”. nah, karena yang di caci maki itu artis, maka orang itu –artis tadi yang di caci maki- akan merasa baik- baik saja. Artis pastilah orang yang bermuka tebal, tidak banyak memiliki rasa sungkan atau malu. Tapi, apabila yang di di caci maki adalah seorang kuli bangunan; “eh, kuli bangunan gak pecus bekerja. Kamu hanya bisa mengacaukan konstruksi bangunan dan menghancurkan rumah. Tidak mampu bekerja dengan baik. mengapa orang bodoh seperti kamu bisa di angkat jadi kuli bangunan !?”. kata- kata yang di lontarkan pada dasarnya sama. Tapi, saya yakin, si kuli bangunan akan lebih sakit hati menerima kata- kata itu. maklum, kuli bangunan. Yang di kedepankan hanyalah otot dan emosi ketika mengangkat beban bangunan saja. Nah, penerimaan inilah yang berbeda. Perasaan si kuli bangunan akan lebih sakit hati, ketimbang perasaan si artis dengan kata- kata caci maki yang sama.

Dalam sebuah kehidupan, tidak ada yang baik dan benar. Hal itu tergantung dari si penerima saja. Tidak ada yang bisa menghakimi seseorang bila dia bersikap anti sosial di lingkungan masyarakat yang memiliki sosialisasi tinggi. Tidak ada yang bisa mengatakan bahwa orang itu salah, atau orang itu benar. Jika saya dalam keadaan seperti ini, di salahkan banyak orang karena sikap saya yang berbeda atau sikap yang menurut mereka salah, akan saya ambil itu. saya akan membiarkan orang- orang menganggap diri saya salah. Tidak perlu mengubah pandangan mereka. karena, memang anda melakukan hal yang beda –yang menurut mereka salah. Tapi, jika ada kesempatan, berikanlah mereka melihat sudut pandang anda. Tapi, kebanyakan hal ini tidak mudah dilakukan. Membuat orang lain membenarkan sudut pandang mereka?, bagi saya, hal ini susahnya minta ampun. Seperti halnya merubah orang malas menjadi rajin. Ini memerlukan waktu yang lama dan proses yang panjang. Tapi, yang paling utama yang harus anda pegang adalah; biarkan mereka menjelek- jelekan anda. karena, pasti mereka sudah melakukannya. Yang pasti, jangan biarkan ucapan mereka mengganggu posisi anda. dalam arti; jangan sampai, ucapan mereka menggerogoti pendapat atasan anda atau relasi anda. yang dimana, hal itu bisa mengakibatkan kedudukan anda goyah dan –bisa saja- tumbang. Asalkan itu semua adalah ucapan, yang tidak berpengaruh dengan posisi anda, biarkan mereka mengatakan apa saja tentang anda. ini adalah konsekuensi anda. konsekuensi mengambil jalan yang berbeda. Kelebihan anda, anda bisa lebih maju daripada rekan anda yang lain –dengan memilih jalan yang berbeda. Sisi buruk/ Resiko anda; anda akan di hujat banyak orang –dan anda akan merasakan banyak serangan. Posisi anda lebih rancu. Sekarang, ini mengenai soal pilihan saja; yang mana yang harus anda pilih?. Hidup tenang sebagai orang yang biasa saja. Atau, hidup dengan tantangan sebagai orang yang lebih maju?.

Mereka –yang hidup biasa saja- juga akan memiliki kekurangan/ kesedihan/ kendala lain juga kok. Orang yang hidup tenang, biasanya di hantui dengan perasaan bosan karena melakukan aktivitas monoton. Dan terlebih, mereka akan ketakutan setengah mati apabila menghadapi tantangan baru. Dan, mereka sering berfikir, untuk lebih memiliki standart kehidupan yang lebih baik, namun mereka tidak mampu menggapainya –karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk menggapainya. Bukan keresahan hati yang mereka rasakan, melainkan rasa merana diri. Merana sebagai orang yang menginginkan sesuatu, tapi tidak mampu menggapainya. Jika seorang yang ingin maju, mereka bisa merasakan kehidupan mewah, merasakan asyiknya kehidupan yang tidak pernah dirasakan orang awam. Tapi, efek buruknya, mereka akan menemui banyak tantangan dan hambatan. Terkadang di puncak atas, terkadang juga di bawah. Itu semua konsekuensi. Saya tidak pernah menemui orang yang mendapatkan sesuatu tanpa harus melakukan konsekuensi atas perbuatan/ hasil yang dia lakukan/ dapatkan.

Namun, untuk menghadapi jalan yang telah anda pilih, atas konsekuensi yang harus anda tanggung, anda harus bisa membuatnya menjadi “relative” agar anda bisa mengendalikan diri anda di posisi anda. lakukan hal yang menurut anda harus anda lakukan. walaupun hal tersebut terkadang tampak tabu bagi masyarakat awam. Anda tidak bisa memperoleh hal yang spesial dengan cara yang umum. sepanjang sejarah, saya belum pernah menemuinya.

Jadi, intinya, semua hal ada konsekuensinya. Baik yang hidup sederhana, maupun yang hidup bergelimang harta. Konsekuensi di ciptakan Tuhan agar manusia menderita/ merasakan sakit. Alasan Tuhan menciptakan rasa sakit adalah agar manusia bisa merasakan nikmat/ bahagia. Apa yang anda rasakan apabila semua keinginan anda terpenuhi?. Tentu saja rasa bosan. Setelah anda melewati tantangan panjang dalam menggapai sesuatu, barulah anda merasakan kebahagiaan. Apabila sesuatu di dapatkan dengan mudah, pasti kegembiraan yang di hasilkannya akan setara dengan kesedihan yang di akibatkan atas apa yang telah dilakukan sebelumnya. Artinya, kebahagiaan anda sedikit karena kesulitan dalam melaluinya pun sedikit. Ini adalah sebuah ilmu pengetahuan untuk anda dan saya, agar bisa lebih bahagia karena mengerti hidup. Kebahagiaan itu tidak ada tolok ukurnya. Tapi, kebahagiaan itu bisa di ukur oleh subjek yang anda tuju. Apabila saat ini anda adalah seorang karyawan dengan gaji yang mencukupi, anda bisa merasa bahagia dan menjalani aktivitas monoton –yang tentu suatu saat akan menjadi kebosanan- jika anda membandingkan diri anda dengan kehidupan orang- orang primitif di pulau Papua. Tapi, jika anda membandingkan standart kehidupan anda dengan artis papan atas dunia, anda akan merasa merana. Karena posisi anda lebih rendah dari mereka. tapi, tetap, apapun jalan yang anda pilih, selalu ada konsekuensinya.

Catatan Kaki: Artikel ini adalah sebuah penterjemahan dari sebuah karya sastra Frederick Wilhelm Nietsche- Beyond good and the Evil. Saya mencoba menjelaskan nya kepada orang yang ingin tahu mengenai karya sastra tersebut, dengan bahasa yang lebih mudah di pahami daripada buku aslinya –yang sangat sulit di pahami.
Penulis dan penterjemah makna: Willy Yusuf Rahmadi.

Arti Sebuah Kebodohan.

MENGHINDARI KEBODOHAN DALAM ARTI YANG SEBENARNYA.

Artikel ini berisi tentang:
Arti kebodohan yang sesungguhnya. Bukan saya yang bodoh, tapi mereka lah yang tidak mengerti. Alasan dan pengertian; mengapa rahasia kesuksesan tidak di mengerti oleh banyak orang. Pengertian Riset. Pengertian Pencapaian Tujuan Besar. Hal yang perlu dilakukan oleh orang yang memiliki pandangan berbeda (dari orang awam) apabila bertemu dengan orang awam.

ARTI SEBUAH KEBODOHAN.
Saya membuat artikel ini karena seringkali orang beranggapan bahwa rencana atau sudut pandang yang saya jelaskan kepada orang- orang di anggap salah dan mereka mengira bahwa saya adalah orang yang bodoh. Memang, tidak semua rencana yang saya buat berakhir dengan kesuksesan (dan saya fikir semua rencana yang di buat manusia memang tidak ada yang 100% berjalan mulus atau berhasil semuanya). Tapi, seringkali apabila rencana saya sukses, hasilnya sangat spektakuler.

Hari ini, saya ingin mengetahui lebih dalam tentang arti sebuah kebodohan. Saya merasa orang- orang itulah yang tidak mengerti tentang rencana saya –sehingga mereka mengatakan saya bodoh. Well, tentu saja, apabila orang awam mengerti tentang sebuah rahasia untuk mencapai kesuksesan, itu bukan sebuah rahasia lagi.

Devinisi (pengertian) kebodohan; melakukan sesuatu dengan sebuah cara tetapi gagal mencapai tujuan. Saya sering melakukan eksperimen, dan seringkali eksperimen itu gagal. Kemudian, orang- orang menganggap saya bodoh. Apakah benar apa yang dikatakan mereka?. saya menganggap mereka SALAH MENGERTI. Saya melakukan eksperimen karena ingin mengetahui sesuatu. Bukan untuk mencapai sesuatu. Thomas Alva Edison menemukan bola lampu yang bisa di pakai oleh umum dengan melakukan percobaan selama 20.000 kali. dan 19.999 kali dia mengalami kegagalan. Apakah Thomas Edison adalah orang yang bodoh !?. kalau tidak bodoh, mengapa dia mengalami kegagalan sampai ribuan kali !?. Disini, saya akan menjelaskan sebuah hal, tentang apa yang di sebut dengan RISET dan PENCAPAIAN TUJUAN BESAR.

Riset adalah sebuah kegiatan yang memang dilakukan untuk sebuah tujuan, tetapi dengan sebuah konsekuensi kegagalan yang tinggi. Oleh sebab itu, riset dilakukan dalam skala kecil dan sangat teliti. Sehingga, kegagalan yang tercipta tidak akan menghabiskan biaya yang besar. Seringkali, makna dalam sebuah riset adalah mencapai suatu tujuan yang tunggal (tujuan yang paling ujung), tetapi dalam mencapai tujuan ujung tersebut, beberapa riset bertujuan untuk menggali sesuatu (tidak langsung berusaha mencapai tujuan ujung), untuk menemukan sesuatu lagi, hingga nanti digunakan untuk mencapai tujuan yang paling ujung.

Pencapaian Tujuan Besar adalah melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan yang dimana tujuan tersebut sangatlah jauh dari kebanyakan tujuan yang di tetapkan oleh banyak orang. Sehingga, tujuan yang sangat jauh tersebut memerlukan perjalanan yang sangat panjang untuk mengetahui tentang seluk beluk yang harus di hadapi nanti dan memerlukan persiapan yang besar untuk memulai aksi terhadap pencapaian tujuan yang besar tersebut. orang yang menginginkan membangun rumah, tidak perlu berfikir banyak dan tidak perlu mengalami kegagalan yang banyak. Mereka cukup bekerja dan menabung sedikit demu sedikit untuk membeli rumah. Orang yang ingin membuat sebuah produk yang spektakuler (seperti halnya i-phone), memerlukan perjalanan ekploitasi (penggalian informasi) yang sangat jauh. karena tujuan nya jauh, maka informasi yang harus di dapatkan pun haruslah banyak sebelum memulai aksi pencapaian tujuan nya.

Yah, Well.. tidak perlu memperdulikan orang awam. Orang yang melakukan hal khusus, sebaiknya berdiam diri sendiri dan menjauhi orang awam. Ataupun, bila harus bersosialisasi dengan orang awam, mereka harus menampakan wujudnya sebagai orang awam, dan segera menghindar dari kerumunan orang awam. Bersama mereka lebih lama hanya akan membuat Anda kecewa, karena pandangan Anda dengan mereka sangatlah berbeda. Menjelaskan kepada mereka hanya akan membuang waktu dan sakit hati, karena mereka akan menampik penjelasan Anda sebab dinilai tidak masuk akal. Tapi, apabila sebuah cara mencapai kesuksesan dengan mudah di mengerti –dan di terapkan- oleh orang awam, mereka semua –orang awam tersebut- tentu akan melakukan nya –dan mereka semua akan menjadi sukses. Siapa sih yang tidak ingin sukses !?. Orang awam ingin sukses tapi tidak mampu melakukan aksinya, sehingga mereka tetap menjadi awam.

Sabtu, 23 Maret 2013

Keyakinan Vs Realita Ilmiah

ADA SESUATU YANG TIDAK BISA DI PAKSAKAN DENGAN PERJUANGAN KEYAKINAN.

Artikel ini Berisi Tentang:
Pemenang hanya ada 1 orang. Lebih berhati- hati dalam melangkah. Keyakinan yang 'akan kalah' dan 'salah'. Metode pendekatan ilmiah untuk mewujudkan impian. Batasan kekuatan sebuah keyakinan. Ketakutan lah yang menyelamatkan manusia. Filsafat Nicholo Machiavelli tentang pengerah kekuasaan dan pentingnya memiliki ketakutan. Sebuah contoh jalan buntu yang di temui ilmuan di abad Renaisance. Memilih hal yang lebih mudah adalah sikap yang bijak.

KEYAKINAN VERSUS REALITA ILMIAH. 
Kita melihat beberapa orang hebat di dunia ini yang sukses di bidang nya seperti Bill Gates di bidang bisnis, Einstein di bidang Sains, Soekarno di bidang Politik nasional, dll. Tapi, apakah kita tahu, ada ribuan, bahkan jutaan orang yang juga berjuang di bidang yang sama untuk menempati posisi puncak, tetapi tetap saja dunia ini hanya mengijinkan satu orang pemenang (hanya satu, bukan dua atau tiga). Ribuan orang ingin menjadi orang terkaya nomor 1 di dunia seperti Bill. Tapi, hanya 1 orang (yaitu Bill) yang menjadi ‘The Richest Man in the Worlds’. Ketika saya melakukan updates status di sebuah situs jejaring sosial, dan menuliskan “I Want to be Richs as Bill Gates, and i want drop out from my school. Because School is not important”, kemudian ada orang Vietnam yang bersekolah di Singapore dan mengambil jurusan Bussines Administration, memberi komentar “That Bill, not Willy”. Tujuan saya menuliskan artikel ini tidak memiliki maksud untuk melemahkan keyakinan kita selaku manusia yang memiliki mimpi untuk di gapai. Tetapi, saya ingin mengevaluasi lagi mengenai tindakan kita yang seharusnya, lebih terstuktur, lebih hati- hati dan lebih mendekatkan aksi kita –dalam mencapai apa yang menjadi mimpi kita- dengan sebuah cara/ metode pendektan yang lebih realistis. Jadi, tidak hanya berbekal keyakinan saja, melainkan kita harus berbekal ilmu pengetahuan. Mungkin, banyak orang menganggap penulisan artikel ini merupakan sebuah respon dari orang yang ‘pesimis’ terhadap apa yang hendak di lakukan. Tapi, ketahuilah... Dalam karya Sastra Nicholo Machiavelli (Filsuf besar pengerah kekuasaan dari italia) yang berjudul “The Prince”, dalam suatu BAB di dalam bukunya mengatakan “seorang pangeran (raja/ kaisar) harus memiliki rasa takut untuk tidak memiliki rasa takut. Karena, rasa takutlah yang membuat seorang manusia bisa selamat”. Intinya, ketakutan itu ada untuk menyelamatkan manusia. Jika tidak ada ketakutan, tentu orang- orang akan menyebrang jalan raya dengan memejamkan mata.

Well, ketika kita memulai sebuah bisnis, banyak orang yang pantang menyerah berjuang dengan seluruh keyakinan nya, memperjuangkan apa yang di anggapnya benar. Mereka –dan juga saya- percaya, bahwa ‘tidak ada hal yang mustahil’. Ya, kita ingin menjadi kuat dan membenci sebuah kelemahan. Sebuah pandangan hidup; 'Bila Kamu Lemah, Hidup Akan Mempermainkan mu' mungkin adalah filosofi yang di anut oleh kebanyakan para pemimpin bisnis atau politik di dunia ini. Dulu, memang manusia menganggap pergi ke bulan merupakan hal yang mustahil. Tapi, hal itu segera di tampik oleh NASA yang dengan keberhasilan besarnya mampu mengirim pesawat Apollo11 ke bulan, dan Neil Amstrong menjadi orang pertama yang menapakan kakinya di bulan. Tetapi, perlu Anda tahu juga. Pada masa Renaisance (abad pencerahan) yang khususnya berlangsung di wilayah Eropa, para ilmuan berfikir keras untuk mengubah timah menjadi emas. Tetapi, sampai sekarang pun mereka belum bisa melakukan nya. pada abad 18 sampai abad 19, para ilmuan di dunia mencoba menjawab tentang misteri gaya gravitasi bumi dengan metode pendekatan hukum mekanika klasik Newton, dan sampai rambut di kepala mereka rontok, mereka tidak kunjung mendapatkan jawaban nya.  Mereka hanya menemui jalan buntu. Barulah, di pertengahan abad 20, kemunculan hukum Relativitas Umum dari Albert Einstein mampu menjawab permasalahan dari gaya gravitasi bumi dan penyebab mengapa sebuah galaxy bisa mengambang dalam jagad raya ini. Ini semua adalah contoh dari sejarah kesalahan para ilmuan dunia. Ketika mereka –para ilmuan- menemui jalan buntu, mereka mencoba beralih kepada pendekatan yang lain untuk mencari jalan keluar nya. Saya pribadi adalah orang yang mencintai Sains. Tapi, di sisi lain, saya juga menyukai bisnis. Oleh seba itu, sebagian besar artikel saya selalu mengandung unsur ilmiah, sejarah, metafisika dan filsafat. Tapi, jangan beranjak dulu dari artikel ini, karena artikel ini pun bertajuk bisnis juga. Bukan sekedar artikel sains semata. Tapi, melainkan kolaborasi dari keduanya.

Baik, kali ini kita beranjak ke dalam basic bisnis. Ada seorang industriawan sukses dari indonesia yang memiliki semangat NEVER SURENDER, mencoba untuk memasarkan produk makanan nya ke eropa. Produk yang ingin di pasarkan nya adalah sebuah produk keripik singkong. Dia percaya produk keripik singkongnya bisa berhasil menembus pasaran di eropa, karena dia juga pernah melihat ada produk Tempe yang berhasil di pasarkan dengan sukses ke Jepang. Produk nya memang sangat di minati oleh masyarakat Indonesia. Tetapi, ketika dia mencoba memasarkan nya ke Eropa, orang- orang disana sama sekali tidak berminat dengan produknya. Dia tetap pantang menyerah. Dia mencoba melakukan promosi besar- besaran untuk mensukseskan produknya disana. Setelah beberapa waktu berlalu, dia tidak kunjung mendapatkan keberhasilan. Dia mencoba melakukan analisa, mengapa produknya tidak laku disana. Analisa yang dilakukan nya menyebutkan bahwa kandungan kolesterol dari produk keripik singkong nya itu terlalu tinggi, sehingga masyarakat eropa (yang mengedepankan pola hidup sehat) tidak meminatinya. Tetapi, dia tetap beranggapan, kalau produk keripik singkong nya sangatlah lezat, dan kandungan kolesterol nya tidak terlalu tinggi. Sudah banyak upaya promosi yang dilakukan nya untuk pemasaran produk nya ke eropa, tapi tetap saja dia mendapati jalan buntu. Tetapi, karena keyakinan nya terlalu kuat, dia tetap menganggap bahwa produk keripik singkong milik nya, SEHARUSNYA mampu menembus pasaran di Eropa. Well, apa yang akan di lakukan industriawan keripik singkong itu kira- kira selanjutnya?. Dia tidak pernah menyerah seperti serdadu- serdadu militer Nazi yang lebih baik menembakan peluru ke kepalanya daripada berkata “Im Surender”...

Yap, bisnis bukanlah militer. Kita disini mencoba menjadi pebisnis yang baik. Kita tidak sekeras para Yakuza yang mendasarkan tindakan bisnis nya dengan cara yang anarki. Jika saya menjadi industriawan keripik singkong itu, saya akan segera menghentikan langkah saya dan mencoba memulai bisnis di jalur baru yang memiliki peluang kesuksesan lebih besar. Sekali lagi saya mengutip kata- kata Machiavelli, “Ketakutan membuat kita selamat”. Ketika seorang raja memulai perang, dan mendapati pasukan nya kalah jumlah di bandingkan pasukan musuh (satu banding sepuluh), lebih baik raja itu melarikan diri untuk menyusun kekuatan ulang. Memang, bagi orang yang memiliki jiwa ‘tidak akan pernah menyerah’ hal ini adalah sesuatu yang memalukan. Tetapi, kita bisa tetap hidup, menyusun rencana ulang dan menyerang kembali.

Jika Anda bertanya; Mengapa bisnis di jalur yang baru?. Mengapa kita tidak mengembangkan inovasi di dalam bisnis kita yang lama dan berjuang mempertahankan bisnis lama kita?. Well, kalau beitu saya akan bertanya balik; “Mengapa Google melebarkan sayapnya ke telepon genggam (Android)”?, “Mengapa keluarga HM Sampoerna menjual 90%  sahamnya kepada Philip Moris dan mulai membuka perkebunan kelapa sawit di Kalimantan?. Kesimpulan saya disini adalah “sebuah keyakinan (yang subjektif) akan tetap akan kalah melawan kenyataan (yang objektif)”. Jika kita yakin bisa menghancurkan batu dengan tangan manusia milik kita, lalu kita benar- benar melakukan nya (memukul batu itu dengan tangan kita), maka yang terjadi adalah ‘tangan kita akan sakit dan batu itu tetap dalam bentuk nya yang semula’ (tidak hancur). Lebih baik, kita mengambil palu besar lalu menghantam batu itu dengan palu tersebut. Atau mungkin, lebih baik lagi, kita pergi saja meninggalkan batu itu dan mulai membangun relasi bisnis kita. Presented By: Behind of Logica.

Selasa, 01 Januari 2013

Hidup itu Seperti Mengendarai Sepeda. Untuk Tetap Seimbang, Kamu harus Bergerak Maju.

MENDALAMI KUTIPAN EINSTEIN TENTANG MAKNA KEHIDUPAN.

Artikel ini berisi tentang:

Mengapa kehidupan membutuhkan keseimbangan?. Kutipan lain tentang sebuah bukti bahwa kesulitan (penderitaan) adalah esensial kehidupan. Kehidupan ini seperti lapangan Marathon. Semua pelari di haruskan berlari di lapangan Marathon tersebut. pelari yang tidak mau berlari akan mendapatkan penderitaan yang lebih besar. Orang yang bergerak maju memiliki nilai penderitaan yang lebih kecil. Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya. Tidak ada batasan di dunia ini. Einstein percaya ada sebuah angka di luar angka dasar 0, 1, 2, 3, dst. Lapangan Marathon kehidupan memberikan fasilitas minuman setelah pelari berlari dengan jarak tertentu. Nilai positif air putih yang di minum saat orang sedang dehidrasi. Kesimpulan tentang keseimbangan kehidupan. Moral pertama kali di perkenalkan di Yunani, dan yang pertama memperkenalkan nya adalah Plato.



Banyak orang yang hanya sekilas saja mendengar kutipan ini, kemudian  bisa tahu artinya. Namun, arti sebenarnya merupakan sebuah cerminan yang sangat luas dan juga lebih mendalam lagi.
Mengapa kehidupan membutuhkan keseimbangan?. Apakah akan selalu ada penderitaan di dalam kehidupan manusia –dan juga semua makhluk yang hidup?. Saya pribadi meyakini, bahwa penderitaan itu akan selalu ada dalam kehidupan ini. Bulan Desember 2012 kemarin, saya menemukan sebuah kutipan lain namun esensial (dasarnya) memiliki arti yang bersinggungan. Bunyi kutipan itu adalah “Bila tidak ada musim dingin, maka musim semi tidak akan menyenangkan. Bila tidak ada kesulitan, kebahagiaan juga tidak akan di dapatkan”. Untuk lebih memperjelas arti makna kedua kutipan ini, saya menggambarkan bahwa kehidupan ini adalah seperti sebuah lapangan Marathon. Dimana para pelarinya adalah semua makhluk yang hidup di dunia ini. Tapi, lapangan ini mengharuskan para pelari nya untuk bergerak maju (berlari). Mau tidak mau, pelari tersebut harus berlari. Mau tidak mau, semua makhluk hidup harus bergerak maju. Bergerak maju yang saya maksud adalah melakukan perkembangan diri dan memajukan peradaban di lingkungan sekitarnya. Karena di dalam lapangan Marathon tersebut semua makhluk hidup DI HARUSKAN bergerak maju, lantas apa yang terjadi pada makhluk hidup yang tidak mau maju?. Padahal, dia dipaksa harus bergerak maju !... Ya, yang terjadi adalah sebuah penderitaan yang jauh lebih besar. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk berlari, di haruskan untuk berlari. Seperti halnya, orang yang tidak suka makan sambal, tapi di haruskan makan sambal. Atau, seorang pria yang tidak menyukai wanita keturunan Negro, tapi di paksa menikahinya. Semua di jalani dengan keterpaksaan. Dan karena makna esensial penderitaan itu adalah “keinginan yang tidak sejalan dengan kenyataan hidup”, maka orang yang melakukan hal dengan keterpaksaan sudah bisa di pastikan dia akan MENDERITA.

Lain halnya dengan orang yang memiliki keinginan untuk bergerak maju. Dia akan dengan senang hati menghadapi tantangan yang ada di hadapan nya. orang yang benar- benar menyadari bahwa kehidupan memang membutuhkan sebuah kemajuan, dia akan menghadapi berbagai macam kesulitan yang datang kepadanya dengan penuh semangat.  Dia menyadari arti sebuah konsekuensi. Walaupun dia di haruskan memakan cabai ataupun cacing, dia akan melakukan nya tanpa keterpaksaan, melainkan dengan semangat. Walaupun dia di haruskan menikah dengan orang dari Etiophia, dia akan melakukan nya. walaupun dia tidak cinta, dia akan tetap melakukan nya. ***OK, mohon maaf bila kalimat yang saya tuliskan cukup membingungkan. Saya akan menjelaskan lebih lanjut lagi mengenai “mengapa orang yang paham terhadap nilai kemajuan kehidupan ini melakukan semua hal yang tidak di sukai dengan penuh semangat”*** Apabila manusia bergerak maju, dia tentu akan menghadapi rival –manusia yang lain- ataupun menghadapi alam –kenyataan hidup. Orang yang bergerak maju, tentu akan menghadapi sebuah kesulitan. Saya tidak mengatakan, bahwa orang yang bergerak maju akan melakukan semua hal dengan penuh semangat dan tidak menghadapi penderitaan. BUKAN !, bukan itu yang saya maksud. Orang yang bergerak maju tetap akan menghadapi penderitaan. Tapi, nilai dari penderitaan tersebut tidaklah sama dengan orang yang menghadapi tantangan dengan keterpaksaan. Nilainya lebih rendah !. Kesulitan yang dihadapi dengan semangat, akan berlangsung lebih menyenangkan. Orang yang menghadapi kesulitan, akan mendapatkan kemudahan setelahnya. Orang yang di haruskan menikah dengan orang Negro, bila dia benar- benar sadar bahwa dia harus menikahi orang Negro tersebut, dia akan lebih tabah menghadapi kenyataan yang tidak sejalan dengan keinginan nya tersebut. ***Saya cukup yakin, anda masih tetap kebingungan dengan makna hal ini. Penjelasan yang ilmiah terhadap hal ini ada di tempat yang sangat jauh dari percakapan di artikel ini***.

Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya. Apabila ada sebuah penjelasan yang lebih luas lagi terhadap suatu hal yang melebihi penjelasan sebelumnya –yang pernah ada, maka penjelasan yang sebelumnya itu akan di anggap salah –meskipun penjelasan yang sebelumnya di anggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat di pungkiri. Einstein berpendapat, bahwa “segala sesuatu hal di dunia ini adalah tidak terbatas”. Semua hal bisa menjadi mungkin. Dan semua hal bisa saja dilakukan. INGAT !... TIDAK ADA BATASAN ! –dan juga tidak ada aturan, dasar dan ketetapan. Einstein pun tidak menyukai matematika dan angka. Dia lebih menyukai IMAJINASI. Walaupun Einstein tidak bisa membuktikan adanya angka di luar angka matematika dasar yaitu 0, 1, 2, 3 dst, tapi dia tetap meyakini, ada angka di luar itu semua –di luar angka dasar Matematika!. Well, agar tidak lebih bingung, kita kembali pada pernikahan dengan orang Negro tadi. karena tidak ada batasan, maka semua hal bisa dilakukan. Bila seseorang yang menikah dengan orang Negro tersebut melakukan nya, dia juga bisa melakukan hal lain lagi. Bila dia meyakini TIDAK ADA BATASAN, bukankah akan menjadi lebih mudah bila dia kemudian menceraikan orang kulit Negro tersebut kemudian menikah dengan orang Jepang –yang dia sukai. INGAT !... TIDAK ADA BATASAN !.

Penjelasan mengenai sebuah kenyataan yang harus di lakukan yang menimbulkan penderitaan, namun bila di telaah lebih dalam lagi bisa menciptakan sebuah kebahagiaan baru, telah saya jelaskan di atas. Sekarang, saya akan menambahkan sebuah nilai positif (+) orang yang bergerak maju. Ternyata, lapangan Marathon yang saya ceritakan di paragraf pertama memberikan fasilitas minum gratis jika pelarinya sudah berlari sejauh jarak tertentu. Sungguh !, percayalah. Dunia ini akan memberikan kemudahan setelah kesulitan. Setelah para pelari kelelahan, dia akan mendapatkan minuman gratis. Minuman itu hanya sebuah air putih biasa. Tapi, apa jadinya bila air putih itu di minum pada waktu kita sedang dehidrasi (sangat haus). SANGAT SEGAR, BUKAN !. lain halnya apabila kita meminum air putih saat kita bermalas- malasan menonton TV. Rasanya pasti membosankan dan tidak ada yang spesial. Manusia –dan semua makhluk hidup- yang telah berjuang (bergerak maju), akan mendapatkan kemudahaan setelah perjuangan nya selesai. Dan dia akan mendapatkan KEBAHAGIAAN setelah perjuangan nya itu selesai. Itulah yang Albert Einstein sebut sebagai sebuah KESEIMBANGAN. Kita berjuang, menghadapi kesulitan dan akhirnya mendapatkan KEBAHAGIAAN. Orang yang tidak mau berjuang, akan menderita karena melalui semua kesulitan yang dunia ini berikan dengan keluh kesal. Dan, karena dia tidak juga bergerak maju, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan karena kesulitan nya tidak pernah dia selesaikan. Meskipun kesulitan nya hilang dengan sendirinya, dia pun tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang besar. Karena statusnya hanya JALAN DI TEMPAT. Kesulitan hilang, tapi tingkatan pengetahuan nya masih sama. Dia akan menghadapi apa yang di sebuat dengan rasa BOSAN. Itu tambahan nilai negatif (-) yang akan di dapatkan oleh orang yang tidak akan bergerak maju. Dia akan menghadapi KEBOSANAN. Karena dia tidak pernah melihat hal yang baru.

Sebuah kebosanan yang saya maksud adalah sebuah hal yang jauh lebih mengerikan daripada rasa bosan yang di ketahui banyak orang. Pernah suatu hari melalui situs sosial network, teman saya dari Italy mengatakan bahwa “Lebih dari sekedar rasa cinta. Rasa ingin tahu menyebabkan seorang wanita kehilangan keperawanan mereka”. Yap, cukuplah kita berbincang- bincang mengenai arti kebosanan disini. Tapi, satu hal lagi yang perlu saya tekankan. Semua arti dasar kehidupan ini di cetuskan juga oleh manusia. siapa sih yang mencetuskan nya?. Mari kita kembali pada sejarah !. bukankah peradaban di dunia ini di mulai dari Negara Kota Yunani. Lantas, siapa guru besar disana?. Ada banyak, di antaranya adalah Archimedes, Aristoteles dan yang paling awal adalah Plato. Apakah Plato adalah dewa?. BUKAN !. dia hanya manusia biasa –yang juga bisa melakukan kesalahan. Namun, makna arti kehidupan yang telah di ajarkan nya memberikan sumbangan peradaban manusia begitu besar hingga saat ini. tapi, mengingat esensial Ilmu Pengetahuan adalah “Ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasan nya”, maka tidak menutup kemungkinan bila ada sebuah ilmu pengetahuan yang lebih baik –dan lebih jelas lagi- yang akan menggeser nilai ajaran moral dan sosial yang telah di berikan oleh Plato.
Selesai.