Rabu, 08 Mei 2013

Sumber Utama Ketidak Tenangan Jiwa; Ketakutan

KETIDAKTENANGAN JIWA  DARI KETAKUTAN YANG TIDAK DI SADARI.

Artikel ini berisi tentang:
Ganjalan hati yang ternyata adalah sebuah Ketakutan yang tidak di sadari selama bertahun- tahun. Ambisi yang tidak terkendali akan mengakibatkan tekanan jiwa. Ambisi yang tidak terkendali yang membuat ketidak tenangan jiwa sulit di sadari. Bekerja keras dan perfeksionis adalah sebuah ketakutan akan kegagalan yang sulit di sadari. Efeksamping dari sebuah tekanan dari ketakutan yang sangat beragam dan kompleks. Fokus berlebihan menutup inovasi.

SUMBER UTAMA KETIDAK TENANGAN JIWA; KETAKUTAN.
Sudah cukup lama, saya merasakan sesuatu hal yang sulit saya sadari sendiri. Selama bertahun- tahun, saya merasa selalu ada ganjalan hati, tapi tidak tahu ‘apakah itu?’. Menguak ganjalan hati itu, dulu bagi saya sangatlah sulit. kesulitan yang paling utama adalah karena
saya tidak menyadari –atau lebih tepatnya sangat sulit menyadari- hal itu. Mencari nya sama seperti menguak satu masalah terpendam dari beragam permasalahan yang kompleks dan sangat rumit. Bagai menemukan jarum di dalam tumpukan jerami. Selama bertahun- tahun, saya tidak sadar. Karena ke-TIDAK SADAR-an tersebut lah, yang membuat saya selalu mendapati beragam keresahan. Keresahan yang memicu puluhan masalah yang lain nya. karena sebuah sumber tunggal itulah, beragam ke-TIDAK TENANGAN jiwa datang menyeliputi saya. sumber tunggal itu, tidak lain dan tidak bukan adalah KETAKUTAN.

Saya merasa telah mendapatkan sebuah instuisi, ketika saya menyadari ketakutan ini. pada mulanya, saya membaca sebuah buku yang berjudul ‘Google Speak’ karya Janet Lowe. Entah di Bab mana –saya lupa, tapi saya membaca sebuah halaman tentang Larry Page yang sakit dan untuk sementara waktu tidak mampu ikut memimpin perusahaan Google Inc. Larry Page sakit punggung karena kecelakaan saat bermain BaseBall. Yap, perusahaan Google yang bernilai miliar dolar di pimpin oleh seorang anak muda yang masih suka main- main. Tapi, tetap saja ya, Google masih tetap berdiri dan malah mampu berkembang lebih besar lagi. saat saya membaca halaman buku tersebut, muncul pertanyaan; mengapa perusahaan raksasa Google tidak di pimpin dengan sangat serius !?. Seakan- akan Larry Page dan Sergey Brin (pendiri Google) memimpin perusahaan itu dengan santai. Saya kemudian bertanya kepada diri saya sendiri; mengapa saya tidak bisa santai seperti mereka?. pertanyaan itu memunculkan sebuah jawaban; ‘karena saya sangat berambisi’. Setelah itu, muncul pertanyaan lain; ‘bukankah diperlukan ambisi yang besar untuk mencapai keinginan yang besar !?. apa yang salah dengan hal itu !?’. semakin lama, kepala saya mengeluarkan berbagai macam pertanyaan. Saya sempat berhenti sejenak untuk berfikir karena saya sudah merasa sangat banyak pertanyaan di dalam kepala saya. lalu, saya menelusuri buku tersebut kembali. Membacanya lebih jauh lagi, dan mengambil kesimpulan; Google Inc bisa sangat sukses karena mereka memiliki inovasi dan melakukan langkah besar. Inovasi lah yang membuat mereka memiliki fondasi bisnis yang hebat, dan langkah besar lah yang membuat mereka mampu mengembangkan inovasi tersebut sehingga menghasilkan keuntungan perusahaan yang besar. Tidak sampai di sini penelusuran saya. Saya masih dalam keadaan penasaran yang sangat besar saat itu. hingga sekitar 1 minggu, barulah rasa penasaran saya terjawab. Saya melewati tulisan tentang perjalanan pencarian saya terhadap rasa penasaran saya tersebut karena akan sangat banyak hal yang perlu saya tuliskan bila saya tidak melewatinya.

Akhirnya, saya menyadari, bahwa selama ini saya mengalami ketakutan yang sangat besar. TAKUT BILA GAGAL. Sehingga, saya menghabiskan seluruh waktu luang yang saya punya untuk belajar, bekerja dan melakukan aktivitas guna menggapai impian saya tersebut –dan hampir tidak ada waktu untuk bermain baseball seperti yang Larry Page lakukan. ketakutan memicu saya untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ketakutan memicu saya untuk belajar mempelajari hal lebih banyak dari setiap menit waktu yang saya miliki. Dan ketakutan yang membuat keresahan jiwa saya muncul. Dan KETAKUTAN yang membuat saya tidak bisa berinovasi seperti mereka (Larry& Sergey). Memang benar, sebuah ketakutan terkadang di butuhkan dalam hidup ini. ada pepatah yang mengatakan bahwa; “Ketakutan lah yang menyelamatkan jiwa mu. bila manusia tidak memiliki rasa takut, mereka akan menyebrang jalan dengan menutup mata”. Tapi, saya fikir, ketakutan yang saya miliki tidak tepat dan bukan di tempat yang tepat (bagi saya).

Beragam ketakutan itu memicu sebuah efek samping lain. Dan efek samping lain itu ternyata memicu efek samping yang lain nya lagi, hingga seakan- akan semua efek itu SANGAT- SANGAT RUMIT sekali bila di rasakan –dan lebih rumit lagi untuk di urai dan di pecahkan pada akar permasalahan nya. efek- efek samping itu akan saya tuliskan di bawah ini.

Ketakutan memicu semangat. Semangat memicu hiper aktivitas. Hiper aktivitas memicu kurang nya waktu. Waktu yang kurang memicu kurangnya belajar hal lain –sesuatu yang baru, sehingga inovasi besar tidak bisa di temukan. Hiper Aktivitas memicu fokus kepada aktivitas yang sedang di kerjakan. Fokus yang berlebihan menutup solusi inovasi.

Ketakutan memicu keberanian menghadapi hal yang baru. Menghadapi hal baru yang benar- benar besar memicu usaha untuk meningkatkan kepercayaan diri (optimisme) yang besar pula. Kepercayaan diri yang terlalu besar memicu sifat Megalomania. Megalomania yang tidak di sadari (karena terlalu sibuk melakukan aktivitas) menyebabkan perasaan diri seakan menjadi orang besar. Perasaan percaya diri sebagai orang besar yang tidak di sadari dengan kenyataan lingkungan di sekitar nya membuat salah pemahaman terhadap rekan kerja. Salah pemahaman membuat kurang nya sikap toleran. Sikap toleran yang kurang menyebabkan rasa bermusuhan dan menimbulkan pertikaian. Di samping sikap toleran yang kurang, terdapat juga sikap toleran yang salah. Sikap toleran yang salah memicu GAP (jarak) antara rekan dalam aktivitas keseharian. Sebuah GAP dan rasa toleran yang kurang memicu rasa sakit hati yang sedikit demi sedikit membawa dampak pada amarah yang memuncak. Amarah besar menimbulkan konflik besar.
Ketakutan memicu sikap perfeksionis. Sikap perfeksionis yang tidak di sadari dengan baik dalam sebuah kerjasama dengan tim akan menghasilkan miss komunikasi (kesalahan pemahaman). Kesalahan pemahaman menimbulkan konflik.
Ketakutan memicu evaluasi terhadap rencana. Ketakutan yang berlebihan memicu evaluasi terhadap rencana yang selalu di lakukan bukan di waktu yang tepat dan selalu di lakukan dimana saja. Evaluasi di waktu yang tidak tepat membuat keadaan diri sendiri yang sering bergumam (tidak terlalu fokus terhadap aktivitas di depan kita dan sering lupa).
Ketakutan memicu sikap waspada. Ketakutan yang berlebihan memicu sikap waspada yang sangat besar. Dalam dunia bisnis yang penuh dengan pengkhianatan, kewaspadaan yang berlebihan menimbulkan prasangka buruk kepada siapa saja. Prasangka buruk yang berlebihan menimbulkan sikap membenci yang kurang berdasar. Sikap benci membuahkan bibit- bibit konflik yang siap berkobar kapan saja.

Semua efek diatas berakar pada sebuah ketakutan. Yap, selama ini memang semua berjalan dengan baik. tidak masalah bagi saya bila saya bertindak berdasarkan efek- efek kompleks yang timbul. Karena saya tidak peduli apa yang orang lain katakan terhadap saya ataupun tindakan saya. Semua efek itu bukan MASALAH BESAR bagi saya. semua sikap yang di timbulkan dari efek ketakutan memang di butuhkan dalam dunia yang penuh dengan pengkhianatan seperti ini (dunia bisnis). Tapi, jika semua itu tidak di tempatkan pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat, semua nya bisa menjadikan jiwa terasa ada yang membebani. BUKAN ... !, bukan seperti ini yang saya inginkan. Yang saya inginkan adalah menjalani pilihan saya dengan seluruh jiwa saya. menjalani kehidupan yang seutuhnya. Memang, dengan adanya ketakutan, motivasi semakin membesar, kewaspadaan menjadi tinggi, dan semua waktu luang di gunakan dengan sebaik- baik nya. Yap, seperti apa yang di katakan Hitler sewaktu melakukan perluasan runag hidup rakyat Jerman; ‘manusia hidup berdasarkan konsekuensi, bukan berdasarkan apa yang seharusnya. Karena apa yang seharusnya itu tidak pernah ada’. Sungguh, hal itu tidak sesederhana apa yang kita kira. Apakah Anda bisa bekerja tanpa sebuah motovasi, tetapi karena sebuah pandangan hidup; bahwa manusia itu memang harus bekerja keras untuk melangsungkan hidupnya?. Memang, ketika sebuah contoh kasus yang saya tuliskan tersebut di lakukan pada sebuah aktivitas yang biasa- biasa saja atau memiliki sebuah tingkat kesulitan yang kecil, hal itu mungkin cukup banyak orang yang bisa melakukan nya. tapi, ketika kita di hadapkan pada sebuah situasi dimana nyawa kita selalu terancam, kesulitan- kesulitan yang sangat besar selalu menghadang dan hal seperti itu berlangsung seumur hidup, saya pikir akan menjadi sangat sulit bagi kita untuk benar- benar berani terjun ke dalam dunia yang seperti itu –dan bertahan seumur hidup di dunia seperti itu.

Well, ini semua tidak mudah. Mengendalikan ketakutan di sebuah tempat yang penuh dengan mara bahaya yang besar. Anda seperti terdampar di sebuah Taman Jurasic (Jurasic Park) dan harus bertahan hidup di sana dengan cara berburu dan di kelilingi berbagai macam ancaman dari Karmivora Dinosaurus yang selalu ingin memakan tubuh kita. untuk itu, kita harus mengubah sudut pandang kita terhadap dunia ini. hidup berdasarkan konsekuensi, dan menjalani hidup seutuhnya. Lihat artikel lanjutan ini: Mengubah Sebuah Sudut Pandang.

0 comments: