Sabtu, 23 Maret 2013

Keyakinan Vs Realita Ilmiah

ADA SESUATU YANG TIDAK BISA DI PAKSAKAN DENGAN PERJUANGAN KEYAKINAN.

Artikel ini Berisi Tentang:
Pemenang hanya ada 1 orang. Lebih berhati- hati dalam melangkah. Keyakinan yang 'akan kalah' dan 'salah'. Metode pendekatan ilmiah untuk mewujudkan impian. Batasan kekuatan sebuah keyakinan. Ketakutan lah yang menyelamatkan manusia. Filsafat Nicholo Machiavelli tentang pengerah kekuasaan dan pentingnya memiliki ketakutan. Sebuah contoh jalan buntu yang di temui ilmuan di abad Renaisance. Memilih hal yang lebih mudah adalah sikap yang bijak.

KEYAKINAN VERSUS REALITA ILMIAH. 
Kita melihat beberapa orang hebat di dunia ini yang sukses di bidang nya seperti Bill Gates di bidang bisnis, Einstein di bidang Sains, Soekarno di bidang Politik nasional, dll. Tapi, apakah kita tahu, ada ribuan, bahkan jutaan orang yang juga berjuang di bidang yang sama untuk menempati posisi puncak, tetapi tetap saja dunia ini hanya mengijinkan satu orang pemenang (hanya satu, bukan dua atau tiga). Ribuan orang ingin menjadi orang terkaya nomor 1 di dunia seperti Bill. Tapi, hanya 1 orang (yaitu Bill) yang menjadi ‘The Richest Man in the Worlds’. Ketika saya melakukan updates status di sebuah situs jejaring sosial, dan menuliskan “I Want to be Richs as Bill Gates, and i want drop out from my school. Because School is not important”, kemudian ada orang Vietnam yang bersekolah di Singapore dan mengambil jurusan Bussines Administration, memberi komentar “That Bill, not Willy”. Tujuan saya menuliskan artikel ini tidak memiliki maksud untuk melemahkan keyakinan kita selaku manusia yang memiliki mimpi untuk di gapai. Tetapi, saya ingin mengevaluasi lagi mengenai tindakan kita yang seharusnya, lebih terstuktur, lebih hati- hati dan lebih mendekatkan aksi kita –dalam mencapai apa yang menjadi mimpi kita- dengan sebuah cara/ metode pendektan yang lebih realistis. Jadi, tidak hanya berbekal keyakinan saja, melainkan kita harus berbekal ilmu pengetahuan. Mungkin, banyak orang menganggap penulisan artikel ini merupakan sebuah respon dari orang yang ‘pesimis’ terhadap apa yang hendak di lakukan. Tapi, ketahuilah... Dalam karya Sastra Nicholo Machiavelli (Filsuf besar pengerah kekuasaan dari italia) yang berjudul “The Prince”, dalam suatu BAB di dalam bukunya mengatakan “seorang pangeran (raja/ kaisar) harus memiliki rasa takut untuk tidak memiliki rasa takut. Karena, rasa takutlah yang membuat seorang manusia bisa selamat”. Intinya, ketakutan itu ada untuk menyelamatkan manusia. Jika tidak ada ketakutan, tentu orang- orang akan menyebrang jalan raya dengan memejamkan mata.

Well, ketika kita memulai sebuah bisnis, banyak orang yang pantang menyerah berjuang dengan seluruh keyakinan nya, memperjuangkan apa yang di anggapnya benar. Mereka –dan juga saya- percaya, bahwa ‘tidak ada hal yang mustahil’. Ya, kita ingin menjadi kuat dan membenci sebuah kelemahan. Sebuah pandangan hidup; 'Bila Kamu Lemah, Hidup Akan Mempermainkan mu' mungkin adalah filosofi yang di anut oleh kebanyakan para pemimpin bisnis atau politik di dunia ini. Dulu, memang manusia menganggap pergi ke bulan merupakan hal yang mustahil. Tapi, hal itu segera di tampik oleh NASA yang dengan keberhasilan besarnya mampu mengirim pesawat Apollo11 ke bulan, dan Neil Amstrong menjadi orang pertama yang menapakan kakinya di bulan. Tetapi, perlu Anda tahu juga. Pada masa Renaisance (abad pencerahan) yang khususnya berlangsung di wilayah Eropa, para ilmuan berfikir keras untuk mengubah timah menjadi emas. Tetapi, sampai sekarang pun mereka belum bisa melakukan nya. pada abad 18 sampai abad 19, para ilmuan di dunia mencoba menjawab tentang misteri gaya gravitasi bumi dengan metode pendekatan hukum mekanika klasik Newton, dan sampai rambut di kepala mereka rontok, mereka tidak kunjung mendapatkan jawaban nya.  Mereka hanya menemui jalan buntu. Barulah, di pertengahan abad 20, kemunculan hukum Relativitas Umum dari Albert Einstein mampu menjawab permasalahan dari gaya gravitasi bumi dan penyebab mengapa sebuah galaxy bisa mengambang dalam jagad raya ini. Ini semua adalah contoh dari sejarah kesalahan para ilmuan dunia. Ketika mereka –para ilmuan- menemui jalan buntu, mereka mencoba beralih kepada pendekatan yang lain untuk mencari jalan keluar nya. Saya pribadi adalah orang yang mencintai Sains. Tapi, di sisi lain, saya juga menyukai bisnis. Oleh seba itu, sebagian besar artikel saya selalu mengandung unsur ilmiah, sejarah, metafisika dan filsafat. Tapi, jangan beranjak dulu dari artikel ini, karena artikel ini pun bertajuk bisnis juga. Bukan sekedar artikel sains semata. Tapi, melainkan kolaborasi dari keduanya.

Baik, kali ini kita beranjak ke dalam basic bisnis. Ada seorang industriawan sukses dari indonesia yang memiliki semangat NEVER SURENDER, mencoba untuk memasarkan produk makanan nya ke eropa. Produk yang ingin di pasarkan nya adalah sebuah produk keripik singkong. Dia percaya produk keripik singkongnya bisa berhasil menembus pasaran di eropa, karena dia juga pernah melihat ada produk Tempe yang berhasil di pasarkan dengan sukses ke Jepang. Produk nya memang sangat di minati oleh masyarakat Indonesia. Tetapi, ketika dia mencoba memasarkan nya ke Eropa, orang- orang disana sama sekali tidak berminat dengan produknya. Dia tetap pantang menyerah. Dia mencoba melakukan promosi besar- besaran untuk mensukseskan produknya disana. Setelah beberapa waktu berlalu, dia tidak kunjung mendapatkan keberhasilan. Dia mencoba melakukan analisa, mengapa produknya tidak laku disana. Analisa yang dilakukan nya menyebutkan bahwa kandungan kolesterol dari produk keripik singkong nya itu terlalu tinggi, sehingga masyarakat eropa (yang mengedepankan pola hidup sehat) tidak meminatinya. Tetapi, dia tetap beranggapan, kalau produk keripik singkong nya sangatlah lezat, dan kandungan kolesterol nya tidak terlalu tinggi. Sudah banyak upaya promosi yang dilakukan nya untuk pemasaran produk nya ke eropa, tapi tetap saja dia mendapati jalan buntu. Tetapi, karena keyakinan nya terlalu kuat, dia tetap menganggap bahwa produk keripik singkong milik nya, SEHARUSNYA mampu menembus pasaran di Eropa. Well, apa yang akan di lakukan industriawan keripik singkong itu kira- kira selanjutnya?. Dia tidak pernah menyerah seperti serdadu- serdadu militer Nazi yang lebih baik menembakan peluru ke kepalanya daripada berkata “Im Surender”...

Yap, bisnis bukanlah militer. Kita disini mencoba menjadi pebisnis yang baik. Kita tidak sekeras para Yakuza yang mendasarkan tindakan bisnis nya dengan cara yang anarki. Jika saya menjadi industriawan keripik singkong itu, saya akan segera menghentikan langkah saya dan mencoba memulai bisnis di jalur baru yang memiliki peluang kesuksesan lebih besar. Sekali lagi saya mengutip kata- kata Machiavelli, “Ketakutan membuat kita selamat”. Ketika seorang raja memulai perang, dan mendapati pasukan nya kalah jumlah di bandingkan pasukan musuh (satu banding sepuluh), lebih baik raja itu melarikan diri untuk menyusun kekuatan ulang. Memang, bagi orang yang memiliki jiwa ‘tidak akan pernah menyerah’ hal ini adalah sesuatu yang memalukan. Tetapi, kita bisa tetap hidup, menyusun rencana ulang dan menyerang kembali.

Jika Anda bertanya; Mengapa bisnis di jalur yang baru?. Mengapa kita tidak mengembangkan inovasi di dalam bisnis kita yang lama dan berjuang mempertahankan bisnis lama kita?. Well, kalau beitu saya akan bertanya balik; “Mengapa Google melebarkan sayapnya ke telepon genggam (Android)”?, “Mengapa keluarga HM Sampoerna menjual 90%  sahamnya kepada Philip Moris dan mulai membuka perkebunan kelapa sawit di Kalimantan?. Kesimpulan saya disini adalah “sebuah keyakinan (yang subjektif) akan tetap akan kalah melawan kenyataan (yang objektif)”. Jika kita yakin bisa menghancurkan batu dengan tangan manusia milik kita, lalu kita benar- benar melakukan nya (memukul batu itu dengan tangan kita), maka yang terjadi adalah ‘tangan kita akan sakit dan batu itu tetap dalam bentuk nya yang semula’ (tidak hancur). Lebih baik, kita mengambil palu besar lalu menghantam batu itu dengan palu tersebut. Atau mungkin, lebih baik lagi, kita pergi saja meninggalkan batu itu dan mulai membangun relasi bisnis kita. Presented By: Behind of Logica.

0 comments: