Rabu, 08 Mei 2013

Behind of Logica for Running Startup.

LOGIKA TERSEMBUNYI UNTUK MENJALANKAN STARTUP.

Artikel ini membahas tentang:
Dasar kesalahan dari informasi atau dogma yang di ajarkan oleh orang dekat, keluarga maupun orang sukses. Dasar kesalahan fatal yang sulit di sadari adalah sebuah informasi pokok yang di sampaikan dengan seluruh kebenaran mutlak –namun belum tentu benar atau bisa di terapkan oleh diri kita. Sikap, sifat dan metode yang harus di ubah dari informasi yang di berikan oleh orang- orang sekitar.

BEHIND OF LOGICA FOR RUNNING STARTUP.
Cukup sulit bagi saya untuk menyadari, betapa sikap dan sifat yang di miliki banyak orang, di ajarkan banyak orang dan di dogma-kan oleh keluarga saya justru yang menjadi dasar kesalahan saya dalam banyak bertindak. Melepaskan ketidak-percayaan seutuhnya terhadap semua itu bisa menjadi kekuatan utama dalam membangun startup dan menjalankan perusahaan yang akan di dirikan. 95% keluarga ku, teman- teman ku, saudara dan bahkan sahabat ku adalah seorang pekerja ataupun pedagang. Dan saat ini, saya sedang belajar mengenai bisnis. Perlu di sadari dalam- dalam, bahwa sebuah bisnis tidaklah sama dengan perdagangan ataupun bekerja di dalam sebuah perusahaan besar sekalipun. Kedua hal itu BANYAK YANG BERBEDA, dan kamu harus benar- benar jeli dan hati- hati untuk mengadopsi informasi yang kamu dapatkan –dari orang yang seorang pedagang ataupun karyawan. Ini bukan masalah benar atau salah. Bukan masalah kolot/ keras kepala ataupun mampu menerima saran/ masukan. Tapi, berhati- hati lah menerima masukan tentang bisnis dari karyawan atau pedagang –jika kamu ingin mendirikan sebuah bisnis. Kadang kala –dan sebagian besar- hal itu sering keliru. Sebagai contoh kecil saja; seorang karyawan selalu bisa di ajak kerjasama dengan banyak pihak untuk mencapai sebuah keuntungan bersama. Tapi, dalam bisnis, tidak ada kata kerjasama tanpa adanya keuntungan. Dan dalam bisnis, tidak ada yang namanya menciptakan keuntunga bersama (win win solution). Yang ada hanya kompetisi dan saling menjatuhkan rival. Memonopoli semuanya –jika bisa. Dan semua yang tidak dalam lingkungan bisnis kita, bisa di sebut sebagai rival –bila mengancam provit yang ingin kita raih. Kelihatan nya hal ini sungguh egois dan tak bermoral. Tapi, silakan saja Anda berfikir untuk menciptakan win- win solution untuk rival Anda. kemudian di waktu yang akan datang, Anda akan menemukan diri Anda –dan perusahaan Anda- di tusuk dari belakang, hingga akhirnya sudah terlambat untuk menyadari kesalahan itu. seorang manajer perusahaan besar bertugas untuk memberikan pengarahan. Pemimpin perusahaan besar, memberikan visi. Seorang karyawan mungkin akan sangat sungkan untuk memilih keputusan yang merugikan rekan kerja nya. tapi, dalam bisnis, sangat besar hal yang Anda pertaruhkan, sehingga terkadang Anda harus mengambil keputusan mengorbankan pihak minoritas untuk membuat perusahaan Anda survived.

Peragraf pertama menjelaskan tentang sikap dan sifat. Paragraf kedua ini akan menjelaskan tentang perbedaan metode/ cara, yang di tempuh oleh pemimpin perusahaan ketimbang seorang manajer atau pedagang. Saya masih ingat ketika teman saya mengemukakan kepada saya tentang metodenya dalam menjalankan perdagangan nya secara one man one show. Saya cukup yakin bahwa apa yang disampaikan nya kepada saya adalah hal yang jujur. Tapi, sekali lagi; cara yang di tempuh orang lain belum tentu bisa menciptakan hasil yang sama jika kita lakukan. Kebanyakan, kegagalan tersebut –kegagalan cara yang di ajarkan oleh orang lain- dikarenakan latar belakang individu yang berbeda, waktu pelaksanaan yang berbeda, dan masih banyak hal lain nya. Saya pernah membuat kesalaha karena saya terpaku dengan metode dasar yang di kemukakan oleh teman saya. Teman saya mengajarkan saya sebuah cara untuk memulai sebuah bisnis. Ada hal pokok yang di tekankan kepada saya dalam ajaran itu. dan saya benar- benar me-MAKU pada hal pokok tersebut. saya memodifikasi cara yang lain –yang tidak di tekankan oleh rekan saya tersebut. setelah saya coba laksanakan, ternyata FAIL !!!. Saya analisa kembali kesalahan saya, dan ternyata letaknya pada hal pokok yang saya paku tersebut.

Tidak bisa bila kita begitu saja me-MAKU hal pokok yang di ajarkan orang lain tanpa menganalisa secara lebih teliti lagi; apakah hal itu benar- benar bisa di jalankan oleh diri kita. hal yang paling sulit adalah menolak pendapat atas informasi yang di berikan kepada kita dengan nada-ucapan-dan gerak tubuh yang benar- benar mencerminkan benenaran mutlak yang absolut dan tak terbantahkan. Bila Anda sedang berada di dalam posisi di beri sebuah ajaran oleh ibu Anda tercinta, bahwa Anda harus bekerja dengan rajin, menghemat dan menabung agar bisa sukses di hari tua dan membangun rumah impian... Lupakan saja nasehat ibu tercinta itu. Ibu tercinta lahir di masa lalu. Masa dimana perekonomian stabil, pekerjaan mudah di cari, dan belum banyak orang yang melakukan bisnis. Masa sekarang; ibu tidak tahu. Ibu menganggap masa sekarang sama hal nya –atau hampir sama mirip- dengan masa di kehidupan nya berada. Masa sekarang, masa globalisasi. Dimana produk luar negri masuk dengan bebas nya ke dalam negri. Masa ini, adalah masa yang penuh dengan gejolak. Masa perekonomian dan politik yang kacau, dan pemerintah tidak bisa di andalkan untuk menjamin kelangsungan hidup rakyat nya di masa depan.

Informasi yang di sampaikan dengan keyakinan kebenaran mutlak... belum tentu benar dan berhasil kita lakukan. itulah yang ingin saya tekankan disini. Mengingat adanya kesalahan besar dimasa lalu karena terpaku dengan hal pokok yang dikatakan dengan sangat yakin akan kebenaran nya, telah membuat kegagalan fatal. Saya tidak bermaksud untuk menjadi keras kepala dan menjadi orang yang tidak mau menerima saran. Saran- saran itu penting. Tapi, sekali lagi saya tegaskan; jangan sampai terpaku dengan hal pokok yang disampaikan, meskipun penyampaian nya benar- benar menyakinkan. Mungkin saja dalam banyak saran tersebut, ada hal yang harus di buang, di modifikasi, di tambahkan, di kurangi ataupun di adopsi. Meskipun itu adalah sebuah pernyataan yang di tekankan oleh si pemberi informasi.

0 comments: