Tampilkan postingan dengan label Manajemen Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Organisasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juli 2014

Mengelola Orang


Sepengalaman saya dalam mengelola orang –dan berhadapan dengan beragam jenis orang, tidak hanya di tempat kerja saja, namun juga di lingkungan bisnis hingga organisasi bawah tanah, ada hal penting yang saya pelajari; selalu akan ada perdebatan, kesalahan-komuniskasi, pengkhianatan dan permainan di belakang layar. Entah secara sadar atau tidak, mereka –orang- orang itu- akan selalu melakukan nya. Jadi, aturan umum pertama yang harus di pahami adalah; jangan pernah memberikan kepastian ketika mengelola orang. Dalam kasus yang sering terjadi di tempat kerja, dan ketika Anda tidak memegang posisi kritis, pembelotan –yang secara sengaja atau tidak sengaja- mungkin cukup ditanggapi dengan memperbaikinya atau mengacuhkan nya (ya, mengacuhkan nya dan membiarkan masalah itu selesai seiring berjalan nya waktu). Namun, bila Anda berada di posisi yang sangat kritis (seperti mengelola usaha startup), bersiap- siaplah untuk menjadi orang yang dibenci dan lakukan tindakan apa saja untuk melenyapkan kesalahan kecil agar tidak berdampak pada hal yang jauh lebih fatal. 

Diluar sana, banyak buku yang mendalami tentang seni mengelola orang. Dan tujuan saya membuat artikel ini bukan untuk mengetik ulang, apa yang sudah ada di dalam buku- buku tersebut. Namun, saya ingin menekankan, banyak buku yang terlalu teoritis membahas manajemen manusia, tanpa memandang keberadaan dinamika sifat manusia –yang kotor dan penuh dengan sisi gelap. Mungkin apa yang akan saya sampaikan akan cukup vulgar dan tabu. Bila Anda merasa artikel saya tidak cocok untuk dibaca, silakan jangan lanjutkan membaca. Namun, bila suatu hari apa menghadapi kasus seperti apa yang saya sampaikan, jangan sungkan untuk datang kesini lagi untuk mempelajari bagaimana realitas itu bekerja!.
Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, orang- orang melakukan pembelotan baik secara sadar  atau tidak sadar. Secara sadar, seperti bila mereka terlalu memiliki masalah pribadi dengan sikap Anda, kemudian tidak melakukan hal yang Anda perintahkan. Dan secara tidak sadar, ketika mereka sedang malas melakukan apa yang Anda perintahkan (entah itu karena memera sedang memiliki masalah keluarga, atau memang mereka sedang tidak ‘mood’ untuk melakukan nya), kemudian mengatakan kepada Anda bahwa “saya telah melakukan tugas itu dengan sebaik mungkin, tapi keadaan tidak memungkinkan, sehingga saya gagal”. Tentu saja contoh diatas hanya beberapa gelintir dari kasus yang saya sebutkan. Selalu akan ada perintah yang tidak dijalankan, sehingga Anda harus mengambil tindakan agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Entah itu dengan cara memberikan nasehat yang santun, hukuman dan bahkan melemparkan tugas tersebut kepada orang lain. Bila Anda memiliki imajinasi –dan saya yakin setiap orang memilikinya- Anda akan dengan mudah menemukan solusi apa yang harus Anda ambil. Tapi, Anda jangan sampai mengalami “kebutaan” dalam mengambil solusi. Jangan karena Anda kasihan kepada juru masak yang Anda promosikan, kemudian memberikan nya kesempatan lagi untuk mencoba tugas administrasi komputer di kantor –yang sama sekali tidak bisa dia lakukan. Karena pengambilan keputusan biasanya tertaut dengan sikap dan sudut pandang orang yang mengambil keputusan. Bila alat yang kamu miliki adalah palu, maka semua masalah akan tampak seperti paku. Sekali lagi, bersiap- siaplah menjadi orang yang tidak disukai di dalam organisasi Anda. Dan ambil lah keputusan yang tepat dan efektif. Tetapi juga, jangan terlalu gegabah. Jangan sampai Anda dimusuhi oleh banyak orang yang Anda kelola. Musuhi sebagian kecil, ambil hati sebagian besar orang, dan pastikan Anda menjelaskan dengan logis mengapa keputusan itu Anda ambil –untuk kepentingan kemajuan bersama. Meskipun dalam menjelaskan nya, Anda harus sedikit berbohong atau perlu menyembunyikan sesuatu. Jangan ragu untuk melakukan nya, karena setiap orang memiliki dosa.

Cobalah menjadi orang yang menyenangkan untuk semua orang yang Anda kelola dan yang terhubung dengan Anda. Jangan menjadi orang yang terlalu perfeksionis dalam mengatur urusan manusia. Namun pastikan, hal- hal critical itu dilakukan dengan sukses. Dibawah ini akan saya jelaskan dalam sebuah contoh kasus, mengapa sikap perfeksionis perlu di hindari ketika mengelola orang.

Anda tidak akan bisa menemukan organisasi dimana setiap orang nya melakukan semua tugas dengan PERFECT. Karena mereka adalah manusia, yang bisa melakukan kesalahan. Apabila setiap kesalahan Anda tegur dengan keras, maka dari hati mereka akan timbul rasa dendam. Dan dari sanalah, akan menciptakan penyimpangan yang disengaja dan ditutup- tutupi dengan sengaja. Anda akan lebih sulit mendeteksi penyimpangan yang ditutupi dengan sengaja tersebut. Dan tahu- tahu, di masa mendatang, muncul hal fatal yang tidak tertanggulangi karena telah terlalu membusuk namun tidak mampu Anda deteksi –karena mereka sengaja menutupinya.

Sikap Anda akan mempengaruhi keputusan dari Anda. Jadilah orang yang tegas, namun juga tidak gegabah. Jadilah orang yang cerdik, yang mempertimbangkan faktor 1, 2 dan 3 untuk berfikir lebih jauh terhadap keputusan yang akan Anda ambil. Diluar sana, banyak buku manajemen yang mengupas lebih dalam tentang seni mengelola orang. Dan tentusaja, di dalam nya tersaji lusinan trik yang akan mempermudah aksi Anda dalam mengelola orang- orang. Namun, semua pengetahuan itu tidaklah cukup untuk Anda sebagai bekal tindakan dalam mengelola urusan manusia. Anda harus mempraktek kan nya. bersiap- siap lah memulai nya dari skala kecil dulu, belajar dari kesalahan dan tetap maju –dengan sebisa mungkin tanpa mengulang kesalahan yang pernah terjadi. Jangan begitu saja menerima ilmu pengetahuan yang baru dari bacaan yang disajikan dengan memukau –dan begitu juga dengan bacaan ini. Karena, kasus yang Anda hadapi terkadang tidak sama dengan solusi kasus yang dibahas. Jadilah diri Anda sendiri, hal itu akan membuat mu tidak terjatuh dalam kebingungan. Sekali lagi, cermatilah bagaimana dunia nyata itu bekerja.


Rabu, 08 Mei 2013

Mensikapi Orang- Orang yang Bekerja Kepada mu- Syair

Mensikapi Orang- Orang yang Bekerja Kepada mu- Syair.


Sekretaris kepercayaan mu pun mungkin saja berkhianat.
Orang terbaikmu pun ada kalanya gagal melaksanakan tugas penting darimu.
Pengikutmu yang loyal pun ada kalanya mengabaikan ucapan mu.
Menaruh seratus persen kepercayaan kepada mereka –pasti-/ hanya akan membuatmu kecewa.
Orang- orang akan tidak berkompeten seperti perkiraan mu saat merekrut mereka.
Dan mereka pasti akan membuat banyak kesalahan dalam tugas pertama mereka.
Hal ini harus kamu pahami benar !.
Jangan berharap berlebihan kepada mereka.
Tapi, kita tidak bisa menjual produk yang cacat.
Produk yang cacat harus di buang.
Bila harus membuang semua hasil produksi karena cacat, kamu pun harus melakukan nya.
Lebih tajamlah dalam menetapkan sesuatu.
Kita sedang berhadapan dengan realitas.
Produk dalam katagori cacat harus di buang.
Tapi, jangan sampai kerugian besar itu menjadi beban fikiran mu.

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Tentang Syair ini.
Syair ini saya buat ketika saya selalu kecewa dengan sikap orang- orang yang bekerja untuk saya. saya merasa, tugas- tugas spesifik yang saya berikan kepada mereka tidak ada yang bisa di kerjakan dengan sangat baik. Kebanyakan, mereka tidak bisa merampungkan tugas mereka sesuai dengan apa yang saya inginkan. Tetapi, ketika kebanyakan dari orang- orang baru lebih menyebalkan, karena mereka sering melakukan banyak kesalahan di dalam tugas pertama mereka. tapi, ketika saya melihat hal ini dengan sudut pandang yang lain, tentang kapasitas dari kemampuan dari seorang manusia, yang melakukan sebuah tugas di dalam keadaan yang tidak terlalu mendukung, saya pikir saya memang harus melonggarkan batasan yang saya tetapkan kepada mereka. bahwa apa yang mereka lakukan tidak akan bisa seratus persen sesuai keinginan saya. Akan selalu ada cacat dan akan selalu ada hal yang tidak beres. Akan selalu ada pengkhianatan dan sebuah rencana tidak akan berlangsung sesuai planing sebelumnya. Itu adalah konsekuensi kita, yang harus kita tanggung. Dengan melonggarkan ketetapan yang saya berikan kepada mereka, rasa kecewa yang mungkin akan timbul akan cukup terobati.

Menghadapi Gejolak dan Stabilitas.

MENGHADAPI HAL BURUK YANG SEDANG ATAU AKAN TERJADI.

Artikel ini berisi tentang:
Mengatasi kegelisahan hati. Hal buruk yang terjadi –dan sering tidak di sadari- ketika seseorang mencoba menghilangkan kekhawatiran yang sedang di deranya. Menelaah kembali keragu- raguan yang bersifat abstrak atau memang nyata. Karya sartra orang- orang yang berpengaruh dalam mengartikan sebuah perencanaan strategis terhadap sebuah proyek yang akan di jalankan. Sikap terbaik ketika menghadapi situasi buruk yang benar- benar mendadak.
  
MENHADAPI GEJOLAK DAN STABILITAS.
Malam ini, saya sedang membuat sebuah rencana dalam bisnis saya. yah !, seperti biasa, saya selalu memakai waktu tengah malam untuk berfikir dan mengambil keputusan. Saya merasa lebih tenang, relax dan fokus di tengah malam seperti ini. Tapi, kali ini ada sebuah kekhawatiran yang tidak biasa sedang mendekap saya. Lama sebelumnya, saya sudah mencoba mencari tahu mengenai “apa kekhawatiran tersebut?”. namun, barulah malam ini saya mendapatkan jawabannya. Kekhawatiran saya ternyata adalah sebuah ketakutan mengenai trial, eror dan kegagalan yang menimpa saya nanti, ketika rencana yang saya buat akan saya laksanakan. Sungguh, malam ini kekhawatiran itu cukup memuncak dan membuat saya resah. Saya mencoba melambungkan imajinasi saya dan mencari jawabannya malam ini. dan, saya mendapatkannya.

Saya memprediksi, bahwa rencana yang akan saya jalankan akan berjalan dengan lancar. Adapun bila ada hambatan, hal tersebut telah saya perkirakan sebelumnya, sehingga saya bisa menanganinya dan kembali pada rencana inti. Yang saya takutkan sebenarnya adalah mengenai hambatan yang tidak terprediksi. Sebuah jenis hambatan kecil namun fatal, dan bisa menghancurkan rencana utama. sungguh, saya baru menyadari, kesalahan saya adalah memikirkan tentang bagaimana caranya agar tidak gagal. Saya berfikir mengenai hambatan apa saja yang akan muncul. Semakin saya memikirkannya, semakin banyak referensi yang di berikan oleh otak saya. saya berfikir mengenai sebuah rencana pemasaran. Tentu sebagai seseorang yang mengelola resiko, saya harus memperhitungkan segala aspek resiko yang mungkin akan muncul. Tapi, karena hal yang saya lakukan hari ini adalah sebuah rencana besar, saya  menjadi semakin takut untuk gagal. Karena mengingat apabila rencana ini gagal, kerugian yang saya derita sangatlah banyak. Karena ketakutan inilah, otak saya tidak bekerja dengan semestinya. Biasanya, saya hanya memprediksi resiko pokok/ fatal saja –resiko kecil tidak terlalu saya perhitungakan karena saya anggap bahwa dalam setiap langkah selalu ada resiko yang menyertainya. Jadi, pemecahan masalah ini bukan terletak pada pengelolaan resiko yang mendetail. Tapi, mengenai meredam ketakutan yang tidak seharusnya.

Tapi, ketakutan saya sebenarnya cukup beralasan. Ada sebuah batu sandungan yang terlihat kecil/ tidak terprediksi, yang bisa mengakibatkan HANCURNYA RENCANA UTAMA. Sepertihalnya sebuah penyakit kronis yang tidak kita ketahui. Setelah tiba saatnya datang, penyakit tersebut baru bisa terlihat. Setelah terlihat, sudah terlambat bagi kita untuk mengobatinya. Parahnya lagi, bila penyakit tersebut tidak ada obatnya setelah sekian lama bersemayam dan berkembang menjadi ganas di dalam tubuh. Hey... Orang sukses di dunia ini bukan hanya orang yang berani maju dan pandai di bidang perencanaan. Tapi juga orang yang beruntung. Kita tidak bisa lepas dari keberuntungan untuk sukses. Apabila kita telah memprediksi sebuah resiko, YA SUDAH... !, kita tinggal menjalaninya. Apabila ada resiko fatal yang tidak bisa kita prediksi sebelumnya, yang harus kita lakukan adalah bersikap NEKAT/ melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk menanganinya. Apabila kita tidak mampu atau kalah dengan keadaan, Yap... TERIMA SAJA KEKALAHAN KITA. Hal yang saya katakan di atas bukan sebuah teori dengan pandangan yang sempit. Kebanyakan orang tidak menyukai teori yang saya kemukakan, dan terus mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. tapi, sampai saat ini, tidak ada manusia yang mampu menemukannya dan membuktikannya secara ilmiah. Teori diatas saya cuplikan dari buku I’ll Principe (The Prince/ Sang Pangeran), karya Nicolo Machiavelli (1469- 1527). Seorang teoritikus Politik di zaman Renaisance italia. Yang dengan teori tersebut, mengalihkan skema politik klasik ke skema politik modern (Hanya saja saya menggunakan kalimat saya sendiri agar anda sekalian mudah memahaminya. Karena, tata bahasa italia klasik di tahun 1500 an, yang hanya di terjemahkan ke dalam bahasa inggris lalu ke bahasa indonesia dengan baku, akan kehilangan makna kata yang sebenarnya). Bila anda memiliki bukunya, coba lihat BAB XXV; Takdir apa yang bisa mempengaruhi urusan manusia dan bagaimana mempertahankannya. Machiavelli berkata: “Bagi saya sendiri, saya pikir lebih baik untuk bersikap nekat daripada hati- hati, karena takdir adalah perempuan, dan jika anda ingin mengatur- aturnya dan menyalahgunakan dirinya, tampaknya dia akan membiarkan dirinya dikuasai oleh orang- orang yang berjiwa petualang ketimbang oleh mereka yang pergi bekerja dengan hati dingin”. Artinya; ketika sebuah keadaan yang tidak di inginkan (keadaan buruk) muncul dengan tiba- tiba, kita akan ‘TIDAK AKAN MEMILIKI BANYAK WAKTU’ untuk berfikir dan melakukan hal dengan benar. Karena waktu kita terbatas dan sempit. Apabila kita tidak bergerak dengan segera, maka keadaan tersebut akan menghancurkan diri kita. tapi, apabila kita bergerak (melakukan aksi) dengan NEKAT dan TIDAK PERLU BERHATI- HATI (yang berarti, tidak perlu berfikir panjang lebar), bisa jadi kita memiliki peluang untuk mengubah keadaan yang buruk tersebut dengan mengandalkan keberuntungan. Apabila kita berhati- hati dan befikir panjang lebar, maka kita akan HANCUR. Karena, keadaan tidak mengijinkan kita memiliki banyak waktu untuk berfikir.  *** Kalimat diatas cukup rancu apabila anda tidak tajam mengartikan satu persatu kata demi kata ***.

Tapi.... tidak perlu terlalu risau menghadapi hal ini. Jaman kita telah berubah, dan keadaan kitapun saat ini tidak dalam masa perang yang para pemainnya perlu saling membunuh. Satu hal yang perlu kita ketahui; “harapan itu selalu ada selama manusia masih hidup. Dan apa yang dicita- citakannya akan berhasil di gapai selama dia terus berusaha dan mencoba”. Kita buat semua ini sederhana saja; apabila anda menghadapi kegagalan, berjuanglah lagi. Harapan itu selalu ada selama manusia hidup. Tidak perlu bunuh diri. Orang yang bunuh diri adalah orang lemah menghadapi kenyataan!!!.. (dikatakan oleh kaisar Meiji kepada para pelajar Middle School dan High School di Jepang ketika banyak dari mereka bunuh diri karena tidak mendapatkan ranking 1 atau gagal dalam cita- citanya).

Kesimpulan dalam hal ini adalah; apabila keadaan stabil, cukup mudah bagi kita untuk mengendalikannya. Tapi, kebesaran seseorang itu diukur ketika menghadapi masalah. Lakukan apa yang harus Anda lakukan apabila anda sedang menghadapi gejolak dalam sebuah keadaan. LAKUKAN APA SAJA untuk menyelamatkan diri anda dan organisasi yang Anda pimpin. Dan apabila anda menemui hal yang sangat buruk (masalah yang sangat besar) dan MENDESAK; lakukan tindakan dengan segera. Jangan biarkan ‘waktu’ terlebih dahulu menghancurkan anda.

Evaluasi dalam dan Menetapkan Struktur Kerja.

MENGHINDARI PERANGKAP PEMBUATAN KEPUTUSAN YANG KELIRU.

Artikel ini berisi tentang:
Melakukan evaluasi terhadap pembuatan struktur kerja sebelumnya. Pembuatan struktur kerja model pertama, kedua dan ketiga. Contoh kasus melakukan perubahan terhadap metode struktur kerja. Hal yang sulit di sadari apabila kita berhasil menggunakan sebuah metode karena keberuntungan –dan bukan metode ilmiah. Posisi dalam sebuah organisasi yang membutuhkan keputusan yang tepat, tajam namun tetap berhati- hati. Metode kedua yang sulit di sadari kekurangan/ kelemahan nya karena orang masih terpaku pada metode pertama/ sebelumnya yang lebih buruk. Pengertian Relativitas terhadap hal yang lebih baik.


EVALUASI DALAM MENETAPKAN STRUKTUR KERJA.
Di malam ini, saya mencoba melakukan evaluasi diri mengenai prilaku saya sebelumnya dalam membuat struktur kerja. Saya merasa, malam ini ada sebuah ganjalan di dalam fikiran saya. sebuah pertanyaan; “apakah pola saya dalam membuat struktur kerja di waktu sebelumnya sudah tepat?”. Karena, saya merasa ada sebuah pola/ metode yang lebih baik dalam membuat dan menetapkan struktur kerja, sehingga pola/ metode yang sebelumnya bisa dirasa menjadi “buruk/ kurang baik” [Catatan kaki 1: Relativitas terhadap hal yang lebih baik].

Behind of Logica for Running Startup.

LOGIKA TERSEMBUNYI UNTUK MENJALANKAN STARTUP.

Artikel ini membahas tentang:
Dasar kesalahan dari informasi atau dogma yang di ajarkan oleh orang dekat, keluarga maupun orang sukses. Dasar kesalahan fatal yang sulit di sadari adalah sebuah informasi pokok yang di sampaikan dengan seluruh kebenaran mutlak –namun belum tentu benar atau bisa di terapkan oleh diri kita. Sikap, sifat dan metode yang harus di ubah dari informasi yang di berikan oleh orang- orang sekitar.

BEHIND OF LOGICA FOR RUNNING STARTUP.
Cukup sulit bagi saya untuk menyadari, betapa sikap dan sifat yang di miliki banyak orang, di ajarkan banyak orang dan di dogma-kan oleh keluarga saya justru yang menjadi dasar kesalahan saya dalam banyak bertindak. Melepaskan ketidak-percayaan seutuhnya terhadap semua itu bisa menjadi kekuatan utama dalam membangun startup dan menjalankan perusahaan yang akan di dirikan. 95% keluarga ku, teman- teman ku, saudara dan bahkan sahabat ku adalah seorang pekerja ataupun pedagang. Dan saat ini, saya sedang belajar mengenai bisnis. Perlu di sadari dalam- dalam, bahwa sebuah bisnis tidaklah sama dengan perdagangan ataupun bekerja di dalam sebuah perusahaan besar sekalipun. Kedua hal itu BANYAK YANG BERBEDA, dan kamu harus benar- benar jeli dan hati- hati untuk mengadopsi informasi yang kamu dapatkan –dari orang yang seorang pedagang ataupun karyawan. Ini bukan masalah benar atau salah. Bukan masalah kolot/ keras kepala ataupun mampu menerima saran/ masukan. Tapi, berhati- hati lah menerima masukan tentang bisnis dari karyawan atau pedagang –jika kamu ingin mendirikan sebuah bisnis. Kadang kala –dan sebagian besar- hal itu sering keliru. Sebagai contoh kecil saja; seorang karyawan selalu bisa di ajak kerjasama dengan banyak pihak untuk mencapai sebuah keuntungan bersama. Tapi, dalam bisnis, tidak ada kata kerjasama tanpa adanya keuntungan. Dan dalam bisnis, tidak ada yang namanya menciptakan keuntunga bersama (win win solution). Yang ada hanya kompetisi dan saling menjatuhkan rival. Memonopoli semuanya –jika bisa. Dan semua yang tidak dalam lingkungan bisnis kita, bisa di sebut sebagai rival –bila mengancam provit yang ingin kita raih. Kelihatan nya hal ini sungguh egois dan tak bermoral. Tapi, silakan saja Anda berfikir untuk menciptakan win- win solution untuk rival Anda. kemudian di waktu yang akan datang, Anda akan menemukan diri Anda –dan perusahaan Anda- di tusuk dari belakang, hingga akhirnya sudah terlambat untuk menyadari kesalahan itu. seorang manajer perusahaan besar bertugas untuk memberikan pengarahan. Pemimpin perusahaan besar, memberikan visi. Seorang karyawan mungkin akan sangat sungkan untuk memilih keputusan yang merugikan rekan kerja nya. tapi, dalam bisnis, sangat besar hal yang Anda pertaruhkan, sehingga terkadang Anda harus mengambil keputusan mengorbankan pihak minoritas untuk membuat perusahaan Anda survived.

Peragraf pertama menjelaskan tentang sikap dan sifat. Paragraf kedua ini akan menjelaskan tentang perbedaan metode/ cara, yang di tempuh oleh pemimpin perusahaan ketimbang seorang manajer atau pedagang. Saya masih ingat ketika teman saya mengemukakan kepada saya tentang metodenya dalam menjalankan perdagangan nya secara one man one show. Saya cukup yakin bahwa apa yang disampaikan nya kepada saya adalah hal yang jujur. Tapi, sekali lagi; cara yang di tempuh orang lain belum tentu bisa menciptakan hasil yang sama jika kita lakukan. Kebanyakan, kegagalan tersebut –kegagalan cara yang di ajarkan oleh orang lain- dikarenakan latar belakang individu yang berbeda, waktu pelaksanaan yang berbeda, dan masih banyak hal lain nya. Saya pernah membuat kesalaha karena saya terpaku dengan metode dasar yang di kemukakan oleh teman saya. Teman saya mengajarkan saya sebuah cara untuk memulai sebuah bisnis. Ada hal pokok yang di tekankan kepada saya dalam ajaran itu. dan saya benar- benar me-MAKU pada hal pokok tersebut. saya memodifikasi cara yang lain –yang tidak di tekankan oleh rekan saya tersebut. setelah saya coba laksanakan, ternyata FAIL !!!. Saya analisa kembali kesalahan saya, dan ternyata letaknya pada hal pokok yang saya paku tersebut.

Tidak bisa bila kita begitu saja me-MAKU hal pokok yang di ajarkan orang lain tanpa menganalisa secara lebih teliti lagi; apakah hal itu benar- benar bisa di jalankan oleh diri kita. hal yang paling sulit adalah menolak pendapat atas informasi yang di berikan kepada kita dengan nada-ucapan-dan gerak tubuh yang benar- benar mencerminkan benenaran mutlak yang absolut dan tak terbantahkan. Bila Anda sedang berada di dalam posisi di beri sebuah ajaran oleh ibu Anda tercinta, bahwa Anda harus bekerja dengan rajin, menghemat dan menabung agar bisa sukses di hari tua dan membangun rumah impian... Lupakan saja nasehat ibu tercinta itu. Ibu tercinta lahir di masa lalu. Masa dimana perekonomian stabil, pekerjaan mudah di cari, dan belum banyak orang yang melakukan bisnis. Masa sekarang; ibu tidak tahu. Ibu menganggap masa sekarang sama hal nya –atau hampir sama mirip- dengan masa di kehidupan nya berada. Masa sekarang, masa globalisasi. Dimana produk luar negri masuk dengan bebas nya ke dalam negri. Masa ini, adalah masa yang penuh dengan gejolak. Masa perekonomian dan politik yang kacau, dan pemerintah tidak bisa di andalkan untuk menjamin kelangsungan hidup rakyat nya di masa depan.

Informasi yang di sampaikan dengan keyakinan kebenaran mutlak... belum tentu benar dan berhasil kita lakukan. itulah yang ingin saya tekankan disini. Mengingat adanya kesalahan besar dimasa lalu karena terpaku dengan hal pokok yang dikatakan dengan sangat yakin akan kebenaran nya, telah membuat kegagalan fatal. Saya tidak bermaksud untuk menjadi keras kepala dan menjadi orang yang tidak mau menerima saran. Saran- saran itu penting. Tapi, sekali lagi saya tegaskan; jangan sampai terpaku dengan hal pokok yang disampaikan, meskipun penyampaian nya benar- benar menyakinkan. Mungkin saja dalam banyak saran tersebut, ada hal yang harus di buang, di modifikasi, di tambahkan, di kurangi ataupun di adopsi. Meskipun itu adalah sebuah pernyataan yang di tekankan oleh si pemberi informasi.

Minggu, 30 Desember 2012

Kelemahan Sistem ONE MAN ONE SHOW- Bagian 1

SISTEM BISNIS ONE MAN ONE SHOW YANG AKAN MENGALAMI KESULITAN PERKEMBANGAN.

Artikel ini berisi tentang:
3 unsur pokok sebagai fondasi berdirinya perusahaan. Unsur fondasi pertama adalah Marketing. Kelemahan sistem ONE MAN ONE SHOW adalah tidak tertatanya sistem manajemen dengan baik.

KELEMAHAN SISTEM "ONE MAN ONE SHOW".
Bila kita tengok sebuah perusahaan besar, di dalamnya terdapat banyak sekali sistem yang mengatur perputaran roda organisasi bisnis tersebut. Namun, sepertihalnya kata pepatah;
“sederhanakan agar bisa di kendalikan”. Untuk sukses menjadi sebuah perusahaan, dengan sistem manajemen organisasi yang cukup kuat, kita hanya membutuhkan 3 unsur pokoknya sebagai struktur fondasi yang kokoh dalam berdirinya sebuah perusahaan. Saya menyebut unsur pertama adalah “Marketing”. Marketing tersebut meliputi kebijakan mengatur harga, pembuatan produk yang inovatif, wilayah pemasaran yang tepat dan promosi untuk mendongkrak penjualan lebih cepat.

3 unsur pokok belum di sebutkan. oleh sebab itu, postingan ini akan di kembalikan ke Draft.
Dalam artikel ini, saya tidak akan terlalu banyak membahas mengenai kinerja perusahaan besar. Namun, lebih mengarah kepada bisnis kecil menengah. Kita akan mengambil contoh industri tekstil (pakaian) yang di kelola oleh 1 orang pemilik bisnis dan 2-3 orang karyawan saja. Dengan hanya memiliki pelanggan yang cukup banyak, industri teksil kecil (yang saya sebutkan diatas) sudah mampu meraup keuntungan bersih rata- rata 3 juta/ bulan (menurut survey yang saya lakukan kepada pemilik industri tekstile kecil). Dengan  modal yang di gunakan rata- rata adalah lebih dari 100 juta rupiah. Modal yang di gunakan terlebih bukan terletak pada pembangunan infrastruktur organisasi bisnis (perusahaan), namun lebih condong kepada pemberian piutang dalam bentuk barang kepada pedagang yang di beri penawaran. Secara sederhananya, bila saya melihat infrastruktur  industri kecil tersebut paling berharga sekitar 20 juta-an, namun mereka menitipkan barang kepada banyak pedagang yang kisaran nilainya lebih dari 80 juta-an. Manajemen organisasi dilakukan dengan cara “one man one Show” atau lebih tepatnya pemilik organisasi bisnis yang melakukan semua hal penting secara sendirian. Setelah keadaan cukup aman, baru tugas yang dilakukan pemilik bisnis tersebut di serahkan kepada karyawan mereka.

Kelemahan dari manajemen “one man one Show” adalah sistem organisasi tidak tertata dengan baik. mulai dari laporan arus kas (yang terpenting), laporan penjualan, biaya produksi, dll kurang begitu rapi. Bilapun ada, laporan tersebut sulit dibaca oleh orang lain (namun sangat mudah di baca oleh pemilik organisasi bisnis tersebut). oleh sebab itu, tidaklah aneh apabila orang lain yang merasa memiliki uang berlebih dan ingin berinvestasi merasa sukar dan enggan untuk melakukan investasinya pada organisasi bisnis seperti ini. kelemahan lain nya, karena manajemen organisasi yang tidak rapi, maka akan sangat sulit menemukan investor yang mau menanamkan modelnya pada organisasi semacam ini. jika begitu, pemilik bisnis harus terpaksa menabung sedikit demi sedikit keuntungan hasil usahanya untuk memperluas usahanya kembali. Sistem mengumpulkan dana dengan cara menabung seperti ini akan memakan waktu yang lama, sehingga ekspansi usaha pun akan cenderung lama dilakukan (karena harus menunggu dana besar yang terkumpul lebih dahulu).

Penyimpangan prosedur dan toleransinya

BAGAIMANA MENSIKAPI PENYIMPANGAN YANG TERJADI DI ORGANISASI.

Artikel ini berisi mengenai:
Seberapa besarkah toleransi terhadap sebuah penyimpangan prosedur harus dilakukan. Apa yang harus dilakukan apabila ada anggota atau orang lain yang melakukan penyimpangan prosedur. Sudut pandang apa yang harus di miliki untuk menekan penderitaan karena kekecewaan orang lain yang melanggar prosedur.

PENYIMPANGAN PROSEDUR DAN TOLERANSI NYA.
Sebuah organisasi yang baik, pasti akan menargetkan sasaran nya berdasarkan keadaan yang sedang terjadi. Saat ini, kita akan membahas sebuah permasalahan internal dan
eksternal yang bisa mempengaruhi kinerja yang telah di bakukan di dalam sebuah organisasi. S.O.P. adalah sebuah metode yang di bakukan (di resmikan) yang di gunakan sebagai acuan untuk melakukan sebuah aktivitas, yang di harapkan dengan S.O.P. tersebut, bisa di dapatkan sebuah hasil sesuai yang di inginkan. Namun, S.O.P. tersebut tidak berlaku bila di hadapkan dengan sarana yang berbeda, ketiadaan sarana, kesalahan material, dan sebuah kondisi Human Eror yang akan selalu ada. Apa yang terjadi bila terdapat hal- hal seperti di atas?. Akibat yang di timbulkan adalah Output secara Kualitas atau kuantitas, atau kedua- dua nya tidak bisa tercapai. Contoh: terjadi cacat produk, terjadi penurunan jumlah produksi, dll. akibat yang lain adalah Coast atau biaya dalam unit produksi tersebut menjadi semakin tinggi. Contoh Kasus: karena pengoperasian mesin produksi yang tidak sesuai dengan prosedur (S.O.P.), maka mesin menjadi rusak. Walaupun mesin bisa di perbaiki dengan segera, namun biaya perbaikan mesin tersebut sangatlah mahal.

Namun, sesuai pengalaman saya bekerja dalam organisasi manufacture, tidak akan pernah di dapat kondisi yang stabil. Akan selalu ada sebuah hal, yang menjadi sebuah alasan dimana sebuah S.O.P.  tersebut tidak bisa di jalankan. Sehingga hal ini mendorong pihak “User” atau pelaku proses mengambil sebuah tindakan untuk melakukan penyimpangan dari S.O.P. yang telah di tetapkan guna mencapai target. Namun, menurut saya, hal ini sangat tepat untuk di lakukan. walaupun pihak User melakukan penyimpangan untuk bisa memenuhi target, ini lebih baik daripada User tidak melakukan apapun dan menunggu keadaan menjadi stabil. Saya akan menjelaskan sebuah contoh kasus yang pernah terjadi di tempat saya bekerja. Di sebuah organisasi manufacture, terdapat kerusakan mesin produksi yang cukup parah. Namun sayang nya, onderdil mesin tersebut sudah tidak di produksi lagi karena mesin tersebut sudah tua. Kemudian, para teknisi dan manajemen bawah sepakat untuk mengambil tindakan; membuat onderdil tersebut sendiri. Setelah berselang beberapa hari, onderdil telah selesai dan siap di pasang. Kemudian, setelah onderdil di pasang, produk yang di hasilkan mengalami cacat karena bergesekan dengan onderdil yang tidak sesuai standart tersebut. kemasan produk yang keluar menjadi sobek. Dari contoh cerita saya, apa kesalahan yang terjadi?. bahwa onderdil buatan sendiri (bukan onderdil asli) malah membuat produk menjadi cacat. Tapi, bila di balik lagi, harus nya pihak perusahaan menyediakan suplier onderdil yang asli, agar tidak terjadi hal seperti ini. tapi, saya yakin. Pihak perusahaan tidak mau di salahkan oleh karyawan nya. siapa yang salah?. Tentu pihak perusahaan. Tapi kenapa pihak perusahaan tidak mau di salahkan?. Karena kekuasaan yang mereka miliki lah yang membuat nya seperti itu. Yap, tidak pernah di dapatkan segala sesuatu tersebut berjalan sesuai S.O.P yang telah di bakukan. Akan terus ada penyimpangan terhadap S.O.P. bila ada penyipangan standart prosedur, yang dilakukan sekali maupun tiga kali, hal itu harus dimaklumi. Bersikap perfeksionis, hanya akan membuat orang yang melakukan nya di dera penderitaan tentang “kekecewaan” yang terus menerus. Namun, apabila ada sebuah prosedur yang di langgar, seharusnya pihak manajemen melakukan peneguran terhadap hal ini. karena, apabila sebuah prosedur yang di langgar tidak di tegakan, maka orang- orang akan lebih berani melanggar hal yang lebih besar lagi, dan akan secara sengaja melakukan pelanggaran itu kembali. Namun, Anda tidak perlu langsung memecat orang yang melanggar tersebut. Karena pelanggaran akan selalu ada. lebih baik, berfikirlah bahwa S.O.P hanyalah acuan yang tidak pernah menjadi nyata, namun tetap harus di tegakan apabila di langgar. Dengan mengetahui hal ini, anda tidak akan terlalu banyak mendapatkan kekecewaan.
Selesai.

Kesalahan Terbesar dalam Pelaksanaan

LEBIH BERHATI- HATI AGAR BISA LEBIH BERHASIL.

Artikel ini berisi tentang:
Mencermati dengan kritis penyebab kegagalan pelaksanaan, selain dari faktor rancangan rencana dan teori yang salah. Berbagai macam faktor kesalahan pelaksanaan yang sering muncul dan bagaimana mengatasinya. Bagaimana cara mengambil keputusan terbaik.


KESALAHAN TERBESAR DALAM PELAKSANAAN.
Bukan hanya sekedar kesalahan rancangan yang menyebabkan sebuah perusahaan tidak mampu beroperasi dan berdiri. Kesalahan eksekusi atau pelaksanaan pun adalah salah satu
penyebab kuat “mengapa perusahaan kuncup sebelum berkembang”.

Seperti halnya sebuah arsitek yang telah merancang bangunan hingga begitu telitinya. Tapi, dia bekerjasama dengan kontraktor yang tidak teliti. Seharusnya bangunan mampu berdiri sesuai rencana, yang dimana walaupun ada beberapa kesalahan kontruksi dan pelaksanaan pun, hal tersebut tidak akan banyak mempengaruhi hasil akhirnya. Artinya, hasil akhirnya akan tetap berdiri sesuai rencana walaupun dalam pelaksanaannya terdapat kendala –dan tentunya kendala dalam pelaksanaan tidak bisa di hindari. Hal ini hampir sama dengan pelaksanaan pembangunan sebuah usaha bisnis. Ada beberapa hal yang sering tidak mampu dilakukan oleh eksekutif rancangan sistem bisnis, yang seringnya karena hal itu, bisnis tidak mampu berdiri. Beberapa kesalahan dan penyelesaian masalahnya bisa anda lihat di bawah ini.

Kurang tajam melihat situasi yang ada.
Seringkali, seseorang yang bukan termasuk dalam katagori ORANG KRITIS, sering melihat sesuatu, menangkap informasi dan mengelola informasi dengan begitu saja atau hanya dengan analisa sekilas. Orang- orang ini sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang umum, tidak menyukai pemikiran mendalam, tidak atau jarang menganalisa sesuatu dengan sudut pandang yang lain, dan mereka seringkali adalah orang- orang naif.
Seringkali juga, orang seperti ini adalah orang yang tempramen, sering kali ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat, lebih mudah bergerak dengan instink daripada dengan berfikir lebih dahulu. Tapi, tidak semua faktor yang saya sebutkan diatas adalah milik orang- orang yang kurang tajam melihat keadaan. Ada juga orang yang tempramen seperti Steve Job juga memiliki ketajaman dalam menganalisa situasi. Hal diatas adalah hal umum dan sering kali dimiliki oleh orang yang bukan termasuk dalam katagori ORANG KRITIS.

Dalam sebuah permasalahan ketika mengambil keputusan, sering ada faktor X (faktor X = sesuatu hal) yang di sulit di lihat, dimengerti dan dirasakan, namun fatal apabila tidak disadari. Orang yang kurang tajam melihat situasi, tidak akan menyadari faktor X yang fatal ini. seringkali rencana besar bisa hancur dengan mudahnya karena faktor X ini. memang, faktor X bukan saja terjadi karena kurang tajamnya menganalisa situasi. Faktor penghancur yang fatal bisa juga muncul ketika kita telah melakukan sesuatu. Maksud saya; muncul secara tiba- tiba dan mendadak. Jadi, sulit di hindari. Namun, apabila kita tajam menganalisa situasi. Baik situasi terhadap hal yang sedang kita jalani, maupun situasi yang sedang datang mendekap kita, peluang keberhasilan kita menghadapi hal buruk tersebut akan lebih besar.
Kurang tajamnya seseorang dalam melihat situasi seringkali di sebabkan karena kebiasaan berfikir TIDAK KRITIS. Lebih mudah menyerah menghentikan proses berfikirnya yang lebih dalam. Untuk bisa berfikir kritis, seseorang harus membiasakan dirinya berfikir mendalam, tenang, tidak terburu- buru, melihat hal/ peluang yang lebih baik secara ilmiah –bukan berdasarkan instink.

Tidak mampu bertindak keras.
Seorang pemimpin perusahaan memiliki saudara yang merana. Saudaranya tersebut pernah membantunya berulang kali sebelum dia menjadi sukses. Pemimpin tersebut –karena iba- memberikan posisi penting dalam perusahaan kepada saudaranya. Tapi, sayang sekali, saudaranya tidak memiliki kemampuan mengelola posisi tersebut. saudaranya adalah orang yang takut salah, takut mengambil keputusan, tidak bisa berfikir kritis. Akhirnya, beberapa bulan setelah menduduki posisi tersebut, perusahaan mengalami guncangan yang besar. Manajemen perusahaan menjadi kacau balau. Tapi, pemimpin perusahaan tersebut, mengingat pengorbanan apa yang telah di lakukan saudaranya dulu, tidak mampu hati memecat saudaranya. Akhirnya, di tahun berikutnya, perusahaan tersebut tumbang karena manajemen perusahaan di serahkan kepada orang yang tidak memiliki kemampuan.
Seharusnya, hal di atas bisa sangat mudah di atasi apabila pemimpin perusahaan tersebut memecat saudaranya. Harusnya begitu. Tapi, karena pemimpin perusahaan tidak memiliki hati yang keras, maka secara tidak sadar, dia memilih mengorbankan perusahaan dan ratusan karyawannya daripada seorang saudaranya.
Ada begitu banyak hal serupa, mengenai keteguhan hati, dan keberanian dalam bertindak, yang sebenarnya mudah dilakukan, tapi menjadi hal sangat berat ketika terpaku pada perasaan pribadi. bertindak keras bukan tindakan yang membabi buta, ganas dan beringas. Tapi, bertindak melakukan hal yang seharusnya di lakukan. Sifat- sifat ini perlu dimiliki. Sifat- sifat ini terkadang terlihat buruk apabila di lihat oleh orang awam. Oleh sebab itu, orang awam tidak bisa menjadi pemimpin. Tapi, perusahaan yang mengayomi kehidupan banyak orang, tidak bisa di kelola oleh orang yang lembek. Sifat keras kepala terkadang di perlukan. Sifat sadis terkadang juga di perlukan. Berani mengambil keputusan yang berbeda, bertindak berbeda, mengorbankan sesuatu, brutal, mengambil keputusan yang merugikan banyak orang guna menyelamatkan lebih banyak orang, dll, semua sifat sifat itu –yang sering dinilai oleh orang awam sebagai sifat buruk- terkadang di perlukan untuk tetap mempertahankan perusahaan dan banyak orang yang bernaung di dalamnya. Sifat ini bisa dimiliki apabila seseorang memahami dengan sangat mendalam, bahwa; tanpa sifat tersebut, perusahaan akan mengalami keruntuhan. Dan kebiasaan sehari- hari diperlukan untuk membiasakan diri memiliki sifat tersebut.

Saya pribadi tidak akan memberikan tugas sangat penting kepada orang baik. saya akan memilih orang yang berani bertindak melakukan ‘semua hal’ untuk mensukseskan tugas penting itu. untuk menjadi pemimpin, sifat- sifat orang awam harus dihilangkan. Karena, orang awam tidak akan bisa menjadi pemimpin. Orang awam selalu berfikir untuk mendapatkan Win- Win Solution. Mereka selalu berfikir untuk membuat keputusan yang membahagiakan semua pihak. Tapi, takdir hidup dunia –yang tidak bisa di ubah- mengatakan; “Kesedihan suatu kaum adalah sebab kebahagiaan kaum lain”, dan “Di dalam sebuah keputusan, tidak ada pihak yang tidak di rugikan”.

Kurangnya kemampuan dalam organisasi.
seorang yang telah bergelut dalam organisasi selama satu tahun lebih baik daripada seorang pedagang yang memiliki pengalaman menjalankan usahanya seorang diri selama puluhan tahun. Anda tahu mengapa?. Karena pedagang seperti contoh di atas hanya memiliki pengalaman seorang diri di bidangnya, tetapi tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam mengkoordinasi orang- orang. Sama seperti halnya seorang pengemudi mobil yang berpengalaman selama puluhan tahun dalam mengemudi, dan tiba- tiba saja dia dia mencoba menjalankan hellikopter. Basicnya sama- sama mengemudi, tapi apa yang di kemudikan itu berbeda. Ada banyak hal dalam organisasi yang tidak bisa di pelajari hanya dalam beberapa bulan saja. Ketidak mampuan bukan sesuatu yang bisa di paksakan, kemudian menghasilkan sesuatu seperti keinginan. Kemampuan harus di latih dengan kesabaran. Dan kesabaran, harus melalui waktu tertentu untuk bisa bagi seseorang memiliki kemampuan tersebut.
kemampuan dalam  berorganisasi di dapatkan seseorang apabila dia mempelajari organisasi langsung di lapangan dengan intensif. Menganalisa dengan tajam, apa sifat dan karakteristik dari sebuah pola organisasi tersebut, dan mengubah sifat –juga sudut pandangnya- untuk bisa menjalankan peran dalam organisasi itu.

Salah Memilih Orang.
Dalam berorganisasi, kita seringkali tidak hanya bekerja sendiri. Seringkali, kita harus bisa memanfaatkan waktu dan tenaga orang lain untuk menjalankan tugas kita. tapi, perlu di ketahui, sepengalaman saya dalam berorganisasi, kita seringkali memberikan tugas kepada orang yang mudah kita temui untuk mengemban tugas yang tidak mampu mereka lakukan. mereka, adalah orang- orang yang mau melakukan tugas dari Anda. tapi, apabila mereka tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas tersebut, hasilnya bisa dikatakan akan BURUK/ FAIL (gagal).
Di perlukan perasaan “tidak terburu- buru” ketika kita memilih orang. Pilihlah orang yang tepat. Yang memiliki kemampuan dalam menjalankan tugas yang anda berikan. Memilih seorang supir truk yang banyak kita temui untuk mengemudikan kereta api milik kita adalah hal yang salah.

Tidak mampu melakukan koordinasi.
Kebiasaan buruk lainnya; kita seringkali tidak memberikan koordinasi yang tajam sebelum menugaskan seseorang. Artinya; kita mengatakan apa yang harus di lakukan oleh orang yang kita beri tugas. Setelah mereka –orang yang kita beri tugas tersebut- mengatakan “Iya” atau “Mengerti”, kita seringkali tidak melanjutkan penjelasan kita lagi. Ini kesalahan yang sering tidak disadari. Padahal, anda telah melakukan analisa terlebih dahulu sebuah informasi dengan cermat terhadap suatu keadaan, dan akan sangat membantu bagi orang yang anda beri tugas, apabila mereka lebih mengetahui hal yang spesifik terhadap kendala yang akan mereka hadapi.
Jangan percaya begitu saja apabila orang yang anda beri tugas mengatakan “mengerti”. Sungguh, lebih baik anda menanyakan “apa yang akan kamu lakukan nanti”, atau “apa yang harus kamu lakukan ketika muncul kendala X”, dan berbagai macam pertanyaan spesifik lainnya yang bisa memberitahu anda bahwa orang yang anda beri tugas benar- benar mengerti terhadap apa yang harus dia lakukan nanti.


Tidak mampu mendelegasikan tugas.
seringkali, kita berperasaan buruk mengenai hal ini; “orang- orang menjalankan sesuatu untuk kita, sedangkan kita malah bersantai menonton TV tanpa beban”. Itulah tantangan kita. apakah kita bisa melakukannya?. Apakah kita bisa membuat orang lain berjuang keras dan berkorban untuk kita?. apakah kita bisa menenangkan diri dan beristirahat ketika orang- orang kita sedang berjuang?. Apakah kita bisa mengenyahkan perasaan yang –sering kali terasa- egois, bahwasanya orang- orang sedang bekerja keras sedangkan kita bersantai?. Apabila anda tidak mampu menghilangkan perasaan itu, selamanya anda akan ragu untuk memberikan perintah kepada orang lain. Bahkan anda akan tidak mampu menghukum orang- orang anda yang telah anda beri pendelegasian tugas. Ketika anda ragu memberikan tugas kepada orang lain, seringkali orang- orang yang anda beri perintah akan merasa bahwa “tugas yang anda berikan bukanlah tugas yang penting”, akhirnya, mereka hanya akan berusaha –HANYA BERUSAHA SEBISANYA- untuk mensukseskan tugas yang anda berikan. Bukan BERUSAHA KERAS AGAR BERHASIL menjalankan tugas yang anda berikan. Dalam posisi- posisi biasa, mungkin hal ini tidak begitu berpengaruh. Seperti posisi produksi, posisi pengantaran barang, dll. tapi, apabila masuk posisi ekspansi usaha atau proyek besar, dimana sebuah tugas seringkali tidak bisa berhasil tanpa adanya keyakinan dan kerja keras yang sangat serius dari orang yang anda berikan tugas, maka kegagalan besar dengan mudah bisa terjadi disni.
Untuk mampu melakukan pendelegasian tugas seperti ini, anda harus bisa menyingkirkan perasaan “bersalah/ tidak baik kepada diri sendiri”, ketika anda memberikan tugas kepada orang lain. Ketika perasaan itu hilang, dan di ikuti dengan kebiasaan melakukannya, anda akan masuk dalam keadaan TENANG ketika perang berkobar. Tetap Relax/ santai, ketika orang- orang anda berjuang mati- matian untuk anda. karena, apabila anda tidak bisa tenang dan bersantai, seringkali anda akan ragu- ragu mengambil keputusan. Keragu- raguan adalah penyebab utama hilangnya kendali organisasi.

Demikianlah beberapa faktor yang seringkali muncul ketika kita melakukan sesuatu dengan metode organisasi. di luar poin yang telah saya sebutkan di atas, ada juga hal/ kendala lain yang mungkin juga akan muncul. Anda harus berfikir jernih untuk bisa mengambil keputusan terbaik guna memecahkan masalah tersebut. Anda harus bisa Relax dan tenang, agar keputusan yang tepat bisa anda dapatkan. Ingat pepatah lama pemimpin Amerika; “Jangan mengambil keputusan di saat anda sedang marah”.
Selesai.

Karakteristik Pemimpin Organisasi Bisnis

KARAKTERISTIK PEMIMPIN ORGANISASI BISNIS ‘masa kini’.

Artikel ini berisi tentang:
Menjelaskan bahwa kemajuan perusahaan berawal dari pemimpin puncaknya. Hal yang harus di lakukan pemimpin untuk membawa bisnisnya kepada kesuksesan. Karakter yang harus di miliki pemimpin untuk bisa melakukan hal diatas. Pemimpin visioner. Diskripsi penjelasan mengenai karakter pemimpin bisnis masa kini.

KARAKTERISTIK PEMIMPIN ORGANISASI BISNIS ‘masa kini’.
Kemajuan sebuah perusahaan, berawal dari pemimpinnya. Pemimpin puncaklah yang menentukan kemana arah perusahaan harus bergerak. Mengambil tindakan yang dirasa perlu
untuk kemajuan perusahaan dan menjaga agar perusahaan tetap eksis di posisi depan. Memang, hal ini tidak semudah yang di ucapkan. Betapa banyak orang yang dengan keyakinan yang besar dan perjuangan kerja keras tiada henti, malah ternyata gagal dalam mewujudkan misi sebuah perusahaan.

Saya meyakini, untuk bisa meraih kesuksesan, memang kita tidak luput dari sebuah keberuntungan. Namun, ada sebuah filosofi yang juga saya yakini bisa memperbesar peluang dan memperkecil resiko kegagalan. “Siapa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dia akan bisa menguasai dunia”. Yeah !, itu adalah filosofi umum yang sering kita dengar, namun hanya sedikit yang mengerti –juga menyadari- dan lebih sedikit lagi yang melakukannya. Kita tahu, Amerika memenangkan perang dunia kedua karena negara tersebut memiliki Bom Atom. Itu adalah bentuk teknologi yang sangat tinggi. Kubilai Khan (Kaisar Mongolia) mampu menaklukan banyak wilayah di Asia karena sebelumnya dia menyelidiki dahulu wilayah yang ingin di serangnya tersebut untuk mengetahui kelemahan nya. Taktik raja Khubilai Khan tersebut adalah sebuah Ilmu pengetahuan yang tinggi di masa itu. mungkin, bagi raja- raja di masa lampau, menyelidiki terlebih dahulu wilayah yang ingin di serang adalah sesuatu yang tidak bermanfaat dan membuang biaya. Namun, begitulah ciri Ilmu Pengetahuan dan teknologi yang baru. Manusia tidak akan menerimanya bila belum ada bukti keberhasilan nya. yang saya paparkan di atas adalah sebuah bukti historis (sejarah), bahwa sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi adalah jalan untuk menguasai dunia (memenangkan pertarungan).

Sekarang, kita memasuki abad ke 21. Sebuah masa yang jauh dari Perang Dunia kedua dan perebutan kekuasaan raja- raja kuno. Namun, perumusan masalah kehidupan untuk menjadi pemenang tetaplah sama. Yaitu “untuk bisa menang, kita harus memiliki ILMU PENGETAHUAN dan TEKNOLOGI yang lebih tinggi dari rival kita”. tapi, apakah kita sanggup membayangkan dan mewujudkan iptek yang baru tersbut ?. melakukannya sama juga melakukan sesuatu hal yang –terlihat- mustahil dilakukan. saya pun pernah mendengar slogan dari negri tirai bambu “bekerja dengan keras setiap waktu, dan menabung, agar bisa kaya”. Banyak orang Tionghoa melakukan nya. dan terbukti memang benar, sebagai pedagang, kebanyakan dari mereka lebih sukses daripada orang pribumi. Tapi, kemudian saya juga mendengar bahwa “semakin banyak kamu bekerja, semakin sedikit uang yang kamu dapatkan”. Kalimat itu saya dapatkan dari sebuah buku Best Seller tahun 2007 (Rich Dad Poor Dad, Hal 78). WOW.. !, dua kalimat yang berbeda, tapi memiliki sebuah tujuan yang sama. Sebagai orang yang belum mengetahui bisnis modern saat itu, saya pun menjadi pusing dibuatnya. Lantas, apa yang salah dari dua kalimat tersebut !?. mari kita teliti...

Kepastian dari sebuah ilmu pengetahuan di dapatkan dari keterbatasannya!. Apabila ada sebuah hal yang terbukti benar, dan belum ada hal lain –yang berbeda- yang mampu mewujudkan hasilnya dengan lebih baik dari yang sudah ada, maka hal yang dianggap BENAR dan PASTI adalah hal sebelumnya. Tahun 1900-an, orang- orang bekerja keras dan menabung untuk menjadi kaya dan sukses. Warga Tionghoa banyak yang melakukannya. Dan terbukti, mereka benar dalam filosofi hal itu. lebih banyak warga Tionghoa yang jauh lebih sukses daripada orang pribumi Indonesia. Tapi, setelah internet datang, orang- orang Indonesia banyak yang mengetahui, bahwa di negara Amerika, orang- orang menjadi kaya karena membangun sistem dan jaringan bisnis. Para pengusaha Amerika tentu jauh memiliki kekayaan yang lebih banyak daripada para pedagang Tionghoa di Indonesia. Perbedaan besarnya adalah sebagai berikut; warga Tionghoa yang bekerja keras dan menabung memang benar bisa lebih sukses –dan lebih kaya, bila di bandingkan dengan orang pribumi Indonesia. Dan terbukti, filosofi mereka benar. Tapi, apabila mereka di bandingkan dengan para pengusaha Amerika, filosofi mereka akan terbukti salah. Karena, walaupun dengan bekerja keras dan menabung seumur hidup, warga Tionghoa tidak akan mampu mencapai kekayaan seperti para pengusaha Amerika. Banyak hal yang apabila di bandingkan dengan yang lain, akan berarti ‘SALAH’. Banyak hal yang TERBUKTI BENAR dari masa lalu, tidak bisa di terapkan di masa sekarang –dan artinya, terbukti SALAH. waktu bisa mengubah sebuah logika mengenai filosofi.

Kita kembali ke KARAKTERISTIK PEMIMPIN ORGANISASI BISNIS ‘di masa sekarang’. Kita sekarang tidak berpacu dengan kerja keras. Kerja keras adalah metode lama yang diterapkan oleh orang dari masa manusia gua. Yang diperlukan saat ini adalah IPTEK. Bukan kerja keras. Apabila anda ingin pergi ke bulan, apakah anda bisa menabung dari gaji pekerjaan anda tiap bulannya untuk membeli Roket NASA?. Berikut ini beberapa karakter dan Kemampuan yang harus dimiliki oleh pemimpin bisnis untuk sukses di masa sekarang.

Membangun Sumber Daya untuk memperluas jaringan.
Pembangunan organisasi untuk membangun jaringan yang baru. khususnya adalah jaringan pemasaran. Bukan hal yang mudah untuk membangun jaringan dan mengendalikannya dari kejauhan. Apabila kita ingin memperluas pemasaran kita ke pulau Kalimantan, kita tentu harus memiliki jaringan disana. Tidak hanya membuat jaringan saja, kita juga harus bisa mengawasi, mengendalikan dan melakukan rekonstruksi ulang apabila terjadi kesalahan sistem disana, tentunya DARI JARAK JAUH. Sebagai contoh kasus; apabila anda memiliki seorang teman di pulau Kalimantan, yang ahli dalam melakukan pemasaran barang, kemudian teman anda tersebut anda ajak kerjasama. Ternyata, setelah kerjasama berlangsung beberapa bulan, pemasaran disana sangat sukses. Anda meneruskan hubungan yang lebih baik dengan teman anda tersebut di waktu- waktu berikutnya. Apakah hal seperti ini bisa di anggap sebagai perluasan jaringan yang BAIK dan BENAR?. Saya menjawab; TIDAK. Hal ii sangat rancu dan berbahaya. Apabila saat ini hubungan dengan teman anda baik, tapi beberapa waktu yang akan datang, ternyata ada perbedaan pendapat –antara anda dan teman anda, lalu kemudian hubungan anda putus, sehingga pemasaran ke pulau Kalimantan tersebut akhirnya hancur. Saya mengatakan ‘MEMBANGUN JARINGAN’, bukan ‘MEMBANGUN RELASI’. Jaringan yang saya maksud adalah sistem organisasi yang tidak terpaku pada ORANG; melainkan pada SISTEM. sebuah sistem jaringan organisasi tersebut mencakup; sistem rekuitmen SDM, prosedur pembangunan jaringan, sistem akutansi, sistem administrasi untuk monitoring keadaan disana, sistem kendali untuk memecat orang apabila SDM yang bekerja di Kantor Cabang anda melakukan tindakan yang salah dan merugikan, sistem pengawasan, dll. itu yang saya maksud dengan membangun ‘JARINGAN’ dan bukan membangun ‘RELASI’.

Mampu menciptakan produk yang inovatif.
Tidak hanya jaringan pemasaran saja yang luas, tapi sebuah produk yang kreatif, inovatif dan beguna bagi orang- orang daripada produk sebelumnya adalah hal terpenting kedua setelah kemampuan untuk memperluas jaringan. Misalkan saja; anda sedang mencoba memperluas jaringan pemasaran. Anda tahu, bagaimana membangun sistem dan jaringan. Tapi, tanpa di tunjang dengan produk yang inovatif, jaringan tersebut akan SULIT MAJU. Contoh kasus; anda telah membangun kantor cabang pemasaran/ DSO di Kalimantan. Semua sistem manajemen di DSO tersebut telah anda bangun. tiba saatnya untuk memfungsikan DSO yang telah anda bangun. tetapi, produk yang anda jual adalah produk biasa dan sudah ada sebelumnya. Harganya pun sama dengan produk yang lama. Intinya; produk anda tidak memiliki keunggulan dari produk yang telah ada sebelumnya. Karena kesalahan tersebut, bisnis anda tidak mau jalan, dan sistem di DSO tidak berfungsi karena DSO anda tidak mampu menghasilkan pemasukan atau melakukan penjualan produk anda. lihatlah perusahaan- perusahaan besar dunia; mereka tidak hanya lihai di bidang pemasaran, tapi mereka mampu menciptakan produk yang inovatif. Miocrosoft sukses dengan produk Microsoft Office- nya. Aplle sukses dengan produk i-Phone nya, dll.

Meyakinkan orang lain terhadap visi rencana kedepan.
Ingat !, “melakukan hal yang sama dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda adalah GILA !”. itu yang di katakan Einstein lebih dari 50 tahun yang lalu. Tapi, seperti yang telah di ulas di atas; “...., begitulah ciri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang baru. Manusia tidak akan menerimanya bila belum ada bukti keberhasilan nya”. Kesulitan kita saat ini adalah ‘meyakinkan orang lain untuk melakukan hal yang berbeda guna mendapatkan hasil yang lebih baik’. kita tidak akan pernah tahu, apakah ide baru tersebut akan sukses besar, atau gagal total. Tapi yang pasti, anda sudah PASTI AKAN GAGAL mencapai target anda yang lebih tinggi apabila mendasarkan dengan cara lama yang sudah ada. Berharap sukses besar seperti pengusaha Amerika, tetapi bekerja setiap hari dan menabung seperti metode yang dilakukan oleh orang Tionghoa?. OMG... itu Nonsens !. tugas selaku pemimpin bisnis masa kini adalah; “bagaimana caranya membujuk orang- orang untuk melakukan hal yang baru, guna meraih hasil yang baru/ lebih baik”. Tidak peduli apakah hall baru yang anda lakukan akan Gagal/ Berhasil, tapi ‘lakukanlah lebih dulu, dan lihat hasilnya nanti’. Kita semua tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi di masa depan.

Fikiran terbuka.
Orang yang fikirannya tertutup, akan cenderung menggunakan metode yang lama terus. Yap, apabila dia seorang karyawan, hal itu tidak terlalu bermasalah; karena keseharian orang tersebut adalah melakukan pekerjaan yang sama. Tetapi, apabila anda bertemu dengan keadaan yang baru, dan ingin membuat perubahan yang baru, menutup fikiran akan menjadi bencana besar bagi perusahaan yang Anda kelola. Saya memiliki seorang rekan karyawan, yang selalu bersikap kolot. Apa yang dia tahu, menurutnya adalah hal sebenar- benarnya. Dia hebat dalam bekerja, tapi dia telah 25 tahun memulai bisnis kecil dan bisnisnya tetap saja jalan di tempat. Sewaktu pihak manajemen di perusahaan saya mengubah posisinya ke bagian yang lain, dia mengalami masalah besar yang membuat badannya kurus dan raut mukanya dalam keadaan selalu tertekan dan murung. Dia tidak mampu menguasai bidang yang baru tersebut dengan baik. pihak Manajemen atas menyimpulkan; dia tertekan seperti itu karena dia tidak mau dan tidak bisa membuka fikirannya untuk hal yang baru. Untung perusahaan tempat saya bekerja adalah jenis perusahaan besar, sehingga dia tidak di pecat. Tapi, apabila orang seperti dia menjadi pemimpin puncak (Pemimpin, dan bukan seorang manajer) di sebuah perusahaan, pasti dalam usia dini kepemimpinannya, perusahaan tersebut akan gulung tikar. Karena orang yang kolot tidak bisa merespon perubahan yang terjadi di pasar. memang, kadang kita juga harus bersikap kolot. Bersikap keras kepala. Tapi, bukannya sama sekali tidak mau menampung pendapat lain. Saya juga sering bersikap keras kepala apabila ada rekan saya yang menyarankan saya untuk berhenti dari kegiatan bisnis, karena menurutnya hal itu sangat beresiko. Pendapat rekan saya memang saya dengar, tetapi tidak saya jalankan. Saya masih tetap dalam pendapat saya pribadi; bahwa sebuah bisnis memang beresiko. Dan itulah asyiknya bisnis –menurut saya. karena beresiko !!!.

Mampu melakukan pendelegasian tugas.
Kita sedang mengelola sebuah organisasi bisnis. Bukan usaha warung NASGOR (Nasi Goreng). Kita bekerja dengan banyak orang, bukan bekerja sendirian. Kita memerintah orang agar organisasi kita berjalan. Bukan menjalankan semua pekerjaan kita sendirian. Dan ujung dari semua itu adalah ‘ketrampilan komunikasi yang baik untuk memerintah orang lain’. Apabila kita memiliki Staff/ anak buah, lalu kita beri perintah seperti ini; “Woy, Monyet... besok kirimkan barang ke Kalimantan. Lo harus kembali dalam 3 hari karena setelah itu Loe harus mengantarkan barang lagi ke Jakarta. Kalo sampe terlambat, kamu gue tendang”. Tentu saja anak buah anda akan pergi meninggalkan anda. dan selamanya, anda tidak akan memiliki anak buah yang kompeten. Kita juga harus tahu bagaimana caranya memerintah. Kita harus tahu, bagaimana memberi motivasi, memberi penjelasan, pengarahan, batasan- batasan, deadline yang masuk akal, dll. itu adalah ketrampilan dalam pendelegasian. Jika seorang pemimpin organisasi bisnis tidak mampu mendelegasikan tugasnya, Dia tidak bisa dikatakan sebagai pemimpin Organisasi. tapi disebut sebagai pemimpin ‘self employee/ usaha sendiri’.

Mengorganisir orang.
Berbeda dengan melakukan pendelegasian tugas. Mengorganisir orang adalah upaya kita untuk menyatukan beberapa aktivitas dari orang berbeda hingga mencapai sebuah pola yang telah direncanakan. Kita sebut pola ini sebagai RENCANA UTAMA. Saya akan memberi contoh pengorganisasian orang dalam film ‘Police Academy’; Ketua perampok sedang membuat rencana merampok sebuah Bank. Anggota ‘A’, menyamar sebagai nasabah. Bertugas untuk melaporkan keadaan yang sedang terjadi di Bank yang akan menjadi target. Anggota ‘B’ bertugas menyiapkan mobil untuk kabur. Anggota ‘C’ bertugas menakut- nakuti orang- orang agar diam dan tidak ada yang keluar dari bank. Anggota ‘D’ bertugas melumpuhkan keamanan. Dan anggota ‘E’ bertugas mengisi tas dengan uang yang akan di rampok. Setelah rencana utama selesai dibuat, rencana ini juga harus diikuti dengan rencana cadangan; apa yang akan dilakukan apabila ada polisi yang datang. Apa yang harus dilakukan apabila Bank tersebut kasnya kosong, dll. setelah rencana di susun, angota ‘A’ telah bersiap sebagai nasabah dan melaporkan keadaan yang cukup kondusif untuk melakukan aksi perampokan. Langkah kedua, Anggota ‘C’ datang kedalam dan membawa senjata guna menakut- nakuti orang. Tapi, setelah masuk ke dalam bank, anggota ‘C’ malah lupa membawa senjata. Akhirnya, rencana perampokan gagal dan seluruh anggota kembali ke markasnya untuk menyusun rencana ulang dan melakukan evaluasi.

Mengorganisir dan Mengelola Sistem.
Tidak hanya orang yang harus di organisir, sistem manajemen organisasipun harus di tata dengan rapi. Seorang pemimpin bisnis harus bisa mengetahui tentang pengelolaan sistem. pengelolaan yang dimaksud adalah; mengelola setelah sistem telah di bangun. Apa yang harus dilakukan ketika rencana yang telah dibuat malah ternyata gagal, apa yang harus diperbuat ketika orang yang diberi tanggung jawab ternyata tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik. apakah kesalahan yang terjadi terletak pada orang atau keadaan. Apakah kita harus memperbaiki sistem yang salah atau menunggu kondisi yang sebentar lagi menjadi kondusif, apakah kita harus bertindak atau cukup hanya bersabar, apakah kita harus mencari anggota baru atau tetap menggunakan anggota lama, dll. semua pertimbangan- pertimbangan diatas terlihat sepele. Tapi, apabila anda baru pertama kali mengorganisir orang, sungguh... anda sulit untuk melihat permasalahan secara tajam dan realistis. Kadang, keputusan yang benar malah tidak dilakukan karena terdorong emosi. Kadang, Staff yang tidak bisa bekerja dan hanya bisa membuat kekacauan malah di pertahankan karena orang tersebut sahabat karib kita. Kadang, uang laba perusahaan malah digunakan untuk keperluan pribadi karena ada anggota keluarga sedang membutuhkan biaya rumah sakit, dll.

Ada banyak hal/ kemampuan yang harus dimiliki oleh pemimpin bisnis di masa sekarang. Yang telah saya sebutkan di atas adalah karakter pokok saja (yang penting saja). Seperti halnya sebuah saluran air dari pegunungan ke desa- desa di bawah nya. Aliran air itu bisa sampai ke desa, walaupun ada kebocoran pipa di tengah perjalanannya. Hal itu TIDAK MASALAH. Janganlah terlalu perfeksionis apabila kita berhubungan dengan banyak orang atau melakukan pengorganisasian hal yang besar seperti ini. tidak masalah apabila ada pipa yang bocor, selama aliran air ke desa masih mencukupi. Tidak masalah juga apabila ada pemimpin bisnis yang memiliki beberapa kekurangan. Namun, karakter yang saya sebutkan diatas adalah beberapa karakter pokok yang tidak bisa di tawar. Apa yang akan terjadi apabila pipa air tersebut hanya lurus dan tidak bisa di buat berkelok- kelok?. Tentu air tidak akan sampai ke desa. Apa yang akan terjadi apabila terjadi kebocoran kecil di tengah pipa yang menyebabkan air keluar?. Air tetap bisa sampai ke desa. Apa yang terjadi apabila seorang pemimpin bisnis tidak bisa memerintah orang lain?. Tentu perusahaannya akan mati karena dia tidak bisa bekerja sendirian untuk menjalankan semua unit di dalam organisasi bisnis tersebut. apa yang terjadi apabila pemimpin bisnis tersebut memakai sandal jepit ketika melakukan presentasi?. Orang- orang akan menganggapnya sebagai lelucon, tapi perusahaannya tetap jalan. Anda tidak akan menemukan orang yang sempurna atau bisa menjalankan semua syarat pokok –yang telah saya tuliskan sebelumnya diatas- dengan benar ‘SEMUANYA’. Carilah yang mendekati, karena kamu akan sangat amat kesulitan sekali untuk menemukan orang sama persis sesuai syarat yang telah di tetapkan. 

Cara pemberian perintah dari manajemen atas

CARA PEMBERIAN PERINTAH DARI MANAJEMEN ATAS.

Artikel ini berisi mengenai:
Bagaimana seharusnya manajemen atas memberikan perintah. Apa aspek yang perlu di perhatikan ketika memberikan perintah. Bagaimana prosedur/ pola pemberian perintah yang baik dan benar.


CARA PEMBERIAN PERINTAH DARI MANAJEMEN ATAS.
Di perusahaan tempat saya bekerja, ada 2 orang kepala departemen. Satu nya orang nya masih muda (30 tahun), dan yang satunya telah berumur lanjut (53 tahun). Yang muda tidak
memegang dan mengawasi peranan kerja karyawan di tingkat bawah. Dia hanya memegang struktur hierarki satu dan dua tingkatan di bawah nya. yang berumur lanjut, memegang semua peranan hingga ke struktur terbawah. Yang muda, memegang peranan departemen yang sangat besar. Yang berumur lanjut, memegang peranan sebagai kepala di departemen yang kecil. Yang muda, sebentar lagi akan di promosikan sebagai Senior manager, dan yang berumur lanjut sebentar lagi akan pensiun. Bila di lihat secara mendalam, yang muda tidak memiliki banyak kemampuan untuk memegang seluruh peranan dalam departemen nya. yang berumur lanjut, mampu menguasai semua bidang di dalam departemen nya. menurut anda, siapa dari dua orang kepala departemen tersebut yang memiliki kemampuan lebih unggul?. Silakan untuk menjawab nya sendiri. Namun menurut saya, yang muda lah yang memiliki kemampuan yang lebih baik. bila di lihat dari latar belakang nya, yang berumur lanjut mampu menguasai seluruh aspek di dalam departemen nya yang kecil karena dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun, dia sudah ada di dalam departemen tersebut. artinya, yang berumur lanjut mampu menguasai semua bidang karena dia telah sangat lama mengenal departemen yang di kelola nya. Namun, yang muda, masuk ke dalam organisasi setelah dia lulus dari perkuliahan nya pada umur 23 tahun. Dia pertama kali masuk ke dalam organisasi sebagai kepala bagian yang memimpin unit kecil, kemudian dalam kurun waktu 5 tahun, dia mampu melesat menjadi kepala departemen, dan sebentar lagi di promosikan sebagai senior manajer.

Permasalahan atas apa yang telah kita capai, bukan dari apa yang kita dapatkan. Namun, seberapa cepat kita mendapatkan nya. anda bisa bekerja keras dan menabung setiap hari, lalu pada umur 60 tahun, anda sudah mampu membeli rumah dan mobil. Atau, anda juga bisa mendirikan sebuah bisnis, yang kemungkinan dalam jangka waktu 5 tahun kemudian, anda sudah bisa membeli villa mewah dan mobil Ferrari. Dari cerita dua kepala departemen di atas, walaupun yang muda dan yang berumur lanjut sama- sama memiliki jabatan sebagai kepala departemen, namun, yang muda mampu menduduki posisi sebagai kepala departemen pada umur 30 tahun. Yang muda, yang lebih cepat melejitkan karier nya dalam perusahaan tersebut.

Kita bisa memetik sebuah pelajaran dari cerita di atas. Bahwa, bila anda tidak mempunyai waktu yang lama untuk menguasai semua aspek dalam sebuah departemen, anda tetap bisa melakukan pengelolaan departemen tersebut dengan memegang struktur hierarki di bawah anda saja. Biarkan struktur hierarki di bawah anda yang mengatur lanjutan perintah dari anda. contoh lain adalah pembentukan pasukan badai (Sturmabteilung atau S.A.) dalam organisasi partai Nazi Jerman. Pasukan badai memang di kendalikan oleh Hitler, namun pembangunan nya tidak di lakukan oleh Hitler, melainkan oleh teman seperjuangan nya yang bernama Ernest Rhoem. Salah satu mantan perwira kerajaan Prusia (Prusia adalah nama kerajaan jerman sebelum kalah dalam PD 1). Apakah Hitler tidak bisa membangun pasukan badai, sendiri?. Saya akan mengatakan, “Bisa”. Namun bila hal itu di lakukan nya, partai Nazi tidak akan bisa tumbuh dengan besar. Hitler hanya memegang peranan partai nya saja. Untuk urusan lain, di serahkan kepada orang lain yang dia percaya. Bila Hitler mengurusi urusan pasukan badai, lalu siapa yang akan mengurusi partai nya. begitu pula yang terjadi di dalam organisasi bisnis. CEO tidak memegang peranan departemen produksi, dia masa bodoh terhadap hal itu. dia tidak tahu menahu dan memang seharus nya tidak perlu tahu. Kapasitas kekuatan tenaga fikiran manusia itu terbatas. Bila semua hal di kerjakan oleh satu orang, walaupun orang tersebut hanya bertugas sebagai pemikir dan kemudian mendelegasikan tugas tersebut kepada orang lain, hal ini tetap tidak akan bisa di terapkan di dalam organisasi yang besar. Bila anda mengurusi semua masalah, fikiran anda tidak akan bisa melakukan nya. Masa bodoh dan tidak perlu tahu adalah hal yang harus di lakukan Manajemen puncak.

Saya pernah bekerja di dalam perusahaan besar. Dimana kebanyakan kepala manajemen nya adalah orang- orang yang sangat lama telah bekerja di sana. Mereka mengatakan, “tugas manajer yang baik adalah memberikan pengertian dan menuntun setiap langkah yang di lakukan oleh bawahan nya”. itu adalah kata- kata dari pihak manajemen yang telah berumur lanjut. Namun, dari obrolan pribadi yang saya lakukan dari kepala manajer saya yang masih muda mengatakan, “manajer tidak perlu memasang mata dan telinga bila dia memberikan tugas- tugas nya”. Sekilas, saya kurang setuju terhadap hal ini, lalu saya bertanya “bila tidak di tuntun pada setiap langkah, pasti akan terjadi banyak kesalahan dalam melakukan tugas yang di berikan?”. Kemudian, Manajer muda menjawab, “hal itu memang akan terjadi bila kamu memberikan tugas kepada para Badut (orang yang tidak bisa di ajak bekerja kecuali seorang atasan memberikan perintah dengan sangat spesifik dan sangat jelas). Bila kamu bekerja dengan orang- orang yang bisa di ajak berfikir, keratif dan imajinatif, kamu hanya perlu memberikan background permasalahan, tujuan akhir yang kamu inginkan, rekomendasi, batasan- batasan dan deadline. Hasil yang kamu dapatkan tidak akan pernah sesuai yang kamu inginkan. Namun dari segi kualitas dan kuantitas, akan lebih dari yang kamu harapkan”.